Masuk

Lomba Masak, Sulap Pisang Jadi Kuliner Ciamik

Troso, MAMHTROSO.com – Kemeriahan Class Meeting kembali menggema di MA Matholi’ul Huda Troso pada Kamis (13/12/2012) lalu. Kali ini, kemeriahan itu berasal dari lomba masak antarkelas. Sebanyak 14 peserta mengikuti lomba mengolah pisang. Mereka menyulapnya menjadi sajian makanan yang ciamik untuk dicicipi.

Lomba dimulai sekitar pukul 08.00 WIB. Seluruh peserta bersiap-siap untuk menjadi koki dadakan di ruang kelasnya masing-masing. Mereka berbagi tugas. Ada yang kebagian mengupas pisang, membuat adonan bumbu, membuat garnis, atau menyiapkan minuman sebagai pelengkapnya.

Lomba ini semakin seru lantaran panitia membatasi waktunya hanya dua jam saja. Selama itu, mereka harus berpacu dengan waktu untuk menciptakan kuliner kreasi mereka sendiri. Mereka juga terlihat tidak terlalu lincah dalam memasak. Maklum saja, kebanyakan dari mereka baru sekali berlatih membuat olahan berbahan dasar pisang ini.

“Latihan baru sekali, itu saja hasilnya belum memuaskan. Semoga kali ini rasanya tidak mengecewakan,” tutur Siti Alfiyah, siswi kelas XI IPA-2 menjawab pertanyaan MAMHTROSO.com saat lomba berlangsung. Ya, Alfiyah dan teman-teman sekelasnya mengaku baru sekali melakukan uji coba. Kesulitan utama yang dialaminya adalah menentukan komposisi bahan yang tepat untuk menciptakan komposisi yang tepat untuk resep yang dibuatnya. Siswa kelas ini mencoba bereksperimen dengan membuat banana roll. “Meskipun namanya seperti sudah umum, tapi kita membuatnya dengan kreasi sendiri,” ujar Alfiyah.

Tidak hanya siswa XI IPA-1 saja yang menemukan kesulitan dalam memasak. Nikita Handayani, misalnya. Kesulitan yang paling dirasakan siswi kelas XII IPS-1 itu adalah saat menentukan jenis pisang apa yang tepat untuk menu yang dibuatnya. “Ada banyak jenis pisang, tetapi tidak semuanya bisa digunakan untuk membuat pisang cokelat,” kata Nikita. Jenis pisang yang paling cocok untuk masakannya, lanjut Nikita, adalah pisang raja nangka atau kapok. “Bisa menggunakan jenis yang lain, tapi rasanya sedikit sepat,” kata Nikita.

Lomba dinilai oleh 3 orang juri yang berasal dari guru MTs dan MA Matholi’ul Huda Troso. Para juri menilai didasarkan pada setidaknya 4 kriteria. Kriteria yang dinilai meliputi cita rasa, kebersihan makanan, penampilan, ketepatan waktu, dan teknik memasak. Khusus penilaian terakhir, setiap juri harus berkeliling mengunjungi setiap kelas untuk melihat proses memasak. (aaf)


Terakhir diperbarui pada Sabtu, 29 Desember 2012 10:54

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.