Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Lelaki yang Memaki Tuhan

MAMHTROSO.COM -- Datang ke rumah saya, pada suatu siang yang gerah, seorang lelaki dengan wajah yang hendak “runtuh”, dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kemarahan yang besar sekaligus ketakutan yang besar.

Itu salah satu “model” dari salah satu “tipe” tamu-tamu saya, di samping sahabat-sahabat lain yang menyenangkan, yang datang membawa kabar baik, kegembiraan, atau datang untuk mentraktir rasa lapar saya.

Semua saya cintai. Semua, sebisa-bisa saya sambut dengan partisipasi dan empati.

Lelaki itu, yang datang dari kota berjarak 300 km dari Yogyakarta, adalah seorang sarjana, seorang pegawai negeri. “Sudah beberapa kali saya berpikiran akan bunuh diri, meskipun alhamdulillah belum pernah saya laksanakan,” katanya, mengagetkan saya.

“Masa kanak-kanak saya normal seperti anak-anak lain. Tetapi, mulai 9 tahun, saya mulai merasakan konflik kejiwaan yang dahsyat. Saya mulai terbiasa memaki-maki Tuhan. Makin saya menghayati kehidupan, makin saya menjumpai hal-hal yang tak saya setujui. Saya tidak tahan menyaksikan kesengsaraan. Padahal, seluruh kehidupan ini sudah diskenariokan oleh Tuhan. Saya tidak mengerti untuk apa Allah menciptakan kesengsaraan. Kalau memang Tuhan itu ada dan berkuasa atas segala sesuatu, mengapa tidak Dia ciptakan kebahagiaan dan kesejahteraan saja, dan tak usah penderitaan dan kesengsaraan. Saya tidak tega….”

Ia bercerita panjang lebar. Ia mengemukakan berbagai kegelisahan yang aneh-aneh, yang menyangkut keadilan, kebenaran, penindasan, takdir Tuhan, idaman perdamaian, serta apa-apa saja. Ia begitu takut pada neraka. Ia berhenti merokok karena takut menyalakan korek api sebab api mengingatkan ia pada dahsyatnya api neraka. Ia tidak mengerti mengapa Tuhan membuat neraka segala macam, mbok ya surga saja. Kalau memang Tuhan adil, tak usahlah Dia biarkan sekian banyak orang sengsara sampai sekian lama. Sampai setiap orang sakit jiwa pada stadium masing-masing. Di setiap kantor dan tempat merundingkan nomor buntut. Di setiap ruangan orang mencari kamuflase, mencari pelarian, mencari hiburan-hiburan pragmatis dari kesengsaraan yang amat panjang. Ia bahkan melihat orang yang sengsara bukan hanya orang-orang yang melarat, melainkan juga banyak orang kaya yang hidupnya sangat sengsara. Ia tak kuat menyaksikan itu semua. Ia pergi mencari ulama-ulama, tetapi setelah bertemu justru tambah bingung karena ia dihadapkan dengan dogma-dogma dan ancaman kafir musyrik dan lain sebagainya. Ia pergi ke psikiater, tetapi tak memuaskannya karena ia berkesimpulan para ahli psikologi hanya mengetahui gejala kejiwaan, tetapi tidak mengerti jiwa. Dan, seterusnya dan seterusnya.

Dialog kami hampir memakan waktu dua jam.

Setelah membiarkannya menuntaskan segala yang ingin ditumpahkan, lantas saya menanggapinya dengan penuh kemarahan dan dengan suara gemetar.

“Anda, kok, berani-beraninya mau bunuh diri segala.” Saya tuding mukanya. “Anda hendak mengkhianati cinta saya kepada Anda! Kalau Anda bunuh diri, lantas saya bagaimana? Mengapa Anda meninggalkan saya? Kok, tega-teganya Anda menganggap enteng cinta kasih saya kepada Anda! Anda pikir saya hanya mencintai orang-orang yang sudah saya kenal? Kalau Anda sampai bunuh diri, saya akan bilang sama Tuhan: Ya Allah, ada lelaki yang tega hati mengkhianati kita! Dia egois dan mementingkan dirinya sendiri! Dia mau mencari kepuasan pribadi! Dia tidak mau merasakan bahwa saya akan sangat merasa sedih kalau ia bunuh diri. Saya akan sangat marah besar! Kalau Anda bunuh diri, saya akan kejar-kejar roh Anda dan akan saya cabik-cabik, saya tuntut, saya tagih….”

Mata saya memelotot. Sorotnya saya bikin sedemikian rupa sehingga mampu menembus ruang asing di dalam jiwanya. Otot-otot di wajah saya menegang. Punggung saya maju dari kursi. Dengan kata-kata saya meluncur tanpa pause,saya cengkeram tengkuknya, saya angkat seluruh tubuh dan jiwanya ke ruang kosong di awang-uwung.

“Anda telah meletakkan diri Anda sebagai Tuhan! Anda mencuri hak Allah untuk menentukan kelahiran dan kematian. Saya sama sekali tidak terima itu! Kalau Anda memang hendak menentukan kematian Anda, mengapa dulu Anda tidak menentukan kelahiran Anda? Mengapa Anda memilih menjadi Anda dan tak memilih menjadi orang lain saja? Mengapa Anda memilih lahir di sini dan tidak di sana? Kenapa Anda tidak memilih menjadi saya, sehingga siang ini menerima tamu seorang lelaki yang bingung, marah, dan ketakutan? Sekali lagi, kalau Anda sampai bunuh diri, roh Anda akan saya kejar dan akan saya tampar dengan seribu kali kematian! Saya akan umumkan kepada semua makhluk bahwa saya menyesal mencintai seorang yang ternyata sangat lemah padahal sesungguhnya ia kuat, seseorang yang merasa sengsara padahal ia lebih besar daripada kesengsaraan, seseorang yang bisa diombang-ambingkan oleh kebingungan padahal sesungguhnya ia sanggup berdiri tegak, seseorang yang ternyata hanya buih yang terhanyut-hanyut padahal sebagai manusia ia adalah pengendali gelombang, seseorang yang malas dan pengecut padahal sebagai makhluk yang potensinya lebih tinggi dibanding jin dan malaikat sebenarnya ia merupakan wakil Tuhan untuk mampu mengendalikan apa saja — apalagi sekadar gejala-gejala picisan dalam jiwa manusia seperti rasa marah, takut, bingung, stres….”

Kata-kata saya tumpah menjadi gurun pasir yang menimbuninya.

Lelaki itu bengong.[]

https://www.caknun.com/2019/lelaki-yang-memaki-tuhan/

 

Where to Put My Hands in Prayer?

Question:

Where should a praying person put my hands in prayer?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- While standing in Prayer, one should basically place his right hand over his left forearm.

2- Scholars have different views as to where to place both hands. Most reports from the Prophet recommend placing both hands on the chest.


Answering your question about placing hands in prayer, Dr. Muhammad Salama, PhD, Islamic Studies in English, Associate Professor at the Faculty of Islamic Sciences al-Madinah International University (Mediu), states: 

While standing in Prayer, one should basically place his right hand over his left forearm. Sahl ibn Sad, one of the Prophet Muhammad’s Companions, is reported to have said, “People were commanded that a man should place his right hand over his left forearm in Prayer.” (Al-Bukhari)

Authentic reports that describe the Prayer of Prophet Muhammad (peace be upon him) prove that he used to place his right hand over the left one. The majority of scholars, thus, consider this as one of the recommendable acts in Prayer.

Nevertheless, scholars have different views as to where to place both hands- above or below the belly button or on the chest?

Each of the three positions finds favor with a group of jurists who support their opinion with a report attributed to the Messenger of Allah.

But all the reports in this regard proved to be of doubtful authenticity, though the collectivity of the reports that attest to placing both hands on the chest gives this opinion more weight over the others.

Almighty Allah knows best.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/prayer/where-to-put-my-hands-in-prayer/

 

Rusaknya Hati Nusibah Terbesar Orang Beriman

MAMHTROSO.COM -- Rusaknya hati merupakan musibah terbesar bagi orang yang beriman. Sebab, rusaknya hati akan merusak semua kebaikan yang telah kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda, "Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal daging. Apabila dia baik maka jasad tersebut akan menjadi baik, dan sebaliknya apabila dia buruk maka jasad tersebut akan menjadi buruk. Ketahuilah segumpal daging tersebut adalah kalbu, yaitu hati" (HR Bukhori).

Oleh karena itu, wajib bagi kita menjaga hati agar tetap baik dan berupaya mengobatinya bila rusak. "Obatilah hatimu karena kebutuhan Allah kepada hamba-Nya terletak pada baiknya hati" (Hilyah Auliya 2/157, lihat Ma'alim fi Suluk wa Tazkiyah Nufus hal 70).

Salah satu cara agar hati kita tidak rusak adalah dengan mencari tahu perkara-perkara yang bisa merusak hati. Karena, bagaimana kita bisa menghindari hal-hal yang merusak hati jika kita tidak mengetahui perkara-perkara yang bisa merusaknya?

Dalam kitab Nashaihul 'Ibad karya Ibnu Hajar Al Asqolani disebutkan bahwa Hasan Al-Bashri pernah berkata, "Rusaknya hati itu disebabkan oleh enam hal; sengaja berbuat dosa dengan harapan kelak tobatnya diterima, mempunyai ilmu, tapi tidak mengamalkannya, beramal tapi tidak ikhlas, memakan rezeki dari Allah SWT, tapi tidak bersyukur, tidak ridha dengan pemberian Allah SWT, dan menguburkan jenazah, tapi tidak mengambil pelajaran darinya."

Semua perbuatan itu menjadi perusak hati karena orang yang berbuat dosa dengan harapan tobat yang akan dilakukannya kelak akan diterima oleh Allah akan menjadikan hatinya semakin hitam karena ia hanyut dalam kubangan dosa.

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertobat; niscaya noda itu akan dihapus. Namun, jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, "Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka" (QS al-Muthaffifin: 4) (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).

Begitu pula dengan orang yang memiliki ilmu, tetapi meninggalkan amal akan menjadikan hatinya diliputi dengan kesombongan. Rasulullah SAW Bersabda: "Bahaya mengerti adalah sombong." Adapun beramal, tapi tidak ikhlas bisa menjadi perusak hati karena ketidakikhlasan akan menyebabkan dirinya dirasuki kemusyrikan baik khofi maupun jali.

Begitu pula dengan memakan rezeki Allah, tapi tidak besyukur, ia akan menjadikan hati kita ingkar nikmat. Allah SWT berfirman, "Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS 14: 7). Sementara, tidak ridha dengan pembagian Allah akan merusak hati karena perbuatan tersebut akan menjadikan dirinya buruk sangka kepada Allah SWT. Dan ketidakmampuan mengambil pelajaran dari kematian seseorang akan menjadikan hatinya keras membatu.

Semoga kita semua diberi kemampuan oleh Allah SWT untuk bisa menjaga hati kita dari sesuatu yang bisa merusaknya dan Allah SWT menetapkan hati kita ada dalam agamanya. "Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agamamu" (HR Tirmidzi). Amin. Wallahu a'lam. 

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1shij313/rusaknya-hati-nusibah-terbesar-orang-beriman

Makna Surga di Telapak Kaki Ibu

MAMHTROSO.COM -- Seorang ibu memiliki jasa yang tidak bisa dibandingkan dengan apa pun kepada anaknya. Lantas, bagaimana anak bisa membalas kasih ibu, meski hanya seujung kuku?

Keutamaan ibu bahkan tersampaikan di salah satu hadist Rasulullah: "Aljannatu tahta aqdamil-ummahat,". Yang artinya: "Surga terletak di bawah kaki ibu."

Adapun perawi-perawi yang meriwayatkan hadist itu antara lain Imam Abu Bakar Asy-Syafi’i di dalam kitab ‘Ar-Ruba’iyyat, Imam Abu Asy-Syaikh di dalam kitab Al-Fawaid, Imam Al-Qudha’i di dalam kitab Musnad Asy-Syihab, dan Imam Ad-Daulabi dari jalur sahabat Anas bin Malik. Begitu pula dengan Imam Al-Khathib meriwayatkannya di dalam kitab Al-Jami’ Li Akhlaq Ar-Rawi dan Imam Suyuthi di dalam kitab Al-Jami’ As-Shaghir.

Masih terdapat beberapa perawi hadis yang juga meriwayatkan tentang hadis tersebut menurut para ulama dan sejumlah pakar. Salah satu perawi yang disinggung adalah Manshur dan Abu An-Nadhr yang tak diketahui identitasnya. Akibat ketiadaan informasi mengenai dua perawi tersebut, hadis ini secara sanad dihukumi hadis dhaif (lemah).

Namun secara esensi, makna hadis ini dihukumi shahih. Apalagi terdapat hadis-hadis pendukung tentang pentingnya berbakti kepada ibu dari sejumlah perawi hadis yang kredibel dan terpercaya.

Begitu landasan anjuran berbakti kepada ibu telah kuat, para anak pun tak luput dari ganjaran pahala jika berbakti. Imam Hasan Al-Bashri bahkan pernah memberikan predikat pahala lebih tinggi membahagiakan ibu oleh anak, dari pahala melaksanakan ibadah haji yang sunnah.

Hal itu sebagaimana yang dijabarkan dalam kitab Athayib Al Jana. Saat itu Hisyam bertanya kepada Imam Hasan Al-Bashri ketika dirinya gamang memilih antara belajar Alquran dan di saat bersamaan sang ibu menunggunya untum makan bersama. Hal ini kemudian dikonsultasikan Hisyam kepada Imam Hasan Al-Bashri.

Maka, beliau pun menjawab: "Makanlah bersama ibumu, sesungguhnya membahagiakan hati ibumu itu lebih utama daripada (pahala) haji yang sunnah."

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1tt52282/makna-surga-di-telapak-kaki-ibu

  • Diterbitkan di Oase
  • 0
Berlangganan RSS feed