Masuk

Lebih Dekat dengan Lorenzo Cardi (2-habis)

Troso, MAMHTROSO.com – Pepatah ‘experience is the best teacher’ begitu bermakna bagi Lorenzo Cardi (23). Itu sebabnya, ia sampai rela meninggalkan orang-orang tercinta di Italia selama berbulan-bulan lamanya demi mendapatkan kepuasan batinnya di perantauan. Ya, dirinya berhasrat besar mendapatkan pengalaman hidup di sana.

Untuk mewujudkannya, ia bergabung dengan European Voluntary Service (EVS) dan menjadi sukarelawan yang siap ditugaskan ke negara manapun yang membutuhkannya. Beruntung, Dejavato Foundation – rekanan EVS – akhirnya merekrut dan menempatkannya di MA Matholi’ul Huda Troso selama 9 bulan mendatang.

Hidup di lingkungan baru, pria yang biasa disapa Lorenzo ini mencoba beradaptasi. Ia memulainya dengan belajar bahasa Indonesia secara otodidak. Beberapa buku panduan yang ia dapatkan dari lembaga pengirimnya itu ia lahap setiap kali ada waktu senggang di tempat tinggal barunya. Sesekali, ia meminta bantuan kepada kenalannya untuk mengajari cara berbahasa Indonesia yang benar. Dalam waktu relatif singkat, pemuda yang gemar bermain pingpong ini sudah cukup banyak menguasai kosakata yang biasa digunakan sehari-hari. Tidak ada masalah baginya mengucapkan ungkapan-ungkapan sederhana, semisal ucapan terima kasih, ucapan selamat, dan ungkapan lain dalam bahasa Indonesia.

Tak hanya soal bahasa. Lorenzo juga kerap menirukan kebiasaan yang dilakukan oleh warga setempat. Dalam hal sapa-menyapa, misalnya. Ia meniru cara memanggil orang yang lebih tua dengan sapaan Mas, Pak, Bu, atau Mbah. “Di sini saya perlu menambahkan kata ‘Pak’ jika saya ingin menyebut nama Pak Faizin. Hal itu tidak ada dalam budaya Eropa. Jadi, ini menarik bagi saya,” tuturnya.

Tinggal di negara dengan selera masakan yang sama sekali berbeda dengan negara asalnya, membuat Lorenzo sedikit berhati-hati soal memilih makanan. Ia tak sembarang menyantap menu masakan yang dibuat oleh sang empunya rumah. Mungkin, lidahnya sebagai orang Eropa belum terbiasa dengan masakan Indonesia yang kaya akan rempah tersebut. “Saya hanya mengambil sedikit sayuran, daging, atau ikan yang banyak bumbunya,” ujarnya sambil menunjukkan masakan yang ia maksud. “Saya masih menyesuaikan diri dengan menu masakan Indonesia,” tambahnya.

Merasakan sengatan matahari di kawasan tropis seperti di Indonesia boleh jadi adalah pengalaman pertama bagi Lorenzo. Bahkan, dirinya sempat dibuat ‘KO’ akibat tak tahan dengan hawa panas yang cukup ekstrem di kampus tempatnya bertugas. Suatu kali, ia buru-buru pulang dari madrasah. Usut punya usut, ternyata dirinya tak betah dengan panas campur gerah seusai membantu mengajar di kelas. Tanpa ba-bi-bu, Lorenzo langsung mandi dengan tujuan menghilangkan gerah yang menderanya.

Alih-alih menyegarkan badan, Lorenzo malah terserang flu yang cukup akut. Seketika itu, berulang kali bersin disertai badannya menggigil hebat. Untungnya, sang empunya rumah bertindak cepat dengan memeriksakannya ke dokter. Sehari setelah beristirahat, kondisinya berangsur pulih.

Jalankan Misi, Jadi Tutor Bahasa Inggris

Sebagai sukarelawan, Lorenzo banyak mendedikasikan waktunya di madrasah. Selama 6 jam sehari, dirinya membantu mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris.

Sejatinya, tidak terlalu rumit baginya untuk berbicara dengan bahasa Inggris di depan para siswanya. Namun masalahnya, kebanyakan dari siswa belum terbiasa mendengarkan omongan langsung dari orang asing. Tak heran apabila dirinya sedang berbicara, banyak siswa tak paham  maksud yang dibicarakan bule itu. Jika sudah begini, sang guru mapel ‘terpaksa’ beralih fungsi sebagai penerjemah kalimat.

Meski begitu, banyak jalan menuju Roma, banyak cara untuk memancing siswa agar mau berbicara dalam bahasa Inggris. Salah satunya dengan permainan kata. Satu per satu dari siswa diberi kesempatan untuk menyebutkan kata urut secara alfabetis. Mau tidak mau, mereka harus memindai memori otaknya atau membuka kamus dan mencari kata yang tepat ketika tiba gilirannya menyebutkan kata tersebut. Hasilnya? “Ini lebih baik, daripada mereka hanya diam saja,” ucapnya sambil tertawa.

Pengalaman baru yang seperti inilah yang mungkin saja menjadikan Lorenzo semakin hari semakin bersemangat dalam menjalankan misi mulianya. Buona fortuna, amico! - (aaf )

Terakhir diperbarui pada Kamis, 11 Oktober 2012 20:18

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.