Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Misteri Pemilik Dompet yang Hilang 63 Tahun di Ohio Terkuak, Isinya Penuh Kenangan

MAMHTROSO.COM -- Misteri dari sebuah dompet yang ditemukan di celah antara loker dan dinding di sekolah menengah Ohio akhirnya telah terungkap. Dompet tersebut hilang dan terjebak di antara loker itu sejak 1957, memperlihatkan sekilas seperti apa kehidupan pada masa itu.

Dompet berwarna merah dan sudah tertutup debu itu ditemukan seorang penjaga sekolah menengah Kanton Utara Chas Pyle, yang saat itu sedang menempelkan tali pengikat di antara loker dan dinding.

Melansir dari CNN, Senin (17/2/2020), setelah melakukan beberapa penyelidikan untuk mengetahui pemilik dompet itu, rupanya pihak sekolah mendapatkan informasi bahwa pemilik tersebut adalah Patti Rumfola yang juga mantan siswa lulusan 1960.

Setelah lulus pada 1960, ia melanjutkan karier sebagai guru dan setelah itu menikah dengan John G. Michele pada 1980. Menurut laporan dari pihak berwenang, suaminya meninggal pada 10 Juli 2007. 

Rumfola dikabarkan telah meninggal pada 2013. Meskipun demikian, sekolah mampu menghubungi anak-anak Rumfola guna memberi informasi terkait dompet ibunya yang telah ditemukan.

"Lima anak Patti berkumpul bersama untuk sebuah pertemuan keluarga di musim gugur. Pada saat itu mereka membuka dompet untuk melihat kehidupan ibu mereka ketika remaja di Hoover High School," seperti yang tertulis pada unggahan akun Facebook North Canton City School.

Setelah mendapat izin dari pihak keluarga Patti untuk mengungkap isi dompet, pihak sekolah kemudian mengunggahnya melalui akun Facebook sekolah.

Dompet tersebut seolah membawa kembali suasana kehidupan remaja Amerika saat tahun 1950-an. Ditemukan sebuah sisir, alat rias wajah termasuk bedak dan lipstik.

https://www.liputan6.com/global/read/4180573/misteri-pemilik-dompet-yang-hilang-63-tahun-di-ohio-terkuak-isinya-penuh-kenangan

  • Diterbitkan di Unik
  • 0

Siapa Perempuan Terbaik Masuk Surga Menurut Rasulullah?

MAMHTROSO.COM -- Maryam binti Imran merupakan salah seorang wanita terbaik yang pernah diciptakan Allah SWT. Dia adalah keturunan keluarga Imran, salah satu keluarga terbaik yang pernah ada dalam sejarah kehidupan manusia. Penghargaan tertinggi yang diberikan Allah adalah ketika nama Maryam diabadikan dalam salah satu surat Alquran. 

 

Kisahnya pun banyak kita temui dalam ayat-ayat Alquran. Bahkan, Rasulullah SAW pernah menyebutkan Maryam dalam golongan Muslimah terbaik yang masuk surga.

Maryam sejak kecil memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Membiasakan dirinya dengan banyak beribadah. Munajat dan doa tidak pernah ia lupakan. Ketakwaannya juga begitu sempurna. Dia pun biasa puasa sehari dan berbuka dua hari. Tak heran mukjizat diberikan berupa makanan yang berasal langsung dari sisi Allah.

Hal tersebut dikisahkan dalam Alquran: ''Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata, 'Wahai Maryam, dari mana kau memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab, 'Makanan itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab'.'' (QS Ali 'Imran: 37).

Kelebihan lain Maryam adalah sifat-sifat keibuannya yang dapat diteladani. Ketika dia mengetahui hamil tanpa seorang laki-laki, ia mengasingkan diri. Hal ini dilakukannya demi keselamatan bayinya. Ia pun seorang beriman yang malu, karena hamil padahal dia belum menikah. Dia masih memiliki perasaan yang peka. Katanya, ''Aduhai alangkah baiknya aku mati sebelum ini dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti lagi dilupakan.'' (QS Maryam: 23). 

Seorang wanita hamil sendirian dinilai tidak akan mampu menggoyangkan pohon kurma hingga menjatuhkan buahnya. Akan tetapi, Maryam melakukannya sebagai tugas seorang ibu. Allah pun berkenan pada usahanya sehingga dia dan calon bayinya dapat menikmati buah kurma tersebut. Sebagaimana kita ketahui bersama, dari rahimnya lahirlah Nabi Isa yang mulia.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q62x1w320/siapa-perempuan-terbaik-masuk-surga-menurut-rasulullah

Kisah Tambuang, Menjadi Muslim di Tengah Keluarga China

MAMHTROSO.COM -- Menjadi seorang Muslim dari etnis China, Eddy Tjondronimpuno Tambuang pernah dihadapkan pada berbagai tantangan dan kisah pilu dalam hidupnya. Pria berusia 55 tahun ini tidak hanya pernah mengalami penolakan dari keluarganya lantaran memeluk Islam, tetapi juga menghadapi sentimen anti-China di era Orde Baru.

Tambuang terlahir dengan nama Tjong Hok Tjwan. Ia merupakan cucu seorang migran etnis China yang melarikan diri dari China yang dilanda perang pada tahun 1923. Kakeknya, Tjong Ting Siang, memimpin sekelompok warga China melakukan perjalanan ke Indonesia. Mereka kemudian menetap di Magelang, Jawa Tengah, tempat Tambuang dan keluarganya masih hidup.

Suatu sore di bulan Mei 1998, Eddy Tjondronimpuno Tambuang sedang bekerja ketika dia mendengar bahwa kerusuhan meletus di seluruh Jakarta. Kala itu, berita melaporkan bahwa situasinya tidak terkendali. Toko-toko dibobol dan dijarah, mobil dibakar, dan warga etnis China menjadi sasaran para perusuh yang berkeliaran di jalanan mencari korban.

Kerusuhan yang dipicu oleh krisis keuangan yang melanda Asia pada akhir 1990-an itu memanfaatkan kefanatikan yang dalam. Sentimen anti-China muncul dipicu oleh kecemburuan pada pengusaha dan pemilik toko Cina yang sukses. Sikap anti-China ini meledak di sejumlah kota besar di Indonesia, terutama di ibu kota Jakarta.

Saat kerusuhan meletus, Tambuang merasa panik. Ia ingin meninggalkan tempat penampungan pabrik di Tangerang begitu ia selesai bekerja dan pulang ke rumahnya. Namun ketika ia melangkah keluar, ia melihat supermarket besar di seberang jalan terbakar.

"Saya melihat orang-orang mendorong troli supermarket yang penuh dengan barang-barang yang sepertinya diambil dari toko. Itu mengerikan," ungkap Tambuang, dilansir di South China Morning Post, Rabu (5/2).

Tambuang lantas mencoba memanggil ojek, tetapi tidak ada pengendara yang mau membawanya. Mereka malah berkata, 'Kamu orang Tionghoa' kepada Tambuang. Ia mengatakan, mereka takut menjadi sasaran para perusuh.

Akhirnya, seorang pengendara ojek bersedia membawanya pulang. Di  jalanan kota Jakarta, Tambuang menyaksikan bentuk diskriminasi brutal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya. Ia mengisahkan, saat ia masih sangat muda, ia kerap dipanggil 'China' oleh anak-anak lain sebagai nada menyindir. Begitupun saat ia dewasa, ada beberapa momen penolakan masyarakat lantaran ia seorang etnis China.

"Itu memang tidak benar, tetapi saya tidak masalah dengan itu," katanya.

Akan tetapi, apa yang disaksikannya saat kerusuhan 1998 terjadi, benar-benar membuatnya merasa takut. Ia menceritakan, kala itu orang-orang berjalan dengan memegang tongkat kayu. Mereka meminta siapa pun yang memakai helm untuk melepasnya, sehingga mereka bisa melihat wajahnya.

"Ketika mereka tahu orang itu adalah seorang Tionghoa, mereka memukulinya dengan tongkat. Itu kejam sekali," ujarnya.

Namun, beruntung Tambuang selamat dari tragedi itu. Ia percaya dirinya luput dari para perusuh lantaran warna kulitnya yang lebih gelap daripada kebanyakan etnis China. Selain itu, Tambuang mengungkapkan saat itu ia terus meneriakkan kata 'Allahu akbar' dari belakang sepeda motor.

Hal itu mungkin memang telah menyelamatkannya. Namun, Tambuang tidak berpura-pura menjadi seorang Muslim saat itu. Ia mengungkapkan, ia telah masuk Islam jauh sebelum kerusuhan terjadi. Ia menjadi seorang Muslim pada 1992.

"Saya telah terpesona oleh agama ini sejak masih di sekolah menengah. Saya biasa duduk selama jam istirahat dan mendengarkan murotal (lantunan pembacaan) Alquran dari masjid terdekat. Itu sangat menenangkan," lanjutnya.

Orang tua Tambuang selalu mendorongnya dan saudara-saudaranya untuk bergaul dengan orang Indonesia asli. Tidak seperti banyak orang China lainnya, mereka tidak ingin tampil 'eksklusif'.

Di era Presiden Soeharto, yang memegang jabatan dari 1967 hingga 1998, semua nama etnis China harus diganti dengan yang terdengar Indonesia. Selain itu, pertunjukan budaya China dilarang, sehingga memaksa integrasi lebih lanjut.

Namun, seiring tumbuhnya Tambuang di negara ini, ia memilih untuk memeluk Islam. Keputusan dirinya untuk masuk Islam membuat marah sejumlah kerabatanya. Menurutnya, salah satu adik perempuannya sangat marah.

"Dia mengirimi saya surat yang ditulis dengan tinta merah, menggunakan kata-kata yang sangat kasar dan menyebut saya barang. Saya mencoba untuk tetap tenang dan tidak terpengaruh olehnya. Saya percaya saya telah membuat keputusan yang tepat untuk diri saya sendiri," ungkapnya.

Menjadi keturunan China di Indonesia dan masuk Islam telah menempatkan Tambuang dalam kelompok minoritas ganda. Menurutnya, menjadi etnis China membuatnya menjadi bagian dari minoritas di negara ini. Begitu masuk Islam, ia pun dikucilkan oleh kelompoknya dari etnis China.

"Tetapi kemudian ketika Anda juga merupakan minoritas dalam persentase kecil orang itu, saat itulah segalanya menjadi lebih tidak nyaman," katanya.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q59tpl430/kisah-tambuang-menjadi-muslim-di-tengah-keluarga-china

 

Ketegangan berlanjut saat Tambuang memutuskan untuk menikah dengan kekasihnya, Aida Hidajati, yang merupakan seorang Muslim Jawa. Keluarga mereka tidak setuju.

Hidajati, yang kini menjadi istri Tambuang, mengungkapkan bahwa mereka melalui perjalanan yang panjang dan berliku serta air mata. Sebabnya, mereka berasal dari etnis yang berbeda.

"Ada saat-saat ketika saya merasa ingin menyerah karena mereka menyulitkan kami hanya karena dia orang Tionghoa dan saya orang Indonesia asli," ungkap Hidajati.

Namun, keduanya melawan segala rintangan dan akhirnya menikah. Mereka kini telah dikaruniai dua anak, yang berusia 16 dan 8 tahun. Wanita berusia 51 tahun itu mengungkapkan, keadaan mulai membaik saat anak pertama mereka lahir.

Hidajati mengatakan, mereka kini memiliki hubungan yang sangat baik dengan keluarga dekat mereka. Akan tetapi, rupanya masalah tidak surut. Terkadang masalah masih muncul dalam keluarga besar mereka. Pasalnya, beberapa waktu lalu ia harus keluar dari grup WhatsApp keluarga lantaran mereka kerap membuat pernyataan ofensif tentang Islam.

"Saya sudah mencoba untuk mengklarifikasi hal-hal sebelumnya tetapi kemudian sudah cukup bagi saya. Saya menyadari bahwa saya adalah minoritas di antara orang-orang ini dan saya menerimanya. Aku masih berupaya,"  ujarnya.

Tambuang dan Hidajati mulai menjelaskan latar belakang keluarga mereka kepada anak-anak mereka ketika mereka masih sangat muda. Menurut Tambuang, ia memberi tahu anak-anaknya soal garis keturunan mereka dan mengapa beberapa orang berpikir mereka berbeda.

"Tapi saya selalu mengingatkan mereka bahwa kita adalah orang Indonesia, bagaimanapun juga. Anak bungsu saya Billy pernah memberi tahu kami bahwa teman-temannya di sekolah biasa memanggilnya 'China! China!'. Untungnya, dia tidak terpengaruh dan hanya mengabaikannya. Dan anak-anak itu akhirnya berhenti mengejeknya," tambahnya.

Kendati telah menyaksikan dan mengalami banyak hal melalui mata minoritas di dalam minoritas, Tambuang mengatakan ia tidak pernah berhenti untuk memimpikan Indonesia yang lebih toleran. Ia menganggap masa lalu adalah hal yang telah berlalu.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q59tpl430/kisah-tambuang-menjadi-muslim-di-tengah-keluarga-china-part1

3 Jenis Hidayah Menurut Imam Ghazali dan Cara Menggapainya

MAMHTROSO.COM -- Petunjuk Tuhan (hidayah) dapat dipandang sebagai pangkal dari semua kebaikan. Manusia tidak mungkin menggapai kebaikan-kebaikan dalam hidupnya tanpa petunjuk dari Allah. Firman-Nya, ''Tuhan kami adalah Allah yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kepadanya, kemudian memberinya petunjuk.'' (Thaha: 50)

Dilihat dari segi tingkatannya, hidayah itu menurut Imam Ghazali ada tiga macam. Pertama, berupa kemampuan mengenal dan membedakan kebaikan dan keburukan. Kemampuan ini sesungguhnya diberikan oleh Allah kepada semua manusia baik melalui kecerdasan intelektualnya maupun melalui informasi dari para Nabi dan Rasul Allah. 

Kaum Tsamud dan juga kaum 'Ad pada mulanya telah diberikan hidayah oleh Allah dalam bentuk ini, tetapi mereka lebih suka memilih kesesatan daripada petunjuk Tuhan (QS Fushshilat: 17).

Kedua, berupa peningkatan kualitas hidup manusia yang terus membaik dari waktu ke waktu. Kualitas hidup itu meliputi kualitas iman, kualitas ilmu, dan kualitas kerja. 

Menurut al-Ghazali, inilah hidayah seperti yang tersebut dalam ayat ini: ''Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.'' (QS Muhammad: 17). 

Ketiga, berupa pencerahan jiwa atau semacam spiritual enlightenment. Orang yang memperoleh hidayah dalam bentuk ini mencapai tingkat kesempurnaan dan kematangan jiwa (kamalat nafsiyah). Pikiran dan jiwanya menjadi terang, bahkan seluruh hidupnya menjadi terang benderang karena pencahayaan Ilahi yang tidak pernah putus.

Bagi al-Ghazali, inilah tingkatan hidayah dalam bentuknya yang paling tinggi. ''Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu)?'' (QS Al-Zumar: 22).

Hidayah seperti terlihat di atas sungguh penting dan amat menentukan kualitas hidup manusia. Oleh sebab itu, kaum Muslim diperintahkan agar mencari dan menggapai petunjuk Allah itu. Setidak-tidaknya, 17 kali dalam sehari semalam, mereka harus membaca doa ini: ''(Ya Allah), tunjukkan kami ke jalan-(Mu) yang lurus.'' (QS Al-Fatihah: 6). Tanpa petunjuk-Nya, kita bisa sesat jalan dan terjerembab ke jurang nestapa.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q629qc320/3-jenis-hidayah-menurut-imam-ghazali-dan-cara-menggapainya

Berlangganan RSS feed