Masuk

Kala ‘Selfie’ Jadi Gaya Hidup

Foto pose 'selfie'Troso, MAMHTROSO.com – Mengunggah foto diri sendiri – atau selfie – di jejaring sosial belakangan kian marak dilakukan oleh banyak orang. Bahkan fenomena ini seolah sudah menjadi bagian dari gaya hidup seseorang.

Selfie atau self-portrait photography menurut kamus Oxford adalah foto diri yang diambil oleh seseorang, biasanya dengan smartphone atau webcam dan diunggah di situs media sosial. Lantaran saking populernya, istilah ini pernah dinobatkan sebagai Oxford English Dictionary's 2013 Word of The Year.

Meski bukan barang baru, namun nyatanya aktivitas narsisme ini masih tetap digandrungi banyak orang secara universal, terutama para pengguna jejaring sosial populer seperti Facebook (FB), Twitter, Instagram, Blackberry Message (BBM), Path, dan sejenisnya. Tak cuma masyarakat biasa, kalangan ternama sekelas presiden atau pejabat tinggi pun sudah ketularan perilaku ini. Seperti yang pernah dilakukan Presiden Barack Obama berfoto selfie bersama Perdana Menteri Inggris David Cameron dan Perdana Menteri Denmark Helle Thorning-Schmid di sela-sela upacara penghormatan untuk mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela beberapa waktu lalu. Foto itu pun kemudian menyebar dan ramai diperbincangkan di dunia maya.

Tidak hanya Obama, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga pernah foto selfie bersama Perdana Menteri Malaysia Najib Razak. Foto tersebut di-posting oleh Najib di akun Twitter-nya akhir tahun 2013.

'Selfie' yang dilakukan secara berkelompok.Menjangkitnya fenomena foto selfie saat ini bisa jadi disebabkan oleh menjamurnya telepon genggam yang berintegrsi dengan kamera berkualitas bagus. Terlebih perangkat digital tersebut semakin mudah dan murah untuk didapatkan. Apalagi, saat ini telah banyak aplikasi photo editor banderolan smartphone yang gampang dipakai untuk menyunting gambar agar tampilannya lebih keren. Tidak heran bila banyak orang keranjingan berfoto narsis lalu dipajang di media sosial. Tidak cukup hanya satu foto, banyak dari para pelaku selfie bahkan meng-upload puluhan hingga ratusan foto dengan pose yang nyaris sama. Orang semakin ketagihan ber-selfie ria bila foto-foto pamer unggahannya berhasil menarik perhatian pengguna media sosial lain menuliskan banyak komentar atau membubuhkan jempol alias menyukai foto si empunya akun.

Berdasarkan survei kecil-kecilan yang dilakukan MAMHTROSO.com, fenomena foto selfie memang sudah sedemikian dahsyatnya di dunia maya, termasuk civitas akademika MA Matholi’ul Huda Troso yang aktif menggunakan Facebook. 42 dari 50 akun memajang foto selfie sebagai foto profil. 30 akun di antaranya bahkan telah menyediakan album berlabel ‘Saya’, ‘Me’, ‘Aku’, dan sejenisnya. Album virtual itu sedianya memang dikhususkan untuk menaruh foto-foto narsisnya.

“Sebenarnya wajar saja (berfoto selfie), soalnya saya dan teman-teman juga melakukannya,” ujar Liya Shinta, siswi kelas X A yang dihubungi MAMHTROSO.com lewat pesan Facebook, malam tadi (23/2).

Menurutnya, selfie menjadi salah satu rutinitas remaja di dunia maya. “Kalau sudah pegang kamera, pasti bawaannya ingin foto, lalu di-upload di FB. Apalagi untuk mengakses FB lewat hape sekarang lebih mudah,” ujarnya. “Berpose selfie menjadi salah satu bentuk ekspresi mencari pengalaman dan jati diri. Lewat gaya narsis itu, seseorang ingin dirinya eksis dan dilihat orang lain,” imbuhnya.

Meski demikian, Shinta beranggapan bahwa berfoto narsis seyogyanya tidak dilakukan dengan pose yang berlebihan. “Sah-sah saja, tapi kalau bisa jangan terlalu lebay, seperti menjulurkan lidah, atau bibir dimanyunkan,” ungkapnya.

Ella Izzatin Nada berbeda pandangan. Alumnus MA MH Troso tahun 2010 itu mengaggap fenomena foto selfie sebagai hal yang tidak wajar. “Model foto seperti itu cenderung adanya keinginan untuk memamerkan suatu hal. Dan sering kali foto tersebut tidak begitu enak dipandang orang lain karena sifatnya berlebihan,” ungkapnya.

Meski dirinya tidak menampik kenyataan merebaknya fenomena foto selfie di kalangan pengguna media sosial, tapi gaya foto ini sejatinya dapat diterapkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. “Selfie itu baik jika foto yang dipamerkan untuk tujuan yang lebih bermanfaat, misalnya foto sebelum berolahraga dan sesudahnya,” timpalnya.

Senada, Muhammad Abdul Wahid juga setuju dengan foto selfie untuk tujuan kemaslahatan publik. “Jika fotonya nanti memberi dampak positif, why not. Misalnya foto selfie sehabis mengikuti lomba, atau narsis dengan trofi yang berhasil diraih, secara tidak langsung akan memberi motivasi orang lain untuk berprestasi lebih dari yang kita dapatkan,” ungkap lulusan Matros tahun 2012 itu.

Terlepas dari pro dan kontra, fenomena memotret diri itu tampaknya akan terus menanjak popularitasnya, terlihat dari banyaknya foto narsis yang dipajang di beranda media sosial. Disadari atau tidak, Hampir seluruh pengguna media sosial di jagad maya nyaris pernah menjajalnya. Inilah gaya hidup mempertontonkan ke-aku-an yang kian digandrungi oleh segala usia. (Agus Ahmad Fadloli)

Terakhir diperbarui pada Selasa, 25 Februari 2014 07:44

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.