Logo
Cetak halaman ini

Lebih Dekat dengan Lorenzo Cardi (1)

Troso, MAMHTROSO.com – Baju kotak-kotak warna hitam putih melekat di tubuh pria jangkung berambut pirang ini. Dari aksen bicaranya, nampaknya ia bukan penutur asli bahasa Inggris. Ya, pria ini adalah Lorenzo Cardi (23), volunteer asal Italia yang baru saja menginjakkan kakinya di MA Matholi’ul Huda Troso, kemarin (06/10/2012).


Kesan malu-malu campur grogi tak terbantahkan lagi. Hal itu setidaknya terlihat saat ramah-tamah berlangsung. Di depan puluhan guru MTs-MAMH Troso, hanya beberapa patah kata saja yang ia ucapkan. Kesan grogi semakin terlihat tatkala ia sering kali mengangkat pundak sembari tertawa kecil selama ia berbicara.

Kendala komunikasi kembali menjadi masalah baginya saat berada di rumah yang menjadi tempat tinggalnya. Alih-alih ingin ngobrol dengan sang empunya rumah, ucapannya justru tak dipahami oleh seisi rumah. Alhasil, hanya bahasa isyarat saja yang menjadi andalannya.

Memasuki siang hari, pria yang sedang menempuh pendidikan ilmu sosial di sebuah perguruan tinggi di Roma tersebut mencoba lebih relaks. Ia berganti oblong bergambar banteng bertuliskan “Red Toro” dipadukan celana tiga per empat. “Ini kaos pemberian ayah saya saat ia berkunjung ke Spanyol beberapa bulan lalu,” ucapnya mengawali obrolan ringan dengan MAMHTROSO.com di teras rumah. “Ini artinya ‘banteng merah’, sebuah ikon pertunjukan adu banteng di sana (Spanyol-red),” paparnya.

Dari tema banteng, ia lalu merambah tema obrolan lainnya. Mulai dari kehidupan sehari-harinya saat di Italia, hingga kebiasaannya memasak sendiri di rumah.

Menurut penuturannya, kehidupannya di Italia cukup menyenangkan. “Saya tinggal di daerah pegunungan, di mana terdapat lembah di depan rumah saya, dan perbukitan di belakang rumah saya,” ucapnya. Itu sebabnya ia mengaku gemar sekali melakukan kegiatan lintas alam di kampung halamannya saat liburan tiba. “Saya suka hiking di daerah saya, disamping mengunjungi wisata alam,” tambahnya. Selain di daerahnya sendiri, ia juga kerap merogoh kocek untuk dapat pelesir ke luar kota. “Hidup di sana (Italia-red) butuh biaya yang mahal, termasuk urusan wisata,” tuturnya.

Dari penuturannya pula, terungkap kalau ia ingin mengunjungi objek wisata air terjun yang ada di Jepara. “Setidaknya saya bisa ke sana selama saya di Jepara, yah, sekali atau dua kali mungkin,” jawabnya sambil tertawa. Saat dijelaskan soal nama air terjun tersebut, pria kelahiran 18 September 1989 menyahut, “Iya, namanya Jurang Nganten. Kemarin saya diberitahu teman saya,”

Di Italia, ia tinggal bersama kedua orang tuanya. “Saya anak tunggal dan tinggal bersama kedua orang tua saya,” Ayahnya, adalah seorang dokter spesialis jantung, sedangkan ibunya adalah pensiunan guru SMA di kotanya. Ia seringkali melakukan aktivitas rumah tangga, seperti membersihkan rumah dan memasak ketika orang tuanya sedang tidak ada di rumah. “Saya paling senang masak makanan Jepang, seperti Sushi tetapi bukan itu. Ada nasi, daging, ikan, dan bahan lainnya,” katanya. (aaf)

Terakhir diperbarui pada Selasa, 09 Oktober 2012 09:10
Hakcipta © 2015 MA Matholi'ul Huda Troso.