Masuk

Ketika Akal Telah Sempurna

Menjaga lisan sungguh penting. Akibat salah ucap, permusuhan dengan orang lain pun timbul. Kata pepatah, orang yang telah sempurna akal pikirannya, biasanya akan sedikit bicara dan lebih banyak melakukan amal shalih. Idzâ tammal-‘aqlu qallal-kalamu. Semakin sempurna ilmu seseorang, akan semakin sedikit pula ia berkata-kata.

Tapi adagium ini bukan bermakna bahwa diam seribu bahasa atau tanpa pergerakan dan anti-perubahan sebagai kesempurnaan. Tapi orang yang ‘âlim atau ‘âqil, adalah yang hanya melakukan sesuatu yang berguna dan meninggalkan perkataan yang sia-sia.

  • 0
  • Baca: 951 kali

Seribu Kali

“Untuk memahamkan, apalagi  menanamkan   jiwa dan filsafat  hidup Pondok,  tidak bisa hanya sekali dua kali, harus ping sewu (seribu kali)”. Inilah arahan yang sering disampaikan oleh salah satu Kiai Gontor, Dr KH Abdullah Syukri Zarkasyi, kepada guru-guru dan para santrinya. Mengapa harus  seribu kali? Sebenarnya,  ungkapan ini lebih mengisyaratkan  betapa untuk memahamkan dan menanamkan suatu ajaran, apalagi membentuk pola pikir, sikap dan tingkah laku membutuhkan pungalangan-pengulangan agar bisa menjadi kebiasaan. Walaupun pada awalnya perlu pemaksaan, tapi ia bisa menjadi kebiasaan, bahkan  menjadi kebutuhan.

  • 0
  • Baca: 1386 kali

Dinamis dalam Pasrah dan Polah

Salah satu sumber stres adalah adanya gap antara harapan dan kenyataan. Alumni sekolah terkenal bisa mengalami stres karena ada kesenjangan antara harapan dia sewaktu di sekolah dan kenyataan yang dihadapi setelah tamat dari sekolah.

Stres dan gap ini awalnya netral. Dalam arti bahwa keduanya belum bisa dihukumi negatif atau positif. Bahkan kalau menurut praktik hidup dan petunjuk al-Qur’an, gap dan stres adalah bagian dari kenyataan yang tak bisa dihindari.

  • 0
  • Baca: 1037 kali

Bahaya Melemahkan Diri

Kalau merenungkan penjelasan al-Qur’an dalam Surat An-Nisa: 97-100, sepertinya ada yang perlu kita bedakan antara orang yang dilemahkan oleh kekuatan di luar dirinya (kekuasaan, sistem, dan lainnya) dan orang yang melemahkan dirinya sendiri. Seperti disebutkan dalam al-Qur’an, orang yang melemahkan dirinya disebut “mustadl’affiin” (tanpa al), sedangkan orang yang dilemahkan, disebut “al-mustadl’affiin” (dengan al).

Orang yang melemahkan dirinya adalah orang yang menzalimi dirinya sendiri. Orang yang melemahkan dirinya adalah orang yang sebetulnya mampu dan tahu, namun ia memilih untuk tidak mau, karena ada ilusi lain yang dinantikan, misalnya ingin enak, ingin orang lain membantunya.

  • 0
  • Baca: 1040 kali

Puisi Pagi

Buatku bertanya,
kala merdu kurasa deru detak ini
pagi telah menjelang
tersenyumlah meski
perihhati tersimpan,
buatlah mutiara
di pucuk senyummu merekah
jangan biarkan
duka membiaskan tawa
di pagi indahmu...

(Alumnus MA Matholi'ul Huda Troso)

  • 0
  • Baca: 1429 kali

Lelaki Sempurna

Aku hanyalah bunga layu
berdaun kering berparas tak ayu
tapi mengapa engkau datang merayu
menjadi peramu pada hati yang galau

Aku tak mendamba pangeran kaya,
yang tergoda akan sesatnya dunia
cukup dengan hidup sederhana
asalkan engkau tetap setia

Tapi aku wanita lemah
berpendidikan rendah, berparas tak indah
pantaskah bersanding dengan lelaki gagah?
bersifat ramah sekaligus seorang pendakwah

Walau engkau menjanjikan quran di dada
tapi aku tetap dilema
bukan karena aku tak percaya
tapi engkau terlalu sempurna

Saidah XII IPS

  • 0
  • Baca: 1295 kali

Demi Sebuah Harapan

Demi sebuah harapan...
kugantungkan egoku yang tak berguna
kuselami likunya hidup yang penuh dilema
kukobarkan semangat garuda yang perkasa

Demi sebuah harapan...
kuharamkan segala sesuatu yang subhat
kubersujud di setiap sepertiga malam yang pekat
ku menyucikan diri dengan bertaubat

Demi sebuah harapan...
kutuntut ilmu sampai ke negeri Cina
kujadikan buku sebagai kawan yang tak bernyawa
kurangkai semua mimpi hingga menjadi nyata

Demi sebuah harapan...
kuhilangkan rasa penat di dada
kugantikan dengan rasa bahagia
kuciptakan tawa yang ceria

Demi sebuah harapan
kupasrahkan takdirku kepada Tuhan
kupastikan citaku demi masa depan
AGAR KU MAMPU MENGHADAPI UJIAN

Saidah XII IPS

  • 0
  • Baca: 1384 kali

Sang Guru

Guratan usia tak mematahkan
semangatmu...
jiwamu berisikan ambisi
menggambarkan seksa masa depan
embun pagi sebagai saksi bisu
dalam perjalanan hidupmu
membagi ilmu...
Keraguan dan kebimbangan
kau buang jauh
bagai benalu yang
mengganggu tumbuhnya
ketulusan hatimu...
Mengorbankan waktu tiada jemu
tanpa takut kehilangan waktu
walau letih tlah membelenggu
tapi tak pernah kau rasakan
Engkau abaikan semua itu
Demi melukis masa depan
bersama anak didikmu...
Sang Guru...
Jasamu tak terhapus oleh waktu
terpaku dalam benakku, ku kenang sepanjang hidupku...

Ela S.

  • 0
  • Baca: 1247 kali
Berlangganan RSS feed