Masuk

Maria: Jangan Gugup Hadapi Soal Bahasa Indonesia

Banner Sukses UN 2014 di MA Matholi'ul Huda Troso.Troso, MAMHTROSO.com – Menghadapi soal Bahasa Indonesia pada Ujian Nasional (UN) atau tes-tes lain sebisa mungkin dikerjakan dengan tenang. Sebab jika gugup, peserta tes akan kesulitan menangkap maksud dari soal mata ajar tersebut.

“Jangan nervous, jangan gugup kalau menghadapi soal Bahasa Indonesia,” kata Maria Ulfa, S.Pd. pada MAMHTROSO.com, kemarin (16/3/2014).

Guru Bahasa Indonesia di MA Matholi’ul Huda Troso itu mengungkapkan, tipe soal Bahasa Indonesia menuntut pemahaman teks bacaan yang relatif panjang. Hal itu berbeda dengan tipe soal mata ajar lain seperti matematika yang sudah ada rumus singkat pengerjaannya. “Kita harus paham dulu isi bacaan tersebut, baru kita menyimpulkan, misalnya menentukan ide pokoknya.”

Maria Ulfa, S.Pd.Tak cukup dengan paham saja, siswa juga dituntut jeli saat memilih jawaban dari beberapa pilihan yang tersedia. “Jika tidak (jeli), kita bisa terkecoh dengan jawaban jebakan yang sekilas tampak sama.”

Menurut Maria, faktor nervous tak jarang membuyarkan konsentrasi peserta tes selama berada di ruang ujian. Akibatnya, mereka bisa saja mengabaikan hal-hal teknis seperti ketelitian saat mengisi lembar jawab komputer (LJK). “Terkadang ada juga yang secara tidak sadar merusak LJK saat terburu-buru menghapus jawaban yang salah.”

Untuk menghindarinya, dia punya beberapa kiat. “Pertama, persiapkan mental sebaik mungkin. Bisa dengan berdoa atau yang lain. Kedua, perbanyak membaca contoh-contoh teks sebagai latihan. Ketiga, tanamkan pola pikir bahwa Bahasa Indonesia tidak sesulit yang dibayangkan.”

Bahasa Indonesia menjadi mata ajar pertama yang akan dihadapi peserta Ujian Nasional (UN) tingkat sekolah menengah atas dan sederajat mulai 14 April 2014 mendatang. Mata ajar ini sering kali menjadi kekhawatiran tersendiri bagi sebagian peserta UN karena dianggap lebih sulit dari mata ajar yang lain.

Kesulitan itu salah satunya disebabkan oleh banyaknya soal teks bacaan yang diberikan sehingga membutuhkan waktu pemahaman yang lebih lama. Belum lagi model jawaban yang hampir mirip. (Agus Ahmad Fadloli)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.