Masuk

Upacara Bendera – Fista Nihayah, S.Pd. : Contohlah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

Featured Upacara Bendera – Fista Nihayah, S.Pd. : Contohlah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib

MAMHTROSO.COM – Madrasah Tsanawiyah (MTs.) dan Madrasah Aliyah (MA) Matholi’ul Huda Troso gelar upacara pengibaran bendera merah putih pagi tadi, Sabtu (13/2/2016). Upacara pengibaran bendera adalah agenda rutin yang dilaksanakan seminggu sekali pada hari Sabtu. Meskipun sebagai lembaga pendidikan berstatus swasta tetapi MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso selalu mengupayakan terlaksananya upacara ini. Selain untuk memupuk rasa cinta tanah air, juga bisa melatih siswa-siswi agar lebih disiplin.

Petugas upacara yang digilir dari Pasukan khusus (PASUS) MA dan MTs. Bertugas tiga kali untuk Pasus MA dan dua kali untuk MTs. Kali ini yang mendapatkan tanggung jawab untuk bertugas di Upacara pengibaran Bendera adalah Pasus dari MTs. Upacara yang dipimpin oleh Muhammad Syahri Romadhon siswa asal Kelas IX C ini ternyata juga pertama kalinya melibatkan siswa dari kelas VII yaitu sebagai pembawa acara Nihayatus Sa’adah dan Aulia Fitriani sebagai pembaca UUD 1945.

Fista Nihayah, S.Pd. memperoleh kesempatan untuk menjadi Pembina upacara kali ini. Beliau memberi nasihat dan mengingatkan motto serta visi dari MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso. “Apa motto madrasah kita ? Iya, Maju untuk Berkhidmat. Dan apa visi madrasah kita ? Luhur dalam Budi, Tinggi dalam Prestasi. Ini adalah motto dan visi yang mudah kita ucapkan tapi sulit untuk dilaksanakan”, ucap beliau di awal pidatonya.

Menurutnya untuk mencapai motto, visi dan misi madrasah ini siswa tidak bisa kalau hanya datang dan pulang saja. Tetapi siswa harus punya niat, tahu tujuan mereka bersekolah di MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso, dan yang paling penting adalah cinta dengan ilmu pengetahuan. Bahkan beliau mencontohkan salah satu sahabat Rasulullah SAW. Yaitu Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

“Dalam hadits rasul beliau berkata, Ana madinatul ilmi wa Ali babuha, saya adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”, tambahnya.

Fista mengajak siswa-siswi supaya meneladani kisah Sayyidina Ali, karena saking cintanya ali dengan ilmu pengetahuan bahkan Rasulullah sampai menggap bahwa Sayyidina Ali adalah pintu dari ilmu tersebut.

Selain mencintai ilmu, Fista juga memotivasi siswa-siswa supaya lebih menghormati gurunya. Karena masih ada beberapa siswa yang ketika proses belajar mengajar tidak konsentrasi memperhatikan penjelasanya gurunya, tetapi malah lebih memilih asik bercanda-tawa dengan teman sebangkunya.

“Ali pernah berkata, jika ada seorang guru yang mengajariku satu huruf-pun maka aku siap menjadi budaknya, inilah saking hormatnya Ali kepada gurunya sehingga membuatnya menjadi salah satu sahabat yang paling cerdas diantara sahabat-sahabat yang lain”, tutup Fista dalam pidatonya.

 

(Syah)

Terakhir diperbarui pada Sabtu, 13 Februari 2016 14:25

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.