Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Amenangi Zaman Jahiliyah

MAMHTROSO.COM -- Belum pernah ada penjelasan terinci mengenai keadaan edan bagaimana yang berlangsung di masa Ronggowarsito, satu setengah abad yang lalu.

Moral rusak? Moral siapa yang rusak? Moral masyarakat, ataukah moral para pamong negara atau semua? Moral yang apaan? Tidak jujur? Saling menikam nasib? Menjilat? Korupsi? Menjajah?

Mungkin ya semua itu. Tapi apa kunci pokoknya? Manusia di zaman sesudah itu tak pernah sungguh-sungguh bertanya. Barangkali karena mereka langsung paham, dan itu karena memang mereka secara langsung berada di dalam ke-edan-an yang semacam itu juga. Pokoknya baik pedagang gerobak, tukang becak atau Menteri, langsung saja mengerti yang disebut zaman edan.

Mataram di masa Ronggowarsito tak memiliki keadaan luar biasa yang bisa dijadikan indikator dari ke-edan-an. Maka Mataram Amangkurat II mestinya lebih edan lagi. Maka zaman imperialisme Majapahit juga tak kalah edannya. Maka zaman beratus kecamuk Jawa Kediri Singasari juga sami mawon. Kecuali kalau datang kepada kita seorang pakar yang menjelaskan frame sosial-budaya, sosial-politik, atau apa saja yang menunjuk secara jelas ke-edan-an itu.

Maka kemudian, dekade-dekade sesudah sang Pujangga — yang terus di bawah Walondo itu — juga tidak memiliki alasan untuk tak bisa disebut zaman edan. Dan lantas beberapa dasawarsa terakhir ini, kita juga cukup sibuk menyebut zaman Orde Lama adalah sebuah contoh tajam dari zaman edan. Dan akhirnya, tiba-tiba saja, Pak Harto — Presiden kita sampai sekarang ini — memperingatkan para pemuda bangsa besar ini agar eling lan waspada di tengah zaman edan ini. Edan! Jadi sekarang ini zaman edan tho?

Lha kapan tidak edan?

Sejak Qabil dan Habil, sejak umat Nuh, para Fir’aun, abad pertengahan Eropa, sampai zaman pintar dan canggih ini, kok edan terus. Padahal edan itu lebih gawat dibanding jahiliah. Jahiliah itu ke-edan-an yang muncul merambah karena kebodohan, ketidaktahuan, atau — dengan bahasa agama — karena petunjuk Allah belum sampai kepada para pelakunya.

Adapun edan: itu sudah pinter-pinter, buku menjejali dinding, punya komputer, bisa membidik planet, mampu menusukkan jarum ke pusat bumi, sanggup melakukan pembaruan-pembaruan di bidang yang bermacam-macam termasuk agama.

Tapi kita, insya Allah, tidak edan. Namun justru karena itu maka kita tampak edan…


(Dokumentasi Progress. Tulisan tergabung dalam buku Secangkir Kopi Jon Pakir, Mizan, 1992, hal. 96-98).

https://www.caknun.com/2020/amenangi-zaman-jahiliah/

 

Salah Satu Alasan Mengapa Islam Ajarkan tak Berkeluh Kesah

MAMHTROSO.COM -- Jika kita renungkan dengan baik, sejatinya setiap hari marupakan hari baik yang telah dipersembahkan Allah SWT Sang Pencipta untuk para hamba-Nya. 

Oleh sebab itu, sudah sepatutnya hidup untuk dijalani dan dinikmati bukan diratapi. "Jalanilah hari ini dengan keyakinan bahwa "saya tidak sendiri menjalani hari ini. Ada Allah Yang Mahabesar menemani saya dan pasti segala yang terbaik telah dipersiapkan-Nya bagi saya," kata Pengasuh taklim Majelis Daarul Muhibbin, Habib Abdurrahman. Rahman Habsyi, menyampaikan pesan hikmahnya, Selasa (2/12).

Habib Abdurrahman mengatakan, orang bijaksana adalah mereka yang mampu berbahagia sekalipun melalui masa-masa sulit. Terus berusaha mensyukuri semua nikmat yang telah Allah berikan kepada kita setiap harinya. "Alihkan dan fokuskan pikiran anda kepada segala rahmat dan anugrah dari Allah, di hari ini, bahkan dalam setiap hari," katanya.
 

Hari kemarin telah berakhir tadi malam, jadi jangan lagi membawa masalah-masalah kemarin untuk hari ini. Rasulullah SAW pernah bersabda dalam hadits riwayat ad-Dailamy sebagai berikut:

لَيْسَ البِرُّ في حُسْنِ اللِّبَاسِ وَالزِّيِّ، وَلكِنَّ البِرَّ السَّكِيْنَةُ وَالوَقَارُ. الديلمي في مسند الفردوس "Kebaikan itu bukan ada pada pakaian dan penampilan, melainkan kebaikan itu terletak pada ketenangan dan keteguhan."

"Nikmatilah harimu yang penuh berkah ini," kata Habib Abdurrahman sembari menambahkan, "Life is not be endured, but to be enjoyed. Hidup tidak untuk dipikul, tetapi untuk dinikmati," kata Habib mengutip Hubert H Huphrey. 

https://republika.co.id/berita/qkmv6d320/salah-satu-alasan-mengapa-islam-ajarkan-tak-berkeluh-kesah

 

Jangan Sisakan Dendam Marah Anda di Akhirat, Ini Alasannya

MAMHTROSO.COM -- Setiap manusia pasti memiliki kesalahan satu sama lainnya. Namun terkadang ada di antara mereka yang enggan untuk memaafkan kesalahan atau kekeliruan orang lain, bahkan mengeluarkan sumpah akan menuntut pahala atau ganjaran dari kesalahan orang lain itu saat di akhirat kelak.

Untuk membahas hal itu, pendiri Pusat Studi Alquran (PQS) Jakarta, Prof Muhammad Quraish Shihab, menjelaskan bahwa di antara sifat Allah adalah Muqsith atau dari kata qisth. Banyak yang mengartikannya sebagai adil atau pemberi keadilan. 

Menurut pakar tafsir Alquran itu, kata qisth berbeda dengan adil. Sebab, adil adalah seseorang menuntut semua hak dan memberi semua kewajiban.
 
Dia menjelaskan, dalam hal sengketa, menjatuhkan sanksi yang wajar pada yang bersalah disebut dengan adil. Misalnya saja pencuri, koruptor yang dijatuhkan sanksi sesuai dengan kesalahannya. Hal demikian, menurut dia, disebut dengan adil.

Namun, dia menjelaskan, dalam hubungan antarmanusia termasuk dalam bisnis atau muamalah yang dituntut bukanlah adil melainkan qisth. Kata yang bermakna kedua belah pihak senang atau win-win solution.

Quraish kembali mencontohkan seorang adik mengambil mainan kakaknya. Dia menjelaskan, semestinya orang tua tidak menerapkan adil dalam hal itu melainkan melakukan qisth. "Mau adil? Hei ini bukan punyamu, kasih kakakmu, menangiskan yang kecil. Lakukan qisth, beri tahu kakaknya, nak kasih saja adikmu itu nanti ayah belikan kamu yang lain yang lebih bagus, dua duanya senang atau tidak?" kata Prof Qu raish Shihab dalam kajian daring di laman Youtube.  

Begitu pun dalam hidup, seorang hamba yang mengalah, memaafkan, melimpahkan, atau menyerahkan kesalahan yang diperbuat orang lain ke pada Allah, maka Allah mempunyai cara melakukan qisth. Sebaliknya orang yang menuntut ganjaran orang lain yang pernah berbuat kesalahan justru dikatakan orang yang rugi atau muflis.

"Orang datang mengadu (tentang perbuatan orang lain padanya). Allah berfirman, coba kamu tengok ke atas. Dia lihat satu pemandangan istana yang indah, orang itu bertanya siapa yang punya. Allah menjawab, yang sanggup membeli. Siapa yang sanggup membeli?

Kata orang itu. Allah menjawab, kamu kalau mau beli bisa. Bagaimana saya beli? Tanya orang itu. Allah menjawab, maafkan saudaramu. Itu qisth, dua-duanya senangkan? Jadi, jangan pernah berkata, saya tuntut di akhirat, Anda rugi," katanya.

Karena itu, dijelaskan dalam Alquran surat Fussilat ayat 34  bahwa tidak sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang baik. 

وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ۚ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ “Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”   

Selain itu, ayat tersebut juga menjelaskan, bila seseorang berbuat baik ter hadap orang yang pernah berbuat salah, lawannya itu akan berubah sikap menjadi sahabat yang begitu dekat.

Quraish Shihab menjelaskan pada dasarnya ketika seseorang menyimpan kebencian, kemarahan pada orang lain, sejatinya orang tersebut juga menyimpan cinta dan perasaan untuk menjalin hubungan yang baik. 

Ketika di balas dengan kebaikan, maka orang yang menyimpan kebencian, kemarahan, permusuhan itu pun akan memunculkan kasih sayang untuk menjalin persahabatan. 

Karena itu, Quraish juga menjelaskan pada dasarnya semakin dekat hubungan seseorang dengan orang lainnya maka akan semakin banyak tuntutan yang muncul. Selain itu, semakin dekat hubungan potensi terjadinya salah paham semakin tinggi.

"Agama menginginkan kita ini hidup harmonis, saling maaf memaafkan. Yang lalu sudahlah. Mari kita bina hubungan yang baik karena kalau tidak kita rugi. Bukan cuma rugi di akhirat, kita rugi tidak dapat teman," kata dia.  

https://republika.co.id/berita/qkpy2w320/jangan-sisakan-dendam-marah-anda-di-akhirat-ini-alasannya

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

Gigih dalam Mewujudkan Impian

MAMHTROSO.COM -- Ibarat sebuah lilin, kegigihan “menyinari” diri untuk terus bertahan di tengah ancaman “kegelapan”. Jika terus dipelihara dan dimaksimalkan, banyak solusi akan bermunculan.

Dalam dunia olahraga, kita sering kali menyaksikan ketidakmungkinan yang menjadi kenyataan. Kita pun kerap dikejutkan dengan orang atau peristiwa yang berhasil mengubah kemustahilan jadi kenyataan. Dari turnamen bulutangkis, kita sering melihat seorang yang nyaris kalah, malah membalikkan keadaan dan berhasil menang. Di tenis, di ajang balapan, hingga berbagai arena olahraga lainnya. Inilah kompetisi di mana orang-orang yang pantang menyerah dan terus gigih berjuang, akan mendapatkan hasil yang gemilang.

Pada kondisi tersebut, yang dinamakan sebagai “titik darah penghabisan” benar-benar menjadi “nyata”. Kalau perlu, saat napas tinggal satu tarikan lagi, orang dengan kegigihan yang luar biasa bisa mengubah banyak hal. Mereka yang berjuang habis-habisan, akan mendapat hasil yang luar biasa gemilang.

Lantas, apa sebenarnya nilai kekuatan dari kegigihan yang luar biasa? Barangkali, sebuah ilustrasi ini bisa menjadi penggambaran.

Ada seorang pemuda dan pasangannya. Mereka memiliki sebuah ide untuk menjual suatu barang. Karena merasa itu adalah ide yang orisinil dan pertama, mereka pun sangat optimis akan berhasil. Maka, dengan komitmen yang sangat kuat, mereka pun memproduksi barang tersebut dengan modal yang sangat menguras kantong.

Karena itulah, pilihannya hanya satu, harus sukses! Sebab, inilah “perjudian” di mana hanya dengan keseriusan yang luar biasa—bahkan harus dengan mengorbankan banyak hal—produk tersebut akan bisa diterima pasar.

Singkat cerita, produk tersebut berhasil dibuat. Maka, dengan semangat menggebu-gebu, pasangan muda-mudi itu pun berupaya menitipkan produk inovatifnya ke berbagai toko yang ada. Di sinilah perjuangan yang butuh kegigihan ekstra dimulai. Setiap hari, beberapa set produk itu ditawarkan ke berbagai toko. Tanggapannya sama, “Barang apa ini? Nggak bakal ada yang beli!” Sungguh, sebuah ujian yang tidak mudah. Tapi, mereka pun berusaha meyakinkan diri, bahwa produk itu belum diterima karena memang biasanya, sebuah inovasi yang pertama, belum dianggap lazim sehingga dicap “tidak akan laku”.

Maka, satu toko ke toko lain terus dijelajahi. Tapi, dari hari ke hari, jawabannya nyaris senada. Yang intinya, ditolak! Di sinilah nilai kegigihan diuji. Sebab, jika tidak berhasil, artinya kerugian besar sudah menanti. Maka, dorongan harus sukses itu membuat semangat terus menggebu. Satu demi satu toko terus ditelusuri. Namun jawabannya tetap sama.

Bagi orang yang biasa-biasa saja, rasa pesimis barangkali sangat manusiawi. Rasa ingin mundur dari “arena” mungkin juga tak akan memalukan. Toh, sudah berjuang dan berusaha mati-matian. Tapi, sekali lagi, kegigihan ternyata punya daya dobrak yang luar biasa. Meski secuil, harapan untuk sukses terus digelorakan. Hingga, panas-panas jalan yang ditempuh—plus berbagai penolakan—tak mengurangi tekad untuk menawarkan produk mereka.

Saat semua terasa semakin sulit, saat kegigihan diuji—nyaris di ujung batas kesabaran—peristiwa yang dinanti terjadi. Layaknya orang mendaki gunung ketika sedang mendekati puncak, kelelahan sangat melanda. Namun, justru selangkah lagilah mereka akan mencapai puncaknya. Begitu pula pasangan tersebut. Sebuah toko kecil mau menerima produk mereka. Meski, konsekuensinya mereka harus mau mengurangi keuntungan yang sudah dihitung-hitung sebelumnya. Peristiwa ini “meletupkan” semangat, bahwa jika ada satu toko yang sudah mau menerima, pasti ada toko lain yang juga akan menerima. Di sinilah kegigihan kembali mendapat “jawaban”. Yakni, kengototan seseorang—bahkan bisa dikatakan lebih gigih dari gigih—pasti akan menghasilkan sesuatu yang didambakan.

Dan benar, sejak saat itu—pelan tapi pasti—produk mereka pun mulai dikenal dan diterima masyarakat. Hingga, dengan aneka macam inovasi, produk mereka menjadi merek kartu ucapan nomor satu di Indonesia, bernama Harvest. Ya, itulah pengalaman pribadi saya dan istri, Lenny Wongso, untuk menggambarkan bahwa kegigihan adalah “pintu masuk” kepada gerbang kesuksesan. Itulah saat di mana saya dan istri berjuang dengan kegigihan yang luar biasa, ketika melawan halangan dan rintangan yang terjadi.

Kini, semua perjuangan itu “terbayar” sudah. Namun, bukan berarti perjuangan berhenti. Justru, dengan kesuksesan yang telah diraih, semangat kegigihan itu harus terus dipelihara. Sebab, kita selalu ada “ancaman” berupa hukum perubahan. Seperti yang saya alami dengan masuknya SMS dan aplikasi chatting sehingga bisnis kartu ucapan tak lagi jadi pilihan. Di sini, kegigihan kembali harus “beradu” dengan nasib, agar usaha tetap berjalan. Dengan begitu, inovasi, cara baru, pendekatan baru, produk baru, dan target baru, harus selalu kita canangkan, agar sukses terus berkesinambungan.

https://andriewongso.com/gigih-dalam-mewujudkan-impian/

 

Berlangganan RSS feed