Masuk

Dari Meriam Sampai Nasi Jaha, Lebaran Unik di Indonesia

KOMPAS.com - Apapun agamanya, Lebaran telah menjadi tradisi perayaan bagi seluruh masyarakat Indonesia. Apalagi setiap daerah memiliki kekhasannya masing-masing dalam merayakan hari raya tersebut.

Beberapa daerah merayakan Idul Fitri dengan festival-festival unik. Sebagian besar malahan merupakan ritual yang berusia sudah sangat tua. Sayangnya, beberapa tradisi sudah mulai ditinggalkan. Oleh karena itu, sangat layak jika festival-festival tersebut menjadi agenda wisata Indonesia agar dapat terus lestari.

Seperti di Bengkulu yang memiliki tradisi "Bakar Gunung Api". Suku Serawai melakukan tradisi tersebut secara turun temurun selama beratus tahun. Ritual "Bakar Gunung Api" dilaksanakan dalam rangka menyambut Idul Fitri. Oleh karena itu, ritual pun biasa dilakukan di halaman rumah saat malam takbiran atau setelah shalat Isya.

Dalam ritual, batok kelapa disusun seperti tusuk sate sehingga bentuknya menjadi tinggi menjulang, kemudian batok kelapa dibakar. Ada nuansa magis saat melihat api yang membumbung. Batok kelapa ini menjadi simbol ucapan syukur kepada Tuhan dan juga doa bagi arwah keluarga agar tentram di dunia akhirat.

Sementara itu, di Dompu, Nusa Tenggara Barat, dikenal tradisi membakar ilo sanggari atau lentera. Lentera dipasang di sekeliling rumah. Tradisi ini sudah mulai jarang dilakukan karena perkembangan lampu sebagai penerangan modern.

{phatfusionslideshow images/stories/slideshow_artikel/idulfitri/keraton.jpg; images/stories/slideshow_artikel/idulfitri/meriam2.jpg; images/stories/slideshow_artikel/idulfitri/pura.jpg;}

Lentera tersebut dibuat dari bambu dan dililit minyak biji jarak. Kemudian masyarakat memasangnya di sekeliling rumah lalu dibakar. Ilo sanggari dinyalakan untuk menyambut Idul Fitri. Penduduk setempat percaya dengan menyalakan lentera, malaikat dan roh leluhur akan datang dan memberikan berkah di hari Idul Fitri.

Serupa dengan tradisi di Dompu, di Gorontalo terdapat festival Tumbilotohe. Masyarakat setempat memasang lampu sejak tiga malam terakhir menjelang Idul Fitri.

Tradisi memasang lampu tersebut awalnya untuk memudahkan warga memberikat zakat fitrah di malam hari. Kala itu, lampu terbuat dari damar dan getah pohon. Seiring waktu, lampu diganti dengan minyak kelapa dan kemudian beralih menggunakan minyak tanah.

Tradisi ini sudah berlangsung sejak abad ke-15 M. Kini, lampu yang dipasang hadir dalam berbagai bentuk dan warna. Lampu dipasang tak hanya di rumah, melainkan di kantor, masjid, hingga sawah.

Beralih ke Lombok, Nusa Tenggara Barat, para suku Sasak memiliki tradisi yang disebut Lebaran Topat. Tradisi ini baru dilaksanakan seminggu setelah Idul Fitri. Saat itu, masyarakat suku Sasak akan saling bersilahturahmi dan berziarah.

Hanya saja di Pura Lingsar yang berlokasi di Lombok Barat terdapat tradisi unik yaitu Perang Topat. Masyarakat sekitar pura akan saling melempar ketupat. Mereka percaya dengan melakukan ritual tersebut, Tuhan akan mengabulkan doa mereka.

Sedangkan di Pontianak, Kalimantan Barat, terdapat tradisi yang sudah dilakukan sejak lebih dari 200 tahun yang lalu. Festival tersebut disebut sebagai Festival Meriam Karbit.

Meriam karbit merupakan meriam besar dengan diameter lebih dari 30 sentimeter dan terbuat dari kayu. Meriam tersebut dipasang di tepian Sungai Kapuas. Saat meriam dinyalakan, suara dentuman keras akan terdengar membahana. Awalnya, meriam tersebut dibunyikan untuk mengusir kuntilanak. Kini, meriam itu dibunyikan untuk menyambut Idul Fitri.

Di Yogyakarta, tradisi Grebeg Syawal sudah sangat terkenal. Grebeg Syawal merupakan sebuah ritual Keraton Yogyakarta dalam memperingati Idul Fitri yang dilangsukan tepat pada 1 Syawal.

Masyarakat setempat percaya, Gunungan Grebeg membawa berkah dan ketenteraman. Upacara tersebut diawali dengan keluarnya Gunungan Lanang (Kakung) dan dibawa ke Masjid Gede Keraton Ngayogyakarta untuk didoakan.

Gunung Lanang terbuat dari sayur-sayuran dan hasil bumi lainnya. Gunungan tersebut dikawal oleh prajurit keraton. Nantinya, masyarakat berebutan mengambil hasil bumi yang terdapat di gunungan. Tradisi ini pun sudah berlangsung secara turun temurun.

Lebaran tak bisa lepas dari acara makan-makan. Di Sulawei Utara, masyarakat Motoboi Besar melakukan tradisi Binarundak atau memasak bersama-sama nasi jaha. Tradisi ini dilakukan tiga hari setelah Idul Fitri.

Sebenarnya, tradisi Binarundak tergolong baru dan terinspirasi dari tradisi Lebaran Ketupat yang dilakukan di Minahasa dan Gorontalo. Hanya saja dalam Binarundak, bukan ketupat yang dimakan, melainkan nasi jaha.

Nasi jaha merupakan makanan khas Sulawesi Utara yang terbuat dari beras ketan, santan, dan jahe. Campuran ini kemudian dimasukan ke dalam batang bambu yang telah dilapisi daun pisang. Bambu lalu dibakar dengan serabut kelapa.

Dalam perayaan tersebut, bambu-bambu dibakar di jalanan atau lapangan. Saat matang, nasi jaha dinikmati beramai-ramai oleh para perantau yang pulang bersama masyarakat setempat. Acara makan bersama pun menjadi ajang silahturahmi sekaligus sebagai ucapan syukur kepada Tuhan.

Tradisi makan-makan pun dikenal di kalangan "nyama Selam" di Bali. Nyama selam yang artinya saudara dari kalangan Muslim, merupakan sebutan khas penduduk Bali yang mayoritas Hindu kepada kerabat sekampung yang beragama Islam.

Salah satu tradisi yang kental dilakukan nyama Selam adalah "ngejot" yang sudah berlangsung secara turun temurun. Tradisi ini juga menyiratkan keindahan toleransi beragama.

Menjelang Idul Fitri, warga Muslim akan melakukan "ngejot" atau memberikan hidangan kepada masyarakat sekitarnya, tidak peduli apapun agamanya. Tradisi ini sudah dilakukan sejak masa kerajaan dan hampir dapat ditemukan di sebagian besar daerah di Bali. Biasanya, umat Hindu akan memberikan balasan dengan melakukan "ngejot" kepada warga Muslim di hari Nyepi atau Galungan.

Sumber: http://www.kompas.com/

Terakhir diperbarui pada Senin, 05 September 2011 11:14

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.