Masuk

Kemadrasahan Hari Kedua – Noor Ubaidillah, S.Pd.I. : Dengan Kesederhanaan Pasti Akan Meraih Kemuliaan

Featured Kemadrasahan Hari Kedua – Noor Ubaidillah, S.Pd.I. : Dengan Kesederhanaan Pasti Akan Meraih Kemuliaan

Troso, MAMHTROSO.com – Melanjutkan agenda kemarin, MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso adakan kemadrasahan sesi kedua pagi ini, Kamis (20/7/2017). Acara ini adalah bagian dari Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) yang dilaksanakan setiap pagi pukul 07.00 WIB di halaman madrasah. Rencananya kemadrasahan ini akan dilaksanakan hingga 2-3 hari kedepan.

Setelah kemarin Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso, Drs. H. Nur Kholis Syam’un memberikan ceramah tentang arah hidup yang fundamental dilanjutkan penjabaran panca jiwa yang pertama “Keikhlasan” untuk siswa-siswinya, kali ini giliran Noor Ubaidillah, S.Pd.I. Kepala Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso menyampaikan panca jiwa yang kedua yaitu tentang “kesederhanaan”.

Pada awal ceramahnya beliau mengutip salah satu ayat Al qur’an Surat Al A’raf ayat 31 yang berbunyi :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ …

Artinya : … Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Selain memaparkan ayat Al qur’an tersebut, beliau juga menyebutkan 4 etika untuk menuntut ilmu. Pertama, siswa harus mensucikan hatinya. Kedua, memiliki niat yang ikhlas hanya karena Allah. Ketiga, dapat mengambil pelajaran dari siapapun dan dimanapun. Keempat, memiliki jiwa yang sederhana. Jadi kesederhanaan yang menjadi salah satu panca jiwa di MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso ini adalah bagian yang sangat penting sebagai pedoman berkehidupan.

Kesederhanaan yang dimaksud adalah siswa berperilaku sesuai dengan kemampuan dan kebutuhannya bukan atas dasar keinginannya. Sederhana adalah memprioritaskan hal-hal yang penting sesuai dengan tempatnya. Sederhana bukan berarti berpakaian robek-robek atau berpakaian kucel tidak pernah disetrika. Justru itu namanya “kemproh” atau jorok. Sederhana itu hanya sesuai dengan peraturan tidak berlebih-lebihan. Sebagai contoh siswa diwajibkan memakai sepatu hitam ke sekolah, jika ada yang memakai sepatu berwarna pink inilah yang dimaksud berlebihan. Siswa tidak diizinkan membawa handphone atau smartphone ke sekolah, jika ada siswa yang membawa inilah sikap berlebihan. Uang administrasi belum lunas tetapi menuntut orang tua meminta handphone baru inilah yang disebut berlebihan.

Orang yang terbiasa hidup sederhana pasti menjadi orang yang mulia, karena orang yang sederhana biasanya tahu mana yang penting dan mana yang tidak penting. Selalu bekerja keras tetapi tidak untuk diperlihatkan kepada orang lain.

Diakhir sesi Drs. H. Nur Kholis Syam’un menambahkan bahwa sikap sederhana tidak akan bisa dilaksanakan jika seorang anak terbiasa menuntut orang tua. Anak yang memiliki mental penuntut orang tua untuk mendapatkan sesuatu adalah anak-anak yang rapuh dan lemah. Mereka akan sangat sulit berkembang jika orang tuanya sudah tiada. Hal ini tentu karena anak tersebut sudah terbiasa semuanya disediakan oleh orang tua. (Syah)

Terakhir diperbarui pada Kamis, 20 Juli 2017 11:35

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.