Masuk

Sang Saka Merah Putih Jadi Pusaka di Ambalan Setiabudi-Fatmawati

Troso, MAMHTROSO.com – Di setiap upacara pramuka yang digelar oleh  gugus depan MA Matholi’ul Huda Troso, sering kali terlihat prosesi pembukaan atau penutupan sekotak peti berisi bendera merah putih, menandai dibuka atau ditutupnya suatu perhelatan secara simbolis.

Ya, prosesi tersebut merupakan bagian dari adat-istiadat yang ada di lingkungan ambalan Setiabudi-Fatmawati. Pembuka atau penutup peti hanya boleh dilakukan oleh anggota pramuka pilihan saja, semisal pemangku adat atau pradana.

Bendera yang digunakan dalam prosesi tersebut dianggap sebagai benda pusaka yang memiliki arti filosofis di dalamnya. Alasan pemilihan sang saka merah putih sebagai pusaka ambalan diungkapkan oleh pembina pramuka Mustain kepada MAMHTROSO.com, kemarin (04/10/2012).

Mustain menuturkan, sang saka merah putih yang menjadi bendera Indonesia memiliki makna filosofis. “Merah berarti berani, putih berarti suci. Merah melambangkan tubuh manusia, sedangkan putih melambangkan jiwa manusia. Keduanya saling melengkapi dan menyempurnakan untuk Indonesia,” terangnya.

Selain itu, sang saka merah putih memiliki sejarah yang panjang bagi bangsa Indonesia. Bendera tersebut, ungkap Mustain, telah lama menjadi panji kebesaran kerajaan-kerajaan di nusantara. “Sudah dipakai sejak jaman Kadiri, diteruskan oleh Majapahit, hingga kesultanan Mataram Islam,” terangnya. Tidak hanya di Jawa, bendera tersebut juga dipakai oleh beberapa kerajaan di luar Jawa, semisal di Batak, Aceh, dan Bone.

Lantaran memiliki nilai mendalam, tidak heran bila para pelopor berdirinya ambalan ini menetapkan bendera merah putih sebagai pusaka. Apa harapannya? “Paling tidak, para anggota pramuka di ambalan ini dapat mewarisi semangat dan kesucian jiwa seperti yang tercermin dari makna kiasan bendera merah putih,” tutur Mustain.

Dalam pemakaiannya, tambah Mustain, sang saka merah putih tidak pernah dikibarkan. Bendera tersebut cukup ‘menyaksikan’ jalannya kegiatan dari dalam kotak penyimpannya. Apabila acara sudah selesai, peti pusaka tersebut ditutup dan disimpan kembali.

Terinspirasi dari Tokoh Pergerakan Nasional

Lebih lanjut, Mustain menuturkan, beberapa tokoh pergerakan nasional juga menjadi inspirasi dijatuhkannya pilihan sang saka merah putih sebagai pusaka ambalan. Ya, tokoh tersebut tidak lain adalah Setiabudi dan Fatmawati.

Menurut penjelasannya, Setiabudi dikenal sebagai salah satu tokoh pejuang kemerdekaan sekaligus pergerakan nasional. Jasa-jasa dari tokoh yang juga dikenal dengan Douwes Dekker ini telah mengilhami rakyat Indonesia menggelorakan semangat nasionalisme untuk mencapai kemerdekaan.

Sedangkan nama Fatmawati menginspirasi sebagai ibu negara pertama yang juga berperan sebagai pembuat bendera pusaka untuk kali pertama. (aaf)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.