Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Muhajir Ummu Qaes, Berhijrah Demi Wanita

MAMHTROSO.COM -- Setiap amal perbuatan akan diganjar pahala apabila diniatkan karena Allah SWT bukan sebab perkara lain. Seperti bunyi hadist berikut yang menceritakan kisah hijrah seorang lelaki demi Ummu Qaes.

''Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,'Segala Amal perbuatan hendaklah dengan niat, dan seseorang hanya mendapatkan balasan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka (balasan) hijrahnya itu sesuai apa yang diniatkannya'.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Habib Zein Al-Hiyyed, guru majelis taklim di Tegal, Jawa Tengah menyampaikan sebab hadist di atas. Hadist tersebut lahir ketika ada seseorang lelaki yang berhijrah karena niatan ingin menikahi seorang wanita, bukan niat hijrah karena Allah dan Rasul-Nya.

Ibnu Mas'ud RA berkata bahwa ada seseorang lelaki ingin melamar seorang perempuan yang dikenal dengan nama Ummu Qaes. Perempuan tersebut menolak dan memberi syarat untuk menikahinya.

Syaratnya yakni lelaki tersebut harus berhijrah terlebih dahulu ke Madinah. Dia pun akhirnya berhijrah dan kemudian menikahi Ummu Qaes.

''Para sahabat RA tidak menyebutkan nama lelaki tersebut untuk menutupi hal yang tidak bagus dari seorang muslim, walaupun sebenarnya sesuatu yang dilakukan adalah mubah dan bukan haram,'' kata Habib Zein.

Lelaki tersebut dikenal dengan sebutan "Muhajir Ummu Qaes" karena niatnya berhijrah dari Mekah ke Madinah untuk menikahi perempuan yang dicintainya. Lelaki itu berhijrah bukan untuk mendapatkan pahala berhijrah bersama Nabi Muhammad SAW.

https://republika.co.id/berita/qmagu6257/emmuhajir-ummu-qaesem-berhijrah-demi-wanita

 

Jangan Ludahi Wajah Manusia

MAMHTROSO.COM -- Pagi tadi saya kirim teks WA kepada yang sedang berkuasa di Jakarta: Njaluk tulung kondho arek2 ojo nemen2 lho. Yokyokopo wong iku yo syahadat yo shalat yo niate apik masio carane gak bijaksana. Umpomo wong sing kok tahan iku Setan, elingo nek Polisi dudu Malaikat lho. Pemerintah berkuasa atas Indonesia, tapi tidak berkuasa atas kehidupan, nasib, min haistu la yahtasib keluarga kita, anak istri kita. Innallaha ‘ala kulli syai`in Qadir. Masio iso nangkep maling ndik kampung, diukum ae, ojo sampak diidoni. Di atas kebenaran ada kebaikan. Puncak pencapaian kebenaran dan kebaikan adalah martabat. Puncak martabat adalah kemuliaan. Wong iso salah, tapi menungsone tetep duweke Allah.

Alhamdulillah dijawab: “Leres Cak. Saya forward nang arek-arek”. 

Dalam hidup ini pasti yang kita bela adalah martabat manusia dan muru`ah kemanusiaan. Kita berpihak kepada Tuhan dengan menyayangi semua makhluk-Nya, terutama ummat manusia. Berjuang mencapai kebersamaan, persatuan dan kesatuan, karena Allah sendiri mengkonsep ummat manusia adalah “ummatan wahidah”. 

Jasad manusia adalah petilan amat kecil dari wujud Allah itu sendiri. Sekecil apapun manusia, ia adalah maujud Tuhan. Bahkan ketika ada manusia lapar, Tuhan berempati dengan meletakkan diri-Nya pada orang lapar itu. “Wahai hamba-Ku, Aku lapar engkau tak memberi-Ku makan. Aku haus, engkau tak memberi-Ku minuman. Aku kesepian, engkau tak menyapa-Ku”.

Maka kita pun membalas empati-Nya: kalau engkau meludahi wajah manusia, engkau meludahi wajah Allah. Meskipun manusia itu maling, perampok, bandit, koruptor atau apapun — jangan ludahi wajahnya. Kalau tak bisa kau pahami bahwa wajah manusia adalah wajah Allah, sekurang-kurangnya engkau pahami wajah manusia adalah karya Allah. Engkau tidak rela lukisan karyamu, makanan masakanmu, atau lembaran fotomu, diludahi oleh siapapun.

Di dalam perjuangan hidup setiap manusia, pancer-nya adalah Allah. Bahkan wujud manusia dikabarkan merupakan semacam replika dari wujud Allah sendiri. Sehingga setiap perilaku, aktivitas dan aktualitas manusia tidak punya kemungkinan lain kecuali merepresentasikan Allah. Maka jangan sekali-sekali menyakiti Allah dengan meludahi wajah-Nya. Jangan memperhinakan-Nya, seberkuasa apapun engkau di muka bumi. Wajah semua manusia dan setiap manusia adalah wajah Allah itu sendiri.

https://www.caknun.com/2020/jangan-ludahi-wajah-manusia/

 

Revolusi Mental sekaligus Revolusi Akhlak

MAMHTROSO.COM -- Bahkan salah seorang tokoh aktivis Ma-Lima itu pada tahun-tahun berikutnya hingga sekarang saya melihat dan mengalami langsung sehari-hari dia dibimbing Allah untuk berhusnul-khatimah “minadl-dlulumati ilan-nur”. Hidup berkeluarga dengan perjuangan sakinah dibarengi cobaan dan ujian-ujian dari Allah, berkeseharian santri, berbudaya akhlaqul karimah, ber-bebrayan sangat baik, sangat menjaga mulut dan perilaku, dan relatif memenuhi syarat sebagai manusia Jawa-Muslim. Artinya yang berakar kultur Jawa dikawinkan dengan syariat dan akhlak Islam.

Dia berpendidikan tidak sampai selesai SMP, lahir dari keluarga miskin, dibesarkan oleh lingkungan yang kumuh dan “tidak Islami”. Sekarang saya berani mengatakan bahwa ia menjalani tasawuf atau semacam kebatinan rohaniah Islam yang tidak berkilai-kilau namun istiqamah. Dia sangat baik sebagai manusia, cukup muthi’ sebagai muslim, kelas satu nasional sebagai aktor teater, ketekunan dan kesetiaan nilainya prima, kerajinan belajar nilai-nilai kehidupan tak pernah surut, sangat rendah hati dan setahu saya tidak pernah berbohong, tidak punya kecenderungan membesar-besarkan dirinya, malah selalu merasa “kurang dan belum”.

Tatkala Bantul dan Yogya ditimpa bencana gempa besar, KiaiKanjeng dan personel-personel Markas pusat Maiyah sibuk menolong masyarakat, menyebarkan santunan dan mengupayakan bangunan sejumlah rumah – orang yang saya ceritakan ini termasuk yang paling sibuk. Padahal ternyata rumahnya sendiri terkena dampak gempa, tetapi ia tidak menginformasikannya. Ibarat seorang yang mengupayakan makanan untuk orang-orang lapar, sementara ia sendiri kelaparan dan tidak bilang-bilang. Untung akhirnya kami “ngonangi” keadaannya melalui suatu kejadian.

Saya sendiri tidak pernah sanggup meletakkan diri pada derajat kemuliaan sebagaimana dia. Kalau orang kaya menolong orang miskin, kalau orang berpunya menyantuni orang tak punya, kalau orang sehat mengurusi orang sakit, itu semua kebaikan, tetapi belum tentu sampai ke derajat kemuliaan. Tetapi mantan tokoh Aktivis MLM ini mengalami Revolusi Akhlak sekaligus Revolusi Mental yang kami semua sangat bersyukur dan membanggakannya.

Akhlak adalah tata nilai sosial yang menata mental manusia ke dalam dirinya sekaligus keluar dirinya. Akhlak adalah panduan menuju kebaikan dari keburukan, menata kemashlahatan dari kemudlaratan, menata keseimbangan dari ketimpangan. Ketertataan dan keberlakuan akhlak tercermin atau teraplikasi pada mental manusia. Dan orang yang saya kisahkan ini sangat nyata, terasa dan tampak mengalami perubahan revolusioner pada hidupnya karena dialektika dan komplementasi antara akhlak dengan mentalnya.

Hidupnya selalu dan sangat waspada. Bergurau sekadarnya. Tidak pernah keluar dari mulutnya hal-hal yang tidak bisa dipertanggungjawabkan prinsip nilainya. Ia pendiam. Tidak gegap gempita. Ia tidak tampil gagah, apalagi gemagah, meskipun mentalnya sangat pemberani. Kesehariannya dalam pergaulan tidak ada yang istimewa, padahal riwayat perjuangan batinnya luar biasa. Pada tahun-tahun awal saya mengenalnya di era Dipowinatan, ia dikenal paling bersahaja dalam berpakaian. Belum pernah saya menjumpainya memakai sepatu, selalu hanya sendal hitam tebal yang terbuat dari karet ban motor atau mobil, padahal ia sudah keliling berpuluh-puluh kota sedunia bersama KiaiKanjeng.

Ia, sebagaimana mayoritas anggota komunitas kaum muda Dipowinatan, termasuk para pemusik di musik-puisi Dinasti, bukanlah “kaum terpelajar”. Di saat-saat itu saya belum pernah mendengar bahwa seseorang pamit latihan musik atau teater karena sedang pergi kuliah di kampus X, apalagi kabar bahwa ada yang diwisuda. Ia dan mereka adalah “anak-anak kampung”, yang bersekolah di alam, kehidupan dan Tuhan.

Sebagaimana muatan puisi yang dipuisi-musikkan oleh mereka untuk tanggal 16 Desember 2020 itu:

Tuhan aku berguru kepadamu
Tidak tidur di kereta waktu
Tuhan aku berguru kepada Mu
Meragukan setiap yang kutemu
Kelemahan menyimpan berlimpah kekuatan
Buta mata menganugerahi penglihatan
Ketika aku tahu, terasa betapa tak tahu
Waktu melihat betapa penuh rahasia
Gelap yang dikandung oleh cahaya

Berproses belajar langsung dalam kehidupan dengan meningkatkan diri melalui “meragukan setiap yang kutemu”. Berkelemahan individual maupun sosial, namun justru di situ mereka menemukan kekuatannya. Mengembarai pengalaman hidup dengan bergelimang berbagai jenis kegelapan, namun menjadi terlatih menemukan sumber cahaya dan belajar memancarkannya. Ternyata “setiap satu mengandung seribu”. Ternyata jelas bahwa “buta mata menganugerahi penglihatan”, “Ketika aku tahu, terasa betapa tak tahu”. Bahkan kehidupan mengandung ironi kenyataan bahwa “Waktu melihat, betapa penuh rahasia gelap yang dikandung oleh cahaya”.

 

https://www.caknun.com/2020/revolusi-mental-sekaligus-revolusi-akhlak/

 

Hayya ‘Alal Qital

MAMHTROSO.COM -- Semakin banyak Jamaah yang melantunkan adzan dan iqamah yang ditambahi “Hayya ‘alal Jihad” mengganti “Hayya ‘alas-Shalah”.

Kita bisa melihatnya dari (1) Perspektif syariat dan fiqih. (2) Dari perspektif sosial politik. Dan (3) Perspektif (katakanlah) Langit.

Secara fiqih, hayya ‘alal jihad tidak lazim karena bukan demikian ajaran dan tradisi baku sejak Rasulullah Saw. Maka lazim juga andaikan ada Ulama yang menyebutnya melanggar syariat, bid’ah atau bahkan sesat. Memang “shalat” bisa dikontekstualisasikan menjadi jihad, bahkan menjadi qital atau harb. Jadi bunyinya bisa “Hayya ‘alal qital”. Mari berperang.

Secara sosial politik, Kaum Muslimin dan nilai-nilai Islam memang sudah sangat lama, tidak hanya berdekade-dekade tapi mungkin berabad-abad: merasa ditindas, dianiaya, disakiti, diinjak-injak. Sebagian dari antara mereka ada yang tidak tahan, sehingga berteriak, meledak, mengamuk, ada yang dengan pedang atau senjata rakitan, ada yang dengan kalam atau lidah seperti perubahan adzan itu.

Kalau perspektif pandangnya kita perluas, kita temukan spektrum di mana subjek-subjeknya sangat banyak: globalisasi, penjajahan Dajjal dan Ya’juj Ma’juj, imperialisme, kapitalisme global, amr dan iradah Allah Swt sendiri dst.

Sampai-sampai seorang teman kirim WA ke saya: “2 tahun lalu petunjuk langit sudah tak sampaikan. Peradaban baru mempersyaratkan kematian separuh penduduk dunia karena wabah penyakit, paten pinaten (bunuh-bunuhan dan perang), bencana alam (gempa, tsunami, gunung meletus, longsor, banjir, tanah ambles dlsb)”.

Tidak ada yang mengherankan dari perilaku manusia, peristiwa alam maupun kemauan Tuhan. Kita semua hanya bisa terus bernapas, berjalan, bekerja, dengan bismillahirRahmanirRahim.

https://www.caknun.com/2020/hayya-alal-qital/

 

 

Berlangganan RSS feed