Masuk

Bangkitkan Minat Menulis, MAMH Troso Gelar Pelatihan Jurnalistik Mading (2)

Zhaqraf MaulidaTroso - Unsur terpenting ketiga dalam sebuah majalah dinding madrasah adalah sastra. Ya, sebagian besar mading madrasah memang dipenuhi tulisan-tulisan sastra. Pada sesi ketiga, unsur tersebut dikupas tuntas oleh seorang penulis spesialis sastra dari Beranda Sastra Edukasi, Zaqraf Maulida. Ini merupakan kelanjutan dari dua sesi sebelumnya yang telah dikupas pada pelatihan jurnalistik mading yang digelar di MA Matholi’ul Huda Troso pada Kamis, 25 Agustus 2011 lalu.

Perempuan kelahiran Tegal 22 tahun lalu tersebut memaparkan berbagai jenis karya sastra yang dapat ditulis di dalam majalah dinding. Salah satunya adalah puisi. Dalam menulis puisi, hal terpenting yang perlu diperhatikan oleh penulis adalah persajakan yang akan memperindah bunyi puisi. Dia mencontohkan beberapa puisi hasil karyanya kepada peserta pelatihan. Tema puisi yang ditampilkan pun bermacam-macam, seperti tema politik, emansipasi, dan kritik sosial.

Tidak hanya puisi saja, banyak karya sastra semacam anekdot, pantun, cerpen pun layak ditampilkan di dalam sebuah edisi penerbitan majalah dinding.

Setelah sesi ketiga usai, dilanjutkan dengan sesi keempat yaitu pelatihan Teknik Perwajahan. Penyampaian materi dipercayakan sepenuhnya kepada Quthfi Muarif, seorang praktisi desain pada Jurnal EDUKASI. Pada sesi ini dibahas bagaimana pentingnya teknik layout (perwajahan) pada sebuah media. Perwajahan pada suatu media berfungsi sebagai informasi grafis yang dapat memberikan ilustrasi atas informasi yang dipaparkan dalam mading. Dengan adanya informasi grafis, pembaca akan lebih mudah memahami suatu kejadian atau mengenal seseorang tanpa dideskripsikan dalam tulisan.

Dalam perwajahan, jelas pemateri, ada tiga prinsip utama yang perlu diperhatikan oleh seorang layouter (sebutan bagi orang yang bertanggung jawab pada bagian perwajahan). Tiga prinsip tersebut adalah meliputi: keseimbangan komponen-komponen visual, ritme atau tema, serta kepaduan antara jenis huruf dan pilihan warna. Mengenai pilihan warna, seorang layouter tidak dapat asal memilih warna pada suatu media sebab jika terjadi kesalahan pemilihan warna, pesan utama dari suatu tulisan tidak sampai. Dia mencontohkan misalnya jika tulisan bertemakan keindahan alam, seorang Layouter dapat menggunakan warna hijau atau biru, atau jika bertema semangat, layouter dapat menggunakan pilihan warna merah atau hitam.

Kiri atas - searah jarum jam: Quthfi Muarif, Arif Nadliroh, Siswa bertanya kepada pemateri, dan salah satu siswa sedang membaca puisi karya pemateri.Setelah istirahat shalat usai, acara dilanjutkan dengan topik Teknik Rapat Redaksi pada sesi terakhir. Pada sesi ini diisi oleh Arif Nadliroh, Pimred Jurnal Edukasi tahun 2010-2011. Kurang beruntung bagi pemateri yang terakhir ini. Maklum saja, suasana siang hari saat Ramadan menjadikan hampir seluruh peserta meletakkan kepalanya di atas meja pertanda sudah tidak semangat lagi mengikuti pelatihan. Namun perempuan yang pernah menahkodai Jurnal Edukasi tersebut tidak kurang akal. Dia memberikan sebuah icebreaking berupa permainan menggambar. Setiap peserta diwajibkan diharuskan menggambar sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh pemateri. Meski hanya sejenak, icebreaking tersebut mampu mengembalikan semangat para peserta yang sempat hilang beberapa saat.

Teknik yang tidak kalah pentingnya dalam suatu media majalah dinding adalah teknik rapat redaksi. Bisa dikatakan bahwa inilah awal dari segala kesibukan menerbitkan mading. Diawali dengan agenda permulaan, seorang pemimpin redaksi dituntut dapat merumuskan kemana arah media yang akan diterbitkannya kelak.

Ada tiga hal penting dalam agenda permulaan, yaitu self digesting (mengenali diri), menata mindset (pola piker), dan komitmen bersama. Setelah ketiga tahapan dilalui, baru dapat dilanjutkan pada tahap selanjutnya yaitu rapat redaksi.

Dalam rapat redaksi, seorang pemimpin dibantu dengan pengurus yang lain menentukan beberapa agenda pokok, mulai dari agenda penentuan tema, penentuan penanggung jawab rubrikasi, reportase dan penulisan, editing, layout, penerbitan, evaluasi, dan proses distribusi. Dikatakan oleh pemateri jika semua unsur yang terlibat dalam keredaksian saling, bekerja sama, bukan tidak mungkin sebuah mading yang diharapkan akan dapat diterbitkan dan dapat dinikmati oleh para pembaca.

Tidak sesuai jadwal

Jika mengacu pada term of reference yang telah dibuat oleh panitia kegiatan, seharusnya masih ada beberapa sesi lagi yang harus diikuti oleh peserta pelatihan jurnalistik mading ini. Beberapa sesi yang direncanakan tersebut antara lain praktik pembuatan mading, serta evaluasi. Namun karena keterbatasan waktu, akhirnya kedua sesi tersebut ditiadakan.

Hal itu nampaknya cukup disayangkan oleh Muhammad Mudhofar, ketua panitia kegiatan pelatihan jurnalistik. Tanpa adanya praktik, ungkapnya, panitia tidak akan tahu sejauh mana penguasaan materi yang telah oleh para pemateri kepada seluruh peserta. Dia mengharapkan setelah kegiatan ini diadakan semacam follow up, baik menulis reportase, artikel, sastra maupun materi-materi yang lain.

Pernyataan Mudhofar diiyakan oleh Waka Kesiswaan MAMH Troso, Noor Ubaidillah saat penutupan acara. Beliau menjanjikan kepada seluruh peserta bahwa pelatihan yang ada idealnya memang tidak cukup hanya sekali melainkan ada kelanjutan, meski dengan materi yang berbeda.

Acara diakhiri dengan saling bermusafahah. (mamhtroso)


Galeri Kegiatan, klik di sini

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.