Masuk

Hari Kedua Kemadrasahan, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. Jelaskan Pancajiwa “Kesederhanaan”

Featured Hari Kedua Kemadrasahan, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. Jelaskan Pancajiwa “Kesederhanaan”

Troso, MAMHTROSO.com – Hari kedua diselenggarakannya “kemadrasahan” sebagai bentuk kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) pagi ini, Ahad (21/7/2019). Dilaksanakan di halaman madrasah dan diikuti oleh seluruh civitas akademika MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso.

Kali ini giliran Kepala Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso Noor Ubaidillah, S.Pd.I. memberikan penjelasan tentang nilai-nilai dari jiwa “kesederhanaan”.

Sebelum menerangkan jiwa kesederhanaan beliau mengingatkan bahwa MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso ada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Matholi’ul Huda Troso. Arti dari pendidikan islam ini tentu siswa-siswinya harus bisa menunjukkan nilai-nilai sebagai seorang muslim yang sejati.

Dalam surat al Furqon : 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا

Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir”.

Dari ayat tersebut beliau menerangkan bahwa kesederhanaan adalah mempergunakan apa yang dipunya tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak medit. Kesederhaan ini meliputi semua aspek, mulai dari perilakunya, cara berfikirnya, cara bicaranya, gaya hidupnya, dll. seperti halnya dalam berpakaian.

“misal nganggo pakaian, yo orak sing uapik-apik men, yo orak sek welek terus kemproh”, ungkap Noor Ubaidillah, S.Pd.I.

Beliau menceritakan kisah Rasulullah ketika sudah berhasil mendakwahkan islam usai fathul makkah, akan tetapi beliau masih hidup sangat sederhana. Di dalam rumahnya hanya ada satu tempat tidur dari pelepah daun kurma, dan tempat minum yang biasanya. Maka kemudian sahabat Umar bin Khattab terharu dan bertanya kepada Rasulullah kenapa masih hidup sesederhana itu meskipun sudah berhasil menaklukkan kota Mekkah. Rasulullah menjawab bawa dirinya bukanlah raja tetapi utusan Allah.

Dari cerita tersebut jika dihubungkan dengan kehidupan siswa-siswi, maka untuk hidup sederhana cukup dikembalikan kepada niat. Seorang siswa niat ke sekolah untuk menuntui ilmu, maka harusnya hanya fokus pada tujuan itu. Dan melupakan hal-hal yang lain. Seperti contoh make-up wajah, memang dilarang di madrasah. Ini supaya terbiasa dengan pola hidup sederhana.  

Contoh yang lain, jajan ketika istirahat. “Jika jajan 2 bakwan dan satu bungkus minum sudah cukup, kenapa masih ada bakso, dan yang lainnya. Jika pergi ke sekolah diantar bapaknya pakai motor yamaha 75 sudah sampai di madrasah, kenapa harus minta dibelikan motor. Jika uang infaq seribu-seribu bisa diambilkan dari uang saku, kenapa harus minta dari orang tua”, tandasnya.

Jiwa kesederhanaan sudah tertulis dalam tata tertib madrasah. Dan tata tertib madrasah ini tentu sudah disesuaikan dengan hukum-hukum islam. Supaya siswa-siswi MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso menjadi seorang muslim-muslimah sejati. (Syah)

Terakhir diperbarui pada Senin, 22 Juli 2019 13:09

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.