Masuk

Awan VS Jingga (cerpen)

Oleh : Nurul Anisa – X IIS 3

Semilir di pagi hari, kurasa sangat sejuk, embun pagi membasahi rerumputan, hari ini adalah hari pertamaku OSPEK. Kali ini aku kembali di ejek, dan kali ini yang mengejek adalah seorang dosen. “Hey Senja,” Ia selalu memanggilku Senja, padahal namaku Jingga. “Selamat pagi semuanya, hari ini saya meminta kepada senior untuk memilih satu peserta.” Ucap dosen dengan tegas. “ Saya memilih senja, pak.” Teriak seorang dari belakang. “ Baiklah Awan, kamu bimbing dia dengan baik, jangan kamu jadikan teman kencan.” Tegas dosen, “Saya tidak akan menjadikannya teman kencan pak, tapi teman hidup. Hahaha”. ( tertawa) “Ada – ada saja kamu”, “Ayo Jingga ikut aku”. “Kemana??” Jawabku ragu, “ Nanti kamu juga tahu”. “Nggak mau ahh”, “Kamu kan sudah aku pilih, kamu harus turuti semua yang aku katakan”.
“ Terserah.” Ucapku jengkel. Setelah itu aku dan awan dekat selama beberapa bulan aku memendam perasaan terhadapnya, tetapi aku tahu kalau sudah punya pacar, yaitu Mentari.

Keesokan harinya Awan mengajakku ketemu di kampus tetapi saat aku melihatnya bersama dengan Mentari, setelah mentari pergi, aku segera menemuinya. “ Kamu ngapain sih ngajak aku ketemu??” Tanyaku. “Kenapa sih kok muka lo jelek gitu??” “Udah ahh aku pulang aja.” “Aku kan udah janji aku mau nganterin kamu pulang.” “Kalau benar kenapa kamu nemuin Mentari tadi??” “Ya, kenapa?? Mentarikan pacar aku.” “ Itu karena aku suka sama kamu.” “Tapi aku sudah nganggep kamu seperti adik sendiri.” ( Sambil memelukku.) Tiba – tiba Mentari datang. “ Apa – apaan sih kamu? Wah, kamu bilang dia sepupu kamu??”. Ucap Mentari marah. “ Aku Cuma nganggep dia seperti adik sendiri, kamu percayakan sama aku??.”  “ Tapi kenapa pake peluk?” “Kenapa kamu cemburu??, kamu sendirikan yang ngancem putus kalo aku peluk?” “ Ya, sudah aku pulang tapi inget jangan diulangi.” Tegas Mentari. Mentaripun pergi meninggalkan aku fdan Awan. “ Kalau kamu begini terus gimana aku gak jatuh cinta padamu?.” “ Ayolah jingga buang perasaan itu jauh – jauh aku kamu cukup sebagai sahabat.” “ Baiklah.” “ Itu baru adikku tersayang, tersenyumlah Jingga. Kamu sangat cantik kalau tersenyum.” “Baiklah aku akan selalu tersenyum.”

Walaupun aku tidak bisa memilikinya tetapi setidaknya aku bahagia jika orang yang aku sayang bahagia. Karena cinta tidak harus memiliki, aku beruntung karena Tuhan telah mempertemukan aku dengan Awan ia adalah penyemangat hidupku sekaligus kakak yang sangat menyayangiku.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.