Masuk

ARTIKEL - SEJARAH DESA TROSO PECANGAAN JEPARA

Sejarah Desa Troso Pecangaan Jepara

Oleh : XI MIA 2

 

Sejarah Desa Troso tidak dapat dipisahkan dari peristiwa peperangan antara Sultan Hadirin dengan Arya Panangsang yang terjadi di sebuah daerah di Kabupaten Kudus. Pada peperangan tersebut Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Panangsang. Jenazah Sultan Hadirin dibawa ke Jepara dari Kudus dipikul oleh orang (pengikutnya).

Singkat cerita, ketika para pemikul jenazah sampai di suatu tempat, mereka telah menghirup bau yang busuk. Sehingga daerah tersebut diberi nama Desa purwogondo, dimana dalam bahasa jawa "purwo" berarti permulaan dan "gondo" yang berarti bau busuk. Sesampainya di Pecangaan para pemikul jenazah tersebut sudah sangat lelah, suatu tempat dimana para pemikul jenazah merasa kelelahan tersebut yang kemudian diberi nama Troso dari kata awal Terasa (merasa lelah) selanjutnya di sebelah barat daerah tersebut para pemikul teringat dengan pengabdian yang harus dilaksanakan sehingga sekarang dinamakan Ngeling yang berasal dari kata Eling yang berarti ingat.

Desa Troso pertama kali ditempati oleh Mbah Senu/Ki Senu yang sekarang makamnya berada di makam dowo tepatnya di sebelah selatan pemakaman umum Nogosari atau orang desa troso sering menyebut di bawah pohon randu alas. Sedangkan penyebaran agama islam di Desa Troso konon dibawa oleh Mbah Datuk Gurnadisingorojo. Awal masuk di Jepara Mbah Datuk terlebih dahulu menyebarkan agama di Desa Kerso Kecamatan Kedung. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya masjid wali yang ada di desa tersebut.

Setelah itu, mbah datuk kembali menyebarkan agama islam di Troso. Seperti halnya di Kerso, Mbah Datuk di Troso juga mendirikan masjid besar yang sekarang dikenal dengan nama masjid datuk ampel. Setelah itu, beliau melanjutkan dakwah ke daerah Mayong yang akhirnya desa tersebut diberi nama Singorojo.

Menurut masyarakat Desa Troso, Kerso dan Singorojo memberikan sebuah julukan ''Gurnadi'' yang berarti memanggil atau guru ngaji. Setiap tahun tepatnya jum'at wage setiap Bulan Muharrom masyarakat Kerso, Troso, dan Singorojo serta daerah sekelilingnya tanpa dikoordinasi selalu melakukan haul. Hal tersebut merupakan wujud balas budi terhadap Mbah Datuk yang telah menyebarkan agama islam.

Di Troso sendiri, penyebaran agama dimulai dari daerah sebelah selatan, dan pada waktu itu daerah sebelah utara masih hutan. Sehingga sampai sekarang orang yang berada di sebelah utara masih disebut orang ngalas.

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.