Masuk

Upacara Pengibaran Bendera, Nasir: Menghayati Falsafah Pensil

Featured Ahmad Azhari Nasir membaca Pancasila. Agus Ahmad Fadloli Ahmad Azhari Nasir membaca Pancasila.

MAMHTROSO.COM, TROSO – Upacara pengibaran bendera di awal pekan kegiatan belajar-mengajar kembali digelar di halaman kampus MTs-MA Matholi’ul Huda Troso, Sabtu (29/11/2014). Bertindak selaku pembina upacara, Ahmad Azhari Nasir.

Di dalam amanatnya, guru mata pelajaran Quran Hadits, Tafsir, Qiraatul Quran, dan Fiqih itu mengajak seluruh peserta upacara untuk menelaah filosofi dari sebatang pensil.

Mengutip dari buku “Like the Flowing River” karya Paulo Coelho, Nasir mengungkapkan setiap benda yang ada di dunia ini memiliki makna dan fungsi masing-masing. Tidak hanya benda-benda yang tampak besar dan megah, benda yang mungil dan tampak sederhana pun memiliki fungsi yang unik. Sebut saja pensil.

“Meskipun berukuran kecil, tapi pensil ternyata mengandung falsafah yang luar biasa bila kita kaitkan dengan kehidupan kita,” ungkap Nasir.

Nasir mengatakan, sedikitnya ada lima filosofi kehidupan yang dapat diambil dari pensil. “Kita dapat belajar prinsip hidup darinya,” imbuh dia.

Pertama, pensil dapat menjadi pengingat bagi manusia akan kekuasaan Allah. Layaknya sebuah pensil ketika digunakan untuk menulis, manusia dalam melakukan segala macam aktivitas di dunia juga tidak akan lepas dari campur tangan Allah. “Dia lah yang senantiasa membimbing manusia. Maka, ketika kita sedang berbuat sesuatu, maka mintalah bimbingan kepada Allah, dan jangan pesimis dalam menatap masa depan,” jelas Nasir.

Pensil, lanjutnya, juga dapat mengingatkan manusia akan arti penting perjuangan. “Ketika di tengah-tengah kita sedang menulis, pensil tak jarang bujel (rata, red), dan kita perlu merautya agar lancip kembali,” kata Nasir.

“Bila dikiaskan dalam kehidupan, proses perautan itu sama halnya dengan usaha melelahkan atau bahkan menyakitkan sebelum akhirnya menggapai kemudahan dan kebahagiaan,” lanjutnya.

Filosofi ketiga dari pensil, ungkap Nasir, adalah usaha memperbaiki diri. “Ketika kita salah saat menulis, hal yang kita lakukan adalah menghapusnya, kemudian memperbaiki kesalahan tadi. Sama juga ketika kita sedang melakukan kekeliruan, maka perlu ada usaha untuk menghapus kesalahan tersebut,” jelasnya.

“Jika di lingkungan sekolah, peran penghapus itu adalah para guru kita,” tambah dia.

Lebih lanjut, kualitas diri manusia juga dapat dianalogikan dengan sebatang pensil. “Bagian terpenting dari pensil bukan pada bagian luarnya, melainkan pada bagian dalam, yaitu arangnya. Demikian juga dengan manusia. Kualitas manusia tidak dilihat dari penampilan fisik seseorang, tetapi terletak pada hati, pikiran, dan karakternya,” paparnya.

Terakhir, manusia pasti menghasilkan rekam jejak yang harus dipertanggungjawabkan ketika di akhirat. “Dengan pensil kita bisa membuat goresan yang baik atau jelek. Manusia juga demikian, harus sadar bahwa bahwa apapun yang diperbuatnya akan meninggalkan kesan tertentu. Sehingga, selallu berhati-hati dan sadar terhadap segala tindakan kita di dunia,” ujarnya. (Agus Ahmad Fadloli)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.