Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Mualaf Namibia: Islam Beri Dampak Positif

MAMHTROSO.COM -- Abdullah Aziz Sayman, seorang teman Muslim berusia 24 tahun, menginginkan agama yang benar. Sayman kembali setelah bertemu seseorang dari Cape Town, Afrika Selatan, yang memberitahunya tentang Nabi Muhammad SAW dan Islam.

"Awalnya saya hanya mendengarkan saat dia mengatakan kepada saya bahwa umat Islam mengonsumsi makanan halal.Apa yang dia katakan dan apa yang saya lihat membuat saya bahagia. Semuanya sangat menyenangkan."

Umat Islam seharusnya hanya makan daging dari ternak yang disembelih dengan pisau tajam, dengan menyebut nama Allah.Kini barang dan jasa lainnya juga bisa disertifikasi halal, termasuk kosmetik, pakaian, farmasi dan jasa keuangan.

Seperti orang tua Kazombiaze, Abdullah berdiri kagum pada pilihan putra mereka, meski sama sekali tidak tahu tentang Islam.Pendapat mereka telah berubah selama bertahun-tahun karena anak mereka menjelaskan agama tersebut kepada mereka.

"Islam telah membuat dampak positif,"kata Abdullah. Tapi tantangan utama tetap ada. Suara-suara Muslim hampir tidak terdengar saat penganut agama lain menayangkan siaran radio, televisi, dan kolom- kolom tulisan di surat kabar.

Sementara agama menyerukan untuk keluar dan menyebarkan firman Tuhan di mana pun. Sementara umat Islam di Namibia hanya menunjukkan geliatnya di masjid.Mengapa belum ada media massa Muslim? 

"Pertanyaan yang bagus," jawab Imam Ali. Dia mengatakan bahwa memulai sebuah majalah atau surat kabar memerlukan biaya dan untuk itu bantuan pengusaha Muslim sangat dibutuhkan dan memakan waktu lama. 

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/18/02/16/p48zxm313-mualaf-namibia-islam-beri-dampak-positif

Tiga Warisan Mughal

MAMHTROSO.COM -- Dinasti Mughal (1526-1858 M) berdiri di India seperempat abad setelah berdirinya Dinasti Safawiyah (1501 M) di Iran, sementara Dinasti Turki Usmani sudah dua abad sebelumnya (1300- 1918 M). Mughal adalah yang termuda.

Jauh sebelum kemunculannya, ekspansi Islam ke India sudah dilakukan pada masa Dinasti Umayyah di Suriah. Ketika itu Hajjaj bin Yusuf panglima perang Dinasti Umayyah mengirim pasukan ekspansi ke India di bawah pimpinan Muhammad bin Qasim dan Qutaibah bin Muslim bersama 6.000 tentara.

Mereka telah berhasil menguasai India bagian barat, yaitu (kini Pakistan), Bukhara, Kandahar, Samarkhan, dan Sind. Beberapa pengaruh Islam yang berkembang di Mughal adalah sebagai berikut.

Politik 

Sultan Akbar I menerapkan sistem politik toleransi. Semua penduduk atau rakyat India dipandang sama. Mereka tidak boleh dibeda-bedakan karena perbedaan etnis dan agama. Prinsip ini sama dengan yang diterapkan Rasulullah di Madinah.

Tidak lama setelah Sultan Akbar melakukan ekspansi yang sangat luas sebagai yang tersebut di atas, iapun meninggal dunia pada tahun 1605 M, kajayaan yang telah ia capai dapat diteruskan oleh tiga orang Sultan berikutnya.

Kejayaan-kejayaan yang telah dicapai Sultan Akbar I masih dapat dipertahankan tiga Sultan sesudahnya, yaitu Sultan Jahangir (1605-1628 M), Syah Jehan (1628- 1658 M), dan Aurangzeb (1658-1707 M). Karena tiga penerus tersebut sangat berpengaruh.

 

Ekonomi 

Dinasti Mughal dapat melaksanakan kemajuan di bidang ekonomi lewat pertanian pertambangan dan perdagangan. Di sektor pertanian, hubungan komunikasi antara petani dengan pemerintah diatur dengan baik.

Pengaturan itu lewat lahan pertanian. Ada yang disebut dengan Deh yaitu merupakan unit lahan pertanian yang terkecil. Beberapa Deh bergabung dengan Pargana (desa). Komunitas petani dipimpin oleh seorang Mukaddam. Maka melalui para Mukad dam itulah pemrintah berhubungan dengan petani.Pemerintah mematok bahwa negara berhak atas seper tiga dari hasil pertanian di negeri itu.

Hasil pertanian yang terpenting ketika itu adalah biji- bijian, padi, kacang, tebu, sayur-sayuran, rempah-rempah, tembakau, kapas dan bahan-bahan celupan. Hasil pertanian ini, selain untuk kebutuhan dalam negeri,juga dapat di ekspor ke luar negeri, seperti ke Eropa,Afrika, Arabia, Asia Tenggara. Untuk meningkatkan produksi, Sultan Jehangir mengizinkan Inggris (1611 M) dan Belanda (1617 M) mendirikan Pabrik pengolahan hasil pertanian di tanah Surat.

 

Bidang Seni dan Budaya 

Karya seni yang menonjol adalah karya sastra gubahan para penyair istana,baik yang berbahasa Persia maupun India.Penyair India yang terkenal adalah Muhammad Jayazi, seorang sastrawan sufi yang menghasilkan karya besar berjudul Padmayat. Karya itu berisikan kebajikan jiwa manusia. Pada masa Aurangzeb muncul seorang sejarawan bernama Abu Fadl dengan karyanya Aini Akhbariyang membahas sejarah kerajaan Mughal berdasarkan sultan yang berkuasa.

Selama satu setengah abad, India di bawah Dinasti Mughal menjadi salah negara adikuasa. Ia menguasai perekonomian dunia, dengan jaringan barang-barangnya yang mengusai Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Cina. Selain itu India Mughal juga memiliki pertahanan militer yang tangguh dan kuat. 

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/02/16/p48zfn313-tiga-warisan-mughal

Ta'awudz

MAMHTROSO.COM -- Allah SWT memerintahkan hambanya agar senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya. Memohon perlindungan dalam bahasa Arab disebut dengan ta’awudz. Lafaznya sangat populer, yakni “A’uudzubillahi minas syaithan ar rajiim”. Kalimat ini biasa diucapkan sebelum membaca Alquran berdasarkan surah an-Nahl: 98, “Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk."

 

Dua surah terakhir dalam Alquran mengandung perintah memohon perlindungan. Oleh karena itu, surah al-Falaq dan an-Naas disebut juga al-Mu’awwidzataani. Dalam surah al-Falaq, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon perlindungan kepada Allah hanya satu kali dari empat hal. Perlindungan dari keburukan makhluknya, malam apabila gelap gulita, kejahatan tukang sihir yang meniup buhul-buhul, dan dari orang yang dengki.

 

Dalam surah an-Naas, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk memohon perlindungan kepada Allah SWT sebanyak tiga kali, yakni sebagai Rabb, Malik, dan Ilah manusia. Tiga kali permohonan ini guna melindungi manusia hanya dari satu hal, yakni keburukan bisikan yang tersembunyi, yang membisikkan ke dalam dada manusia, baik dari bangsa jin maupun manusia.

 

Dua surah di atas mengajarkan kepada kita bahwa ancaman yang paling berbahaya bagi manusia bukanlah yang berasal dari luar dirinya. Hal ini tampak saat Allah SWT hanya memerintahkan ta’awudz sebanyak satu kali untuk empat ancaman. Namun, ancaman yang sesungguhnya adalah dari dalam diri manusia sendiri, yakni hawa nafsu dan bisikan setan. Isyaratnya adalah Allah SWT memerintahkan manusia memohon perlindungan tiga kali hanya untuk satu ancaman.

 

Pada kenyataannya, banyak manusia yang tergelincir ke lembah dosa bukan karena dorongan eksternal, tapi karena ketidakmampuan mengendalikan dirinya sendiri. Seorang manusia sering kali menang melawan tantangan-tantangan yang berasal dari luar dirinya. Namun, banyak orang yang justru terjerumus karena menuruti hawa nafsu dan setan yang menggodanya.

 

Saat diusir dari surga, Iblis berkata, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).\" (QS al-A’raf: 16–17).

 

Iblis kembali berkata, "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan semua manusia, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlasin (ikhlas)." (QS Shaad: 81-82). Artinya, ada segolongan manusia yang tidak dapat disesatkan oleh setan, yakni hamba-hamba yang diikhlaskan oleh Allah SWT (mukhlashin).

 

Hidayah dan rahmat Allah yang membuat manusia selamat dari godaan setan. Hal tersebut bisa didapat jika kita senantiasa membiasakan memohon perlindungan kepada-Nya.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/02/14/p442t7396-taawudz

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

Antara Bencana dan Hidayah

MAMHTROSO.COM -- Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS al-Baqarah [2]:155 ).

 

Setiap orang beriman pasti akan dicoba. Huruf lam pada ayat di atas disebut laamut taukid (lam untuk suatu yang pasti ). Jika laamut taukiddigunakan dalam bahasa Arab sehari-hari, hal itu sesuatu yang biasa. Namun, bila berasal dari Yang Maha Pencipta, hal itu sesuatu yang sangat luar biasa. Artinya, setiap orang yang meyakini syariat agama Islam, melaksanakan perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya tidak akan luput dari musibah dan cobaan.

 

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah berkomentar: "Bahwa Allah SWT akan mencoba hambanya terkadang dengan hal yang mengembirakan dan terkadang dengan kesusahan berupa rasa takut dan lapar, sedikit, bahkan hilangnya harta benda, meninggalnya para karib kerabat serta sawah ladang yang tidak mendatangkan hasil seperti biasanya.”

 

Ketika musibah menimpa kita dan saudara-saudara kita, maka ucapan yang seharusnya kita perbanyak adalah Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un(Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali. Kalimat ini dinamakan kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah).

 

”Barang siapa yang membaca istirjaa ketika ditimpa musibah, maka Allah akan mengalahkan musibahnya, memberikan balasan yang baik kepadanya dan menjadikan baginya ganti yang baik yang diridhainya.” (HR As Suyuthi dalam kitab Ad Durrul Mantsur).

 

Said bin Jubair berkata: “Sungguh umat ini telah dikaruniai satu ucapan yang belum pernah diberikan kepada para nabi dan umat-umat sebelumnya, yaitu istirjaa.”

 

Namun, semestinya bukan hanya lidah yang berucap. Lebih dari itu, hati dan seluruh jiwa raga kita harus benar-benar kembali kepada-Nya, meratapi kesalahan, mengakui dosa-dosa yang telah kita lakukan serta mengisi detik-detik hidup kita dengan amal saleh dan ketaatan.

 

Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqarah [2]:157 ). Al Muhtaduun (orang-orang yang mendapat petunjuk) merupakan derajat yang tidak sederhana dalam kacamata Alquran. Derajat ini biasanya diperuntukkan para nabi dan rasul. Akan tetapi, dalam ayat ini, ungkapan al muhtaduun diberikan bagi setiap orang yang mendapat musibah.

 

Modal mereka hanya satu, yaitu sabar. Menjadikan apa yang mereka peroleh sebagai sarana untuk memperoleh berkah, rahmat, dan hidayah Allah. Mereka tidak berkeluh kesah dengan derita yang mereka terima. Bagi mereka, seluruh peristiwa yang terjadi adalah yang terbaik bagi mereka.

 

“Sungguh menakjubkan urusan orang yang beriman, sungguh setiap urusannya mengandung kebaikan. Jika ia ditimpa hal yang menyenangkan, maka ia bersyukur dan itu baik bagi dirinya, dan jika ia ditimpa musibah, ia bersabar dan itu juga baik bagi dirinya. Hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun selain orang yang beriman (HR Muslim)”. Wallahu a’lam.

http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/18/02/15/p46awv396-antara-bencana-dan-hidayah

Berlangganan RSS feed