Masuk

Upacara Pengibaran Bendera - Dewi Setyana, S.Pd.I. : Berkata-katalah yang Baik, Atau Lebih Baik Diam

Featured Upacara Pengibaran Bendera - Dewi Setyana, S.Pd.I. : Berkata-katalah yang Baik, Atau Lebih Baik Diam

Troso, MAMHTROSO.com – Seperti biasa pada Sabtu pagi seluruh siswa MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso mengikuti Upacara Pengibaran bendera Merah Putih kemarin, Sabtu (26/10/2019).

Upacara ini merupakan agenda rutin madrasah setiap awal pekan yang menandai dimulainya kegiatan belajar mengajar di madrasah tersebut. Dari pantauan MAMHTROSO.COM, Petugas upacara pada pagi ini diemban oleh perwakilan siswa perkalian Kelas IX MTs. Matholi’ul Huda Troso. Dipimpin oleh Muhammad Fikri Haikal (9 A) beserta teman-temannya, pelaksanaan Upacara pengibaran bendera ini dapat berjalan dengan lancar.

Dewi Setyana, S.Pd.I. menjadi pembina upacara menyampaikan amanatnya tentang menjaga lisan. Diawali dengan banyak pepatah, lidah tidak bertulang, terpleset kaki lebih baik dari pada terpleset lisan, diam itu emas, mulutmu harimaumu, dll. semua pepatah tersebut mengarah pada satu organ manusia yaitu mulut. Karena meskipun hanya mulut, bentuknya kecil, tetapi dari organ satu ini memiliki efek yang luar biasa. Sering anak-anak masih berkata-kata kotor, bahkan sering dalam forum ghibah atau membicarakan kejelekan orang lain.

Dalam sebuah Hadits Nabi dijelaskan bahwa :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.” HR. Bukhari.

Mulut adalah salah satu organ yang sangat penting dalam kehidupan. Karena tanpa organ tersebut manusia tidak bisa makan, minum, berbicara, dll. Maka sebagai manusia harus bersyukur masih diberikan anugrah mulut dengan cara menjaganya dengan baik. Tidak hanya makan dan minuman yang baik tetapi juga berucap yang baik.

Mulut sangat bermanfaat jika digunakan tepat pada waktu dan tempatnya. Kalau ada anak yang ketika dinasihati oleh gurunya kemudian menjawab dengan kata-kata acuhnya “loss”, hal ini tentu akan menyakiti hati.

Ingat bahwa dengan mulut dapat menyakiti hati orang lawan bicara. “Ketika kalian terluka bisa dilihat lukanya terbuka, terasa sakit 1 minggu 2 minggu, ketika sembuh akan hilang. Tetapi jika terluka hatinya karena mulut, bisa saja 1 tahun 2 tahun bahkan selamanya tidak akan hilang”, ungkap Dewi.  

Jangan sampai siswa-siswi menjadi penyebab sakit hati temannya, gurunya, orang tuanya karena disebabkan mulut. “Jangan sampai lisanmu menyakiti teman, gurumu, dan orang tuamu”, pungkasnya. (Syah)

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.