Masuk

Bertandang ke Semarang, MAMH Troso Angsu Kawruh di Dua SMA

H. Nowo Susilo (berbaju batik) berada di antara rombongan MAMH Troso saat melakukan studi banding di SMP-SMA Nasima Semarang.Semarang, MAMHTROSO.com – Sebanyak tujuh unsur pimpinan MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso bertandang ke Semarang, Jumat (28/10). Tujuan utamanya adalah melakukan studi banding di dua SMA Islam terkemuka di Semarang, yaitu: SMA Nasima dan SMA Islam Hidayatullah. Para pimpinan MAMH Troso ingin angsu kawruh – menimba ilmu – dari kedua lembaga pendidikan tersebut.

Rombongan MAMH Troso menetapkan tujuan utamanya di SMA Nasima. Sesampainya di sana, rombongan disambut dengan hangat dan langsung dipersilakan menuju ruang pertemuan. Acara studi banding di SMA yang terletak di jantung kota Semarang itu diawali dengan sambutan oleh salah seorang pendiri Yayasan Islam Nasima, Drs. H. Nowo Susilo.

Kepala SMA Nasima.Yayasan Nasima – menurut penuturan H. Nowo Susilo – merupakan yayasan yang berkembang dari nol. Diawali dengan rintisan Taman Pendidikan Alquran (TPA) pada tahun 1994. Semenjak itu, Nasima mulai diterima di kalangan masyarakat, terbukti dengan lahirnya beberapa unit pendidikan di bawah naungan yayasan ini. Dalam kurun waktu 17 tahun, Yayasan Nasima berhasil menelurkan unit pendidikan TPA, TK, SD, SMP, dan SMA.


"koin mengikuti poin, carilah poin jangan koin"

Pada kesempatan selanjutnya, Kepala SMA Nasima, Dwi Sukaningtyas, M.Pd. memaparkan visi, misi, dan program yang ada di SMA Nasima. Selain itu, pemimpin sekolah berjuluk sekolah merah putih itu juga menjelaskan secara rinci tentang target yang ingin dicapai SMA Nasima di tahun ajaran 2011/2012 ini.


Perkembangan sedemikian cepat yang dialami Yayasan Nasima pula lah yang menjadikan segenap unsur pimpinan MAMH Troso merasa ingin tahu bagaimana kiat keberhasilan yayasan tersebut. Dalam sesi Tanya jawab, beberapa guru MAMH Troso melontarkan pertanyaan seputar ‘jurus rahasia’ kesukesan yayasan ini. Di akhir acara, kepala SMA Nasima menyampaikan sebuah kalimat sederhana yang menjadi moto hidupnya yang sekaligus menjadi penyemangatnya dalam memimpin lembaga tersebut, yaitu "koin mengikuti poin, carilah poin jangan koin".

Seusai audiensi, rombongan MAMH Troso diajak untuk menyaksikan suasana proses belajar mengajar di dalam ruang kelas. Ada hal unik yang didapatkan rombongan saat melihat suasana ruang kelas yang ada. Jika umumnya kelas dinamai dengan urutan alfabetis, namun tidak pada Nasima. Kelas yang ada justru dinamai dengan nama kota-kota yang ada di Indonesia.

Bertolak ke SMA Islam Hidayatullah

Setelah berpamitan dengan jajaran pengurus SMP-SMA Nasima, rombongan MAMH Troso bertolak menuju SMA Islam Hidayatullah. Kampus tersebut terletak di Kecamatan Banyumanik, Semarang. Sesampainya di lokasi, rombongan MAMH Troso diterima oleh kepala SMAIH, Eko Wahyu Diyono, S.Si.

Acara audiensi diawali dengan presentasi visi dan misi yang ada di SMAIH. Selain itu, ada pula program untuk pencapaian misi sekolah. Program tersebut diantaranya adalah pembiasaan ibadah, ekstrakurikuler, dan beberapa program lainnya.

Di SMAIH diberlakukan empat kurikulum, yaitu: Kurikulum Standar Nasional, Kurikulum PAI, Kurikulum Muatan Lokal dan Pembiasaan, serta Kurikulum Pendidikan Al Quran Metode Ummi. Khusus kurikulum yang terakhir, setiap peserta didik yang lulus ujian kurikulum ini akan mendapatkan sertifikat yang dapat digunakan sebagai bekal untuk mengajar di TPQ.

Di akhir acara, rombongan MAMH Troso menyerahkan kenangan-kenangan kepada SMAIH. Setelah itu, rombongan bertolak ke Jepara. (aaf)

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 29 Oktober 2011 21:11

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.