Masuk

Senyumlah Selama Tak Perlu Penjepit Pipi (cerpen)

Oleh : Naya Aprlilia & Noor Fajriyah H – XII IPS 1

Pagi ini, aku Cuma berbearing di ranjangku, mendengarkan musik dari earphone, dan membiarkan nyamuk – nyamuk berkeliaran menyedot darahku. Aku mengibaskan air asin yang bocor dari bendungan pelupuk mataku, beberapa kali menimpa tuts keyboard netbookku , kau tahu?? Pagi ini aku berhasil membuat rekor 10 status galau perjam, dan sumpah dua meter panjangnya di blog. Gila kan???!!! Ya, segila segala sesuatu yang datang mendadak, lalu menghancurkan kebahagiaanku dalam festival olahraga nasional besok. Iya besok!

“Ray” Mama mulai lagi dengan ritual ketuk pintu kamarku dan cemas kepadaku. Meski malas, aku tak akan membiarkan wanita lembut itu khawatir berkepanjangan, maka akupun bangkit, berpaling sebentar dari netbookku dan segala macam caci makiku dan... “Bruuukkk!!!!” Tahukah kau bagaimana rasanya saat tulang ekormu menyentuh ubin dan berbunyi, “Tuk!” yah.. mama langsung menyerbu masuk seperti burung yang dilempar biji jagung, kemudian ia membantu mendudukan ku di kursi, kursi istimewa untuk orang cacat, kau tahu lah.. “ Ray, kamu seharusnya bilang dong kalau pintunya nggak dikunci, ada yang sakit sayang???” Mama memelukku seperti bayi yang baru saja jatuh dari atas kasur. Aku melepaskan pelukan mama, “ Ray enam belas tahun ma.. lagi pula tiga hari terakhir ini rasanya sekujur tubuh Ray kaku kaya mayat, jadi biarpun Ray jatuh seribu kali, nggak akan membuat Ray kesakitan.” Lagi, aku membuat mama menangis. Dihadapanya aku seperti kuat, tapi sebenarnya aku karung basah. Aku menangis, aku mengeluh dan membawa sumpah serapah pada apapun selain pada mama. Pada mama aku tak berani mengeluh, mama sendirian, aku takut ia tak sekuat aku.

Ah, Semuanya sejak aku terjun dari lantai tiga sekolahku, tiga hari dimana aku akan mengangkat namaku dan nama sekolahku di ajang bulu tangkis nasional tingkat pelajar. Teman – teman sesama ekskul bulu tangkis dan teman – teman kelasku, datang kerumahku, bukan untuk memberiku selamat atas terpilihnya aku sebagai perwakilan sekolah diajang itu, tapi untuk memberikan buah – buahan, lalu mengucapkan semoga cepat sembuh, tetap semangat ya!.” Dan mereka pulang dengan rasa syukur karena masih diberi kesehatan. Dan saat semuanya begitu suram dalam setiap jengkal otakku, aku bertemu orang aneh yang mulutnya penuh dengan cinta, penuh harapan, dan aku mual saat itu. Yang aku tahu namanya Zen, usianya 20 tahun ia seorang motivator dan penulis buku best seller yang mengajak orang semangat hiduo bla.. bla... bla... Aku tak mengerti mengapa ia begitu terkenal, disukai banyak orang?? Apa karena ia sempurna punya hidung mancung dan kulit yang putih? Atau karena ia bisa berdiri tegak??? “ Berhentilah untuk mencoba membuatku merasa lebih baik, karena aku takkan lebih baik lagi dari ini!!” Bentakku padanya suatu kali. Ia tersenyum, menampakkan lagi wajah malaikat yang sesungguhnya meluluhkan hatiku. “Aku nggak pernah mencoba membuatmu lebih baik, bahkan tak juga mencoba membuat orang lain lebih baik, kamu tahu?? Aku Cuma bertugas membuat orang lain tersenyum selama ia tak perlu penjepit pipi..” Aku tersenyum miris. “ Kamu pikir ini lucu?” Zen terdiam dan berpura pura berfikir “ Enggak” Sejak saat itu malah lebih sering bersamanya, ia seperti abang yang ada dimana mana untukku, bahkan nyamuk saja tak pernah muncul saat aku mengaharapkanya? Sejak aku bertemu abang baruku, aku kembali sekolah meski tak lagi dijuluki bintang bulu tangkis. Tak apalah, Zen bilang “untuk menjadi bintang aku tak perlu kaki dan tangan yang sempurna, cukup punya api yang membara disini, didadaku..” tapi Zen, bahkan untuk naik tangga sekolah saja aku merepotkan... Dan sejak saat itu aku mulai bisa menerima semuanya dengan lapang dada , aku mulai menyadari seperti yang Zen  bilang bahwa rayap tak pernah minta dituntun untuk tahu betapa tanpa sepasang matapun ia bisa membangun menara. “ Tapi Zen... Tapi Zen....” dan semua tapi – tapian itu hilang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu aku mulai tak perlu lagi Zen bermulut penuh busa untuk menghentikan setiap keluh kesahku. Suatu kali, saat pulang sekolah Zen datang kerumahku dan lucunya dia dengan dua penyangga kaki di ketiaknya, “ Hei Zen, apa ini bagian dari semua hal yang kau rencanakan untuk membuat aku tersenyum tanpa penjepit pipi???” Zen tersenyum, “ Ini bagian dari hidupku... kamu tahu? Hidup tak pernah berhenti meski sebagian penting darinya tak berfungsi, hem.. kamu mengerti?? Aku mengangguk lalu tersenyum. “Enggak zen, aku nggak ngerti, sekali kali pake bahasa gaul kek ..” Suati hari nanti kamu akan mengerti”. Ya, sampai dua minggu kemudian dan aku ditugasi Bu Mela untuk mengadakan wawancara dengan pasien rumah sakit bla.. bla.. bla.. Aku tak pernah mengerti kalimat  yang diucapkan Zen terakhir kali bertemu denganku, aku tak berusaha mencarinya dan tak juga memohon minta penjelasan kalimatnya itu, tidak! Mungkin dia sibuk, mama bilang ia orang hebat, ia mungkin sibuk!. Sudahlah, jangan – jangan dia tiba – tiba alay dan saat aku memohon dia malah bilang “ Mau tau aja apa mau tau banget???” kan berabe..

Dirumah sakit, aku nampak benar seperti orang linglung, dan aku putuskan untuk bertanya pada entah siapa, yang duduk di kusi roda dan bertopi pandan yang sedang dijendela besar rumah sakit ini. “ Maaf” aku menyentuh pundaknya perlahan, takut tiba – tiba  dia berbalik dan mendorong kursi rodaku kejendela besar sampai kacanya pecah dan aku terbang seperti dulu. Tidak, ia berbalik dan tidak mendorongku, ia malah membuatku menjatuhkan papan dada dan pulpen yang ku pegang erat – erat “ Kamu??” “ Ceritakan Zen, mengapa??” aku seperti lupa hendak apa aku kerumah sakit ini, aku tak perlu mewawancarai laki – laki bertopi pandan berkusi roda itu Zen!” “ Kau sudah tau jawabanya Ray??” Zen lagi – lagi tersenyum, ia cukup membuatku terkejut setengah mati. Tiga hari kemudian aku tak pernah lagi mengharapkan kedatanganya kerumahku seperti biasa, sebenarnya aku takut, tapi aku tak bisa menampakkan betapa aku marah padanya , ia berbohong. Sepulang sekolah, aku mengunjunginya di kamar rumah sakit. Kau tahu??? Sejujurnya aku ingin tertawa melihat kepala Zen jadinya plontos seperti bakso, tapi sekarang aku ingin menangis. “ Zen, apa ini bagian rencanamu membuat aku merasa lebih baik???” Tanpa sadar aku menjatuhkan setets air mata yang begitu cepat turun secepat kejadian ini. Zen diam, selang oksigen dihidungnya bergerak sedikit pertanda Zen masih mendengar suaraku yang sedikit terisak, lalu Zen berusaha tersenyum dengan susah payah.. “Zen, mengapa kau sekuat ini?? Kau tak pernah bilang bahwa kau juga sama sakitnya dengan aku?? Padahal kalau kau bilang aku pasti akan cepat lebih baik. Zen tersenyum lagi, seperti bahkan hanya untuk menunjukkan senyum saja ia sulit, tapi aku menyadari tanpa kata – kata dan mulut berbusa, ia telah memberiku satu kalimat “ Tersenyumlah selama kau tak perlu penjepit pipi.” Maka, aku mengusap air mataku dan aku bernafas lega. Terimakasih Zen Kau aneh Zen! Kenapa kau begitu bodoh?? Kau biarkan jasadmu mati tapi kau malah meninggalkan kalimat – kalimat itu disini kau tahu? Kalimat itu takkan pernah hilang dari pikiranku selamanya, kenapa tidak kau bawa saja?? Biar suatu saat kau bisa cerita pada semua penghuni surga? Kau memang abang teraneh yang ku kenal.. tapi.. Thanks Zen, sekarang aku sudah bisa berdiri tegak.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.