Masuk

Siuwa Nurdin: Menuntut Ilmu, Bertakwa, dan Bertawakkal

Troso, MAMHTROSO.com – Acara Morning Briefing yang digelar di MA Matholi’ul Huda Troso, Selasa (12/02/2013) lalu, kembali diisi dengan ceramah siswa. Kali ini, Siuwa Nurdin didapuk menjadi orator di depan ribuan warga madrasah. Dengan gaya konyol yang khas, siswa kelas X E itu berhasil membuat ger-geran selama acara berlangsung.

Di dalam ceramahnya, siswa yang pernah menjadi runner up kedua pada lomba dakwah antarkelas itu berorasi seputar 3 topik, yaitu menuntut ilmu, bertakwa, dan bertawakkal.

Selama lebih dari 10 menit ‘bertausiyah’, Siuwa tidak pernah ketinggalan menyelipkan banyolan yang tidak ayal memantik tawa dari seluruh pemirsanya.

Siuwa mengawali ceramah tentang pentingnya menuntut ilmu. Menurutnya, ilmu berdampak langsung pada perilaku seseorang. Kurangnya ilmu pada diri seseorang dapat mengakibatkan ia berjiwa labil dan mudah terpengaruh oleh budaya negatif. “Saat ini, kenakalan remaja merajalela dikarenakan oleh pengaruh budaya barat,” kata Siuwa. Pengaruh itu, lanjut Siuwa, sudah terlihat jelas, semisal remaja putri yang lebih memilih berpakaian minim ketimbang berpakaian sopan, ataupun remaja putra yang gemar menenggak minuman keras.

Lebih lanjut, semangat belajar dalam diri remaja harus ditingkatkan. “Yang penting itu sekolah. Jangan sampai putus sekolah gara-gara masalah sepele, sekolah terus pantang mundur,” jelas Siuwa. “Contoh Siuwa, meski tidak bawa kasut (kaos kaki), yang penting sekolah. Tidak bawa badge, yang penting juga harus tetap sekolah,” paparnya. Sebab dalam Islam, menuntut ilmu merupakan suatu kewajiban bagi setiap muslim. “Ketika sudah mendapatkan ilmu setinggi-tingginya, insyaallah, maka Allah akan meninggikan derajat kita di sisi-Nya seperti halnya wali-wali Allah,” ungkapnya.

Pada topik kedua, Siuwa mengupas tentang takwa. Menurutnya, salah satu wujud ketakwaan yang dapat dilakukan oleh manusia adalah dengan menghambakan diri kepada Allah. “Kita disuruh oleh Allah untuk menyembah kepada-Nya, bukan kepada yang lain,” katanya.

Di akhir ceramahnya, Siuwa mengajak seluruh warga madrasah untuk bertawakkal alias berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Dengan jalan itu, hati manusia akan semakin mantap lantaran telah menyerahkan urusannya kepada Allah.

Ceramah Kemadrasahan

Selain diisi dengan ceramah siswa, seperti biasa, acara Morning Briefing menjadi ajang bagi Kamad MAMH Troso untuk menyambung komunikasi dengan warga madrasah.

Di awal ceramah, Kamad mengevaluasi Pekan Ulangan Bersama (PUB) yang berakhir 7 Februari lalu. Dalam amatannya, beberapa guru belum bisa menjalankan prosedur yang ditetapkan madrasah terkait dengan persiapan PUB. “Mohon maaf untuk Bapak/Ibu guru, setiap habis mengajar diharapkan memberikan 2 atau 3 bank soal kepada siswa. Jangan sampai terulang lagi, besok pagi PUB, sekarang baru diberi bank soal,” ungkap Kamad. “Untuk anak-anak (siswa), banyak yang masih berpikiran pintas. Maka muncullah praktik mencontek,” ujarnya. Padahal sejatinya, PUB dimaksudkan agar siswa lebih mendorong lagi semangat belajarnya. Apalagi, hasil PUB yang menjadi alternatif ulangan konvensional itu akan mempengaruhi nilai rapor dan tentunya berpengaruh pula pada penentu kelulusan. “Makanya, kemarin kita melakukan terapi kejut, beberapa siswa yang ketahuan nyontek langsung kita sobek lembar jawabnya,” tegas Kamad.

Selain soal PUB, Kamad mengharapkan seluruh siswa lebih serius dalam berdoa. Selama ini, beberapa siswa masih sering bermain-main saat berdoa. “Saat membaca doa atau asmaul husna, masih saja ada yang bermain-main, ada yang buka-buka buku. Jangan main-main. Sekali lagi, jangan main-main,” tegasnya. Sebab menurutnya, doa menjadi senjata utama yang digunakan madrasah untuk menuju proses kemajuan. “Mohon kiranya Bapak/Ibu guru lebih mengawasi anak-anak selama berdoa, karena kita yakin doa menjadi senjata kita,” ujarnya.

Terkait dengan pembangunan jalan yang melewati kampus madrasah, Kamad mengharapkan kesadaran siswa untuk berpartisipasi dalam proyek itu. Kamad menggelorakan gerakan amal khusus untuk menyukseskan proyek itu. “Setiap hari Kamis, kita coba anak-anak untuk mengisi infak, dan itu berjalan selama 6 kali Kamis,” paparnya. (aaf)

Terakhir diperbarui pada Minggu, 17 Februari 2013 12:42

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.