Masuk

Kemadrasahan MTs., MA dan Ponpes Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara Tahun 2022 - Tanamkan Pancajiwa dan Ideologi Madrasah

Featured Kemadrasahan MTs., MA dan Ponpes Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara Tahun 2022 - Tanamkan Pancajiwa dan Ideologi Madrasah

Troso, MAMHTROSO.com – Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), dan Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso selenggarakan Sesi Kemadrasahan selama 5 hari kemarin, Kamis – Selasa (21-26/7/2022). Di madrasah-madrasah lain kegiatan ini juga sering disebut Masa Ta’aruf Siswa Madrasah (MATSAMA) yang dilaksanakan di awal tahun pelajaran untuk memperkenalkan ideologi dan tata tertib madrasah.

Acara ini dilaksanakan di pagi hari pada pukul 07.00 WIB – 08.15 WIB di Gedung Serbaguna. Tidak hanya diikuti oleh siswa dan satri baru namun seluruh civitas akademika MTs., MA, dan Ponpes Matholi’ul Huda Troso. Hal ini dimaksudkan agar siswa dan santri baru mengenal ideologi madrasah, selain itu juga untuk mengingatkan kembali kepada siswa dan santri lama. Selama 5 hari para nara sumber bergantian menyampaikan tentang Visi, Motto, Pancajiwa, dan Tata Tertib Madrasah. Di setiap awal acara siswa dan para santri menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Mars MH Troso, dan Yalal Wathon.

Hari pertama, Kamis (21/7/2022) Pimpinan Pondok Pesantren, Drs. H. Nur Kholis Syam’un menyampaikan Pancajiwa yang pertama “Keikhlasan”. Pancajiwa adalah ruh yang harus dimiliki oleh seluruh siswa agar mencapai visi madrasah yaitu menjadi generasi Luhur dalam Budi dan Tinggi dalam Prestasi. Sebelum menyampaikan Pancajiwa yang pertama beliau juga menyampaikan Motto Madrasah. Atas ide beliau Motto madrasah yang ditetapkan adalah Maju untuk Berkhidmat artinya MTs., MA, dan Ponpes Matholi’ul Huda Troso semakin maju untuk melayani masyarakat, tidak semakin mahal dan sulit dijangkau masyarakat.

“Keikhlasan” adalah jiwa pertama yang paling penting dimiliki siswa-siswi dan para santri dalam menuntut ilmu. Menurut beliau siswa dan satri harus ikhlas diajar, ikhlas dididik oleh guru. Siswa yang ikhlas dididik oleh gurunya pasti hasilnya akan berbeda dengan siswa yang tidak ikhlas. Guru punya kewajiban mendidik siswa, dan siswa wajib patuh kepada guru.

Imam al-Ghazali pernah mengatakan,

الناس كلهم هلكى إلا العالمون ، والعالمون كلهم هلكى إلاالمؤمنون، والمؤمنون كلهم هلكى إلا العاملون ، والعاملون كلهم هلكى إلا المخلصون

Artinya : "Setiap manusia akan binasa kecuali orang-orang yang berilmu. Orang yang berilmu pun akan binasa kecuali yang orang-orang yang beriman. Orang yang beriman juga binasa kecuali orang-orang yang beramal, dan orang yang beramal akan binasa kecuali orang-orang yang ikhlas." Dari kutipan tersebut jelas bahwa dasar dari segala amal perbuatan adalah keikhlasan. Maka jiwa keikhlasan ini menjadi syarat utama seluruh siswa dan santri di MTs., MA, dan Ponpes Matholi’ul huda Troso agar mendapat ilmu yang bermanfaat.

Hari Kedua, Sabtu (23/7/2022) giliran Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso, H. Ahmad Harisul Haq, Lc. menyampaikan Pancajiwa yang kedua, “Kesederhanaan”. Jiwa Kesederhanaan ini bisa diaplikasikan dalam semua hal. Misalnya dalam berpakaian, berperilaku, makan-makanan, dandanan, kendaraan, dll. Termasuk pada surat Al Furqan ayat 67 sebagai berikut:

 وَالَّذِيْنَ اِذَآ اَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا

Artinya : “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.”

Siswa-siswi di MTs., MA dan Ponpes Matholi’ul Huda Troso memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Yang orang tuanya kaya sepatutnya tidak boleh membanggakan dirinya. Dalam Kutaib terdapat Tata Tertib salah satunya adalah tidak boleh memakai perhiasan/aksesoris yang berlebihan. Termasuk dilarang memakaai make up yang tebal (menor), modifikasi motor dengan knalpot bising, ukuran ban kecil, tas dan sepatu yang mahal. Semua itu dalam rangka untuk membiasakan hidup sederhana.

 إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”. HR. Muslim.

Hari Ketiga, Ahad (24/7/2022) Kepala Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso, Dra. Wafiroh menyampaikan Pancajiwa yang ketiga, “Kemandirian”. Beliau menjelaskan bahwa Kemandirian adalah suatu sikap atau kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah tanpa tergantung dengan orang lain.

"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud As memakan panganan dari jerih payahnya sendiri." (HR. Bukhari). Meminta-minta sama saja merendahkan diri sendiri. Dari hadits tesebut beliau menjelaskan bahwa jiwa kemandirian adalah jiwa fitrah manusia yang berfikir bebas. Karena setiap manusia mau menjadi baik atau buruk itu adalah kehendak dirinya sendiri.

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

“Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum itu sendiri”.

Contoh kebiasaan-kebiasaan di madrasah yang harus dilandasi jiwa kemandirian; Pertama, membayar infaq. Semestinya infaq ini diambil dari uangnya sendiri, dari uang saku. Tidak malah meminta tambahan dari orang tua khusus untuk berinfaq. Maksud dari madrasah Gerakan infaq ini digunakan untuk melatih siswa-siswi infaq dari uangnya sendiri. Contoh kedua, menjelang ulangan para guru biasanya sudah memberikan bank soal. Semestinya siswa dengan mandiri mengerjakannya, tidak malah menggantungkan ke teman yang lain. Contoh ketiga, tentang kebersihan lingkungan madrasah. Jiwa kemandirian perlu ditanamkan untuk peduli ketika lingkungan kelas terasa kotor. Siswa harusnya dengan kesadarannya membersihkan lingkungan kelasnya, tidak usah menunggu diperintahkan oleh guru.

Hari Keempat, Senin (25/7/2022) Waka. Kesiswaan MA Matholi’ul Huda Troso, Karwadi, S.Ag. berkesempatan menyampaikan Pancajiwa keempat, “Penolong”.

“Siswa Madrasah ini mau dibawa kemana ? Ibarat madrasah ini adalah sebuah kapal yang ditumpangi para siswa dari pelabuhan menuju ke sebuah pulau yang indah bernama Pulau Luhur dalam Budi dan Tinggi dalam Prestasi yang dihuni oleh generasi-generasi Rabbani”, ungkap di awal pidatonya.

Beliau menjelaskan bahwa jiwa “Penolong” adalah jiwa bentuk kepedulian kepada teman, lingkungan, dan diri sendiri, tidak masa bodoh dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar. Siapapun yang membutuhkan pertolongan, maka semestinya harus ditolong. Dan lebih baik menawarkan pertolongan tidak udah menunggu dimintai pertolongan.

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

Artinya: "Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, jangan tolong menolang dalam berbuat dosa dan permusuhan".

Atau dalam istilah jawa ada pepatah “Sopo sing nandur, bakal ngunduh”.

Salah satu contoh jiwa penolong yang kongrit untuk siswa-siswi adalah dengan menjadi manusia-manusia yang berakhlak mulia baik di lingkungan madrasah maupun di masyarakat. Dengan begitu secara tidak langsung akan menarik minat masyarakat kepada madrasah. Ikut menolong madrasah dan membesarkan madrasah dengan menjadi generasi-geransi Rabbani.

Hari kelima, Selasa (26/7/2022) giliran salah satu Ustadz Ponpes Matholi’ul Huda Troso, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. beliau menyampaikan Pancajiwa kelima, “Ukhuwah Islamiah”. Secara istilah Ukhuwah Islamiah adalah rasa persaudaraan yang didasari nilai-nilai keislaman. Tetapi dalam arti luas setiap siswa juga harus menyadari bahwa ada hubungan ukhuwah basariyah. Yang artinya rasa persaudaraan yang muncul atas dasar sesama manusia.

Jiwa Ukhuwah Islamiah akan tumbuh jika diawali saling Ta'aruf, saling pengenal. Mengenal antar siswa dan santri tidak hanya Namanya saja. Tetapi mengenal dengan seutuhnya mulai dari sifat, karakter, dan kebiasaannya. Hal tersebut sangat penting agar muncul rasa saling menghormati. Setelah ta’aruf pasti akan muncul Tafaul, yaitu rasa menjamin semuanya nyaman dan saling percaya. Dan banyaknya agenda di madrasah seperti Class Meeting, LKP, Pentas Seni, dan Panggung Gembira salah satu tujuannya adalah untuk membangun jiwa ukhuwah islamiah. Jangan sampai memaknai banyaknya agenda di madrasah hanya untuk hura-hura. Jika ada yang berfikir seperti itu berarti belum faham dan dapat menimbulkan fitnah.

بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

Artinya : "Ilmu itu adalah cahaya, dan cahaya tidak akan diberikan kepada orang maksiat".

Setelah menyampaikan Pancajiwa, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. melanjutkan menyampaikan Tata Tertib Madrasah. Beliau menekankan bahwa adanya Tata Tertib ini adalah untuk mengarah pada akhlakul karimah, sesuai visi Luhur dalam Budi, Tinggi dalam Prestasi. Dan Tata tertib di madrasah ini sesuai dengan syariat islam. Maka setiap siswa dan santri yang menta’ati Tata Tertib ini adalah sebuah bentuk ibadah yang berpahala. (Syah)

Terakhir diperbarui pada Senin, 01 Agustus 2022 07:56

Berikan komentar

Pastikan Anda memasukkan informasi yang diwajibkan (*). Dilarang menggunakan kode HTML.