Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Hamengku Negeriku Pusakaku

MAMHTROSO.COM -- Bisakah mengubah kebencian menjadi cinta? Penderitaan menjadi bahagia? Tekanan menjadi kelapangan? Ketertindihan menjadi kemerdekaan? Sebagaimana tuntunan Islam “minadh-dhulumati ilannur”? Kegelapan dihijrahkan, diolah, dikhalifahi, ditransformasi, menjadi cahaya?

Apakah kedua-dua faktor itu yang disebut Tuhan “berpasangan” atau “berjodoh”? Apakah mereka berdialektika? Menyusun harmoni, dengan cara yang terkadang justru berkebalikan?

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلۡأَزۡوَٰجَ كُلَّهَا مِمَّا تُنۢبِتُ ٱلۡأَرۡضُ


وَمِنۡ أَنفُسِهِمۡ وَمِمَّا لَا يَعۡلَمُونَ

Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.

Bukankah kadar kebencian ditentukan kadar cinta, sebelum karena sesuatu hal cinta itu diubah oleh suatu proses menjadi kebencian? Dan kalau sebesar itu kebencian karena sebesar itu pula cinta, bisakah berproses sebaliknya: sedalam itu kebencian akhirnya terolah menjadi sedalam itu pula cinta? Sebagaimana sepekat itu kegelapan menjadikan cahaya menjadi maksimal kebenderangannya?

Mungkin itu yang sedang saya alami terhadap atau di dalam Indonesia. Begitu banyak hawa atau gelombang atau atmosfer atau desakan dan tekanan dari Indonesia yang menerbitkan kebencian di dalam jiwaku. Dari politiknya, media diskomunikasinya, budaya kekuasaannya, kelemahan intelektual kerakyatannya, kerapuhan psikologi nasionalnya, ketersesatan pilihan pengetahuannya, keterseretan ilmunya, kepalsuan demokrasinya, kepura-puraan Pancasilanya dan sangat banyak sekali sumber-sumber lain dari sejarah Indonesia yang siang malam menerbitkan rasa benci dari kandungan terdalam jiwaku.

Tapi justru tekanan-tekanan dahsyat kebencian itu yang memberi cermin di hadapanku betapa besar dan mendalam sejatinya cintaku kepada Indonesia. Dan prinsip penciptaan Allah “khalaqal azwaja kullaha”, membeberkan betapa tak terbatas kemungkinan di antara cinta dengan benci, serta di antara apapun saja yang diperpasangkan atau diperjodohkan oleh Allah dalam kehidupan manusia.

“Berpasangan” atau “berjodohan” itu bisa berdialektika linier biasa, bisa berlipat-lipat, bisa berbalik-balik secara dinamis. Bisa saling menyebabkan dan mengakibatkan. Bisa berganti-ganti hulu hilirnya. Hulu menjadi hilir, berikutnya hilir menjadi hulu yang baru, dalam suatu mekanisme dinamis dialektik yang tanpa batas. Sangkan ternyata adalah paran, paran bisa jadi adalah sangkan itu sendiri. Karena kehidupan itu bulatan atau bundaran. Inna lillahi wa inna ilaihi. Pangkalnya “Hi”, ujungnya pun “Hi”. Pantas pernyataan paling mendasar dari Maha Pencipta yang seharusnya memang menjadi landasan utama cara berpikir dan cara bersikap semua ciptaannya adalah:

رَبَّنا مَا خَلَقْتَ هَذَا بَاطِلاً سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Wahai Rabb Maha Pengasuh kami, niscaya tidaklah segala yang Engkau ciptakan ini sia-sia. Maha Suci Engkau. Selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Ketidaksia-siaan segala ciptaan Allah itu hanya bisa dipahami dan dijiwai kalau manusia mendayagunakan akal pikirannya secara optimal. Dan optimalisasi tugas manusia itu oleh Allah dikonsep dengan memberi pijakan fungsi manusia sebagai Khalifah.

Kemudian kita mangalami sekarang dari kurun ke kurun, dari zaman ke zaman, dari era ke era, dari dekade ke dekade, bahwa manusia mengalami kegagalan mendasar untuk mengkhalifahi tugas dan kewajiban hidupnya. Sistem-sistem yang dibangun oleh manusia terbukti menjadi silaturahmi menjadi silatudhdhulmi. Perhubungan kasih sayang menjadi perhubungan permusuhan dan kebencian. Komunikasi malah menjadi diskomunikasi. Kefahaman membuahkan gagal paham dan salah paham. Pembangunan menjadi perusakan. Kelembutan menjadi kebrutalan. Kemuliaan menjadi kehinaan. Kebenaran menjadi egoisme. Kebaikan menjadi kekonyolan. Keindahan menjadi kekumuhan.

Ayat-ayat Allah yang benar, begitu dipegang di tangan manusia, menjadi sumber pertentangan. Firman-firman Allah yang begitu memuat kebaikan, begitu digenggam oleh manusia malah menjadi egosentrisme dan penguasaan. Narasi wahyu Allah yang begitu indah, begitu diterjemahkan oleh kebudayaan manusia, menjadi kampungan dan kekonyolan.

Kalau melihat berbagai kegagalan manusia ini, maka protes para Malaikat dan tidak bersujudnya Iblis, bukan hanya bermotivasi cemburu atau dengki. Tapi juga ada reasoning futurologisnya.

وَإِذۡ قَالَ رَبُّكَ لِلۡمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٞ فِي ٱلۡأَرۡضِ خَلِيفَةٗۖ


قَالُوٓاْ أَتَجۡعَلُ فِيهَا مَن يُفۡسِدُ فِيهَا وَيَسۡفِكُ ٱلدِّمَآءَ


وَنَحۡنُ نُسَبِّحُ بِحَمۡدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۖ قَالَ إِنِّيٓ أَعۡلَمُ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Allah menutup dan mengunci dialog itu dengan menyatakan “Inni a’lamu ma la ta’lamun”. Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui. Termasuk hal-hal tentang Indonesia hari ini: Allah mengetahui apa yang aku dan kita semua tidak ketahui. Dan pernyataan “Inni a’lamu ma la ta’lamun” itu hanya logis untuk diungkapkan oleh Yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui.

Sementara aku dan kita semua berada pada posisi tidak berkuasa, bahkan tidak berdaya. Bahkan terhadap Indonesia saja pun aku tidak berdaya. Maka kurayakan puja-puji atas Negeriku Pusakaku. Pusaka tidak sekadar dalam arti “warisan nenek moyang” sebagaimana yang tertera di kamus-kamus. Lebih dari itu, pusaka adalah sesuatu yang nyata dan sangat bernilai dalam hidupku. Bernilai tidak terbatas pada jasad dan budayaku, tapi juga bagi seluruh kedalaman jiwa dan rohku.

Itu tetap kuberlakukan di dalam jiwaku meskipun seandainya bangsa Indonesia sendiri sudah tidak lagi memiliki pemahaman dan penghargaan terhadap pusaka. Indonesia Raya tetap adalah pusakaku. Bagian dari harta termahal hidupku. Tak hanya kucintai dan kunjunjung tinggi. Meskipun ia sangat menyakitiku, sangat merendahkan dan meremehkanku. Namun tetap hamengku, ku-wengku, kupeluk dan kupangku pusakaku.

https://www.caknun.com/2021/hamengku-negeriku-pusakaku/

 

Puja-Puji Para Pemimpin Bangsaku

MAMHTROSO.COM -- Kita teruskan perayaan syukur kepada Allah Swt atas anugerah Indonesia raya. Kita lantunkan puja-puji buat para pemimpin bangsa. Orang-orang besar keturunan orang-orang besar. Yang ditiupkan ke dalam jiwa mereka kekuatan bumi dan langit sekaligus. Sehingga sangat mudah menaiki singgasana, sangat kuat tatkala berkuasa, dibela sangat banyak orang dengan seluruh jiwa raga dan hidup matinya.

Mungkin pemimpin-pemimpin besar bangsa Nusantara hingga Indonesia merupakan fakta terkabulnya doa Bapak Brahmana Peradaban sekaligus sesepuh semua Rasul Nabi, yakni Brahm, Abraham atau Ibrahim ‘alaihissalam.

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ


قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan perintah dan larangan, lalu Ibrahim menunaikannya, sehingga Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: Dan kumohon juga semua anak turunku. Allah berfirman: Janji-Ku ini tidak mengenai orang yang zalim.

Dari Brahmana Ibrahim yang kekuatan langit dan bumi berhimpun dalam jiwanya. Ke Ismail As hingga Rasul pamungkas Muhammad Saw. Terus ke dzurriyatuhu Walisongo yang memperoses kepemimpinan Majapahit ke Demak, Pajang, Mataram, Sultan Agung, Pakubuwanan, Bung Karno, menetes hingga pemimpin hari ini.

Andaikan aku ini manusia yang tergolong paling dekat dengan Allah, misalnya 100 besar urutan di bawah 25 Rasul. Yang pasti kuperjuangkan adalah mendapatkan pengakuan dan ridla dari Allah Swt bahwa pemimpin Negeri kami sekarang ini adalah pemimpin terbaik sepanjang sejarah Indonesia. Lebih berprestasi mempersatukan bangsa dibanding Gadjah Mada. Lebih inovatif dan berintegritas budaya melebihi Sultan Agung. 1945 hanyalah kemerdekaan politik. Tetapi sejak 2014 kita mencanangkan kemerdekaan karakter dan kepribadian. 2019 kita meneguhkan kemerdekaan budaya, kemerdekaan ilmu, pengetahuan, dan peradaban.

Andaikan aku adalah Muslim alim saleh sehingga sekurang-kurangnya dalam sebulan 2-3 ditemui oleh Rasululah Muhammad Saw melalui mimpi maupun langsung dalam ibadah shalat malam saya. Yang harus kupastikan adalah restu dan peneguhan dari Kanjeng Nabi bahwa Pancasila dasar Negara kami adalah prinsip dan filosofi paling berkualitas di antara semua Negara-negara di dunia.

Andaikan aku rajin menjelajah semesta-semesta dan jagat-jagat raya ciptaan Allah, ulang-alik ‘Alam Nasut, ‘Alamul Mulki, ‘Alamul Malakut dan ‘Alamul Jabarut. Saya akan menghimpun tanda tangan dari para penghuni alam-alam itu yang mempersaksikan dan memuji bahwa Pemerintah NKRI kami saat ini benar-benar sanggup menggelar dan menggerakkan rahmatan lil’alamin untuk bangsa dan tanah airnya.

Andaikan aku populer dan punya akses tidak hanya di bumi, tetapi juga termasyhur di langit. Andaikan aku viral tak hanya di bumi, tapi juga memperoleh miliaran “like” dari para penghuni sab’a samawat, tujuh lapisan langit. Saya akan melakukan wawancara dan menghimpun rekaman video sebanyak-banyaknya dari para penduduk langit yang menuliskan pernyataan bahwa bangsa dan para pemimpin Indonesia sudah mencapai raputasi besar menciptakan “baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur” yang akan berfungsi sampai ke masa depan anak cucu bangsa Indonesia.

Andaikan aku “Hashin” dan “Mani’” dari segala macam senjata Iblis, Dajjal, Ya’juj Ma’juj. Andaikan wudluku tak bisa dikotori oleh Walhan. Kekhusyukan shalatku tak bergeming oleh Khanzab. Penghidupan rumah tangga dan keluargaku “halal dan thayyib” tanpa kontaminasi Zalanbur. Tidurku hanya bermuatan para Malaikat tanpa seserpih Wasnan maupun Wahhar. Budaya sehari-hariku bebas dari Qafandar. Persuamiistrianku merdeka dari Zawal. Lisan dan tulisanku bersih dari Masuth dan Mathun. Maka saya pastikan bahwa saya menaklukkan semua mereka yang saya sebut namanya itu, melalui berbagai forum, seminar atau pengajian, agar mereka menyadari bahwa cahaya yang membuat sinar yang menjadikan langit dan seluruh alam semesta menjadi terang benderang, adalah sinar “gemah ripah loh jiwawi” dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” yang memancar dari Negeri Kepulauan dari Sabang sampai Merauke.

Andaikan perjalanan Maiyahku tidak terhalangi oleh Haffaf. Bahagia dan deritaku tak diracuni oleh bakteri Tsabur. Wacana dan narasiku steril dari Laqus. Juga HudaisHudazvisJalbanur, Biter, Mansud, Al-Jin maupun As-Syaithan takkan sanggup menterlenakan jiwaku. Maka saya berjuang keras mensosialisasikan kepada tokoh-tokoh alam ghaib itu bahwa “Kunci Khilafah” atau metode pengelolaan kehidupan yang terbaik adalah prinsip “dzurriyyah” atau “’Asya`iriyah” atau “kekeluargaan” atau “oligarki”. Sebagaimana yang dipraktikkan oleh sejarah kepemimpinan Indonesia modern sampai hari ini.

Bangsa Indonesia yang berabad-abad lamanya dikenal dunia sebagai bangsa ahli bertapa, renungkanlah fragmen perjalanan Nabi Musa:

قَالَ أَرَءَيۡتَ إِذۡ أَوَيۡنَآ إِلَى ٱلصَّخۡرَةِ


فَإِنِّي نَسِيتُ ٱلۡحُوتَ وَمَآ أَنسَىٰنِيهُ إِلَّا ٱلشَّيۡطَٰنُ أَنۡ أَذۡكُرَهُۥۚ


وَٱتَّخَذَ سَبِيلَهُۥ فِي ٱلۡبَحۡرِ عَجَبٗا

Muridnya menjawab: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa menceritakan tentang ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali syaitan. Dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali”.

Itu yang di Maiyah disebut sumber keajaiban kisah “majma’al bahrain”. Garis pertemuan antara air laut tawar dan asin. Hikmah tentang benturan. Di garis bentur itu ikan memerdekakan dirinya. Di setiap situasi konflik dan pertentangan, Allah menyediakan keajaiban. “Wattakhadza sabilahu fil bahri ‘ajaba” itu bisa terjadi pada ikannya Nabi Musa, bisa pada hidupmu, keluargamu, bahkan masyarakat dan Negaramu.

Dalam narasi Al-Qur`an, asistennya Nabi Musa melaporkan bahwa ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali. Apa kau berpikir ikan punya kecerdasan strategis untuk mengambil keputusan memerdekakan diri? Maha Subjeknya tetap hanya Allah Swt. Dan kau Khalifahnya Allah.

Maka kau punya akses kepada amrullah, iradatullah dan qadarullah. Jadi online-lah selalu dengan Maha Sumbernya. Tuntunlah dirimu agar memperoleh kemerdekaan pada posisi terjepit oleh benturan itu. Demikianlah engkau. Demikianlah keluargamu. Demikianlah Maiyahmu. Demikianlah keIndonesiaanmu.

Mungkin “majma’al bahrain” Indonesiamu hari ini adalah jepitan dua raksasa: RRC dan Amerika Serikat. Atau dilema-dilema politik, perekonomian, juga kebudayaan di antara dua arus besar global. Tapi bukankah simbolisme kehadiran Rasulullah Muhammad Saw tatkala berhijrah dari Mekah ke Madinah adalah “min tsaniyyatil wada’i”. Cahaya kemarin, hari ini hingga masa depan justru muncul dan memancar dari celah antara dua bukit kekuasaan global itu?

طلع البدر علينا
من ثنيات الوداع
وجب الشكر علينا
مَا دَعَى لِلّٰهِ دَاعْ
أيها المبعوث فينا
جئت بالأمر المطاع
جئت شرفت المدينة
يا خير داع مرحبا

Telah terbit rembulan atas kita. Dari celah dua bukit. Sejak 1945 memprogressi hingga 2021. Wajib kita mensyukurinya. Itulah panggilan dari pemanggil yang mulia. Wahai pemimpin yang diutus kepada bangsanya. Wahai Sukarno hingga Jokowi. Engkau datang untuk ditaati….

https://www.caknun.com/2021/puja-puji-para-pemimpin-bangsaku/

 

Puja Puji Indonesiaku

MAMHTROSO.COM -- Sikap dan perbuatan yang terbaik, mulia, dan selamat adalah bersyukur kepada Allah yang sedemikian bermurah hati memberi rahmat luar biasa kepada kita semua berupa Republik Indonesia yang dahsyat dan cemerlang. Maka sikap yang paling mulia dan selamat, juga adalah memuji Indonesia. Maka mulai nomor tulisan ini aku mengajak semua anak cucuku Jamaah Maiyah untuk lebih kreatif, cerdas dan jeli, serta punya lipatan-lipatan berpikir yang jernih bagaikan air Telaga Haudl, untuk menggali dan menemukan hal-hal tentang Indonesia yang wajib kita syukuri.

Di antara semua makhluk Allah, yang diistimewakan dan merupakan masterpiece (ahsanu taqwim) adalah manusia. Maka di antara seluruh wilayah-wilayah di muka bumi, ahsanu taqwim-nya, masterpiece-nya adalah Indonesia. Tanah airnya yang kaya raya, manusia dan bangsa penghuninya yang ndemenakké. Yang sangat disukai oleh semua makhluk lainnya.

Bangsa yang lembut perilakunya dan indah tata budayanya. Yang tangguh mentalnya. Yang generasi mudanya pandai-pandai dan cemerlang. Yang kaum tuanya penuh kebijaksanaan dan pengayoman. Yang Negaranya merupakan satu-satunya di dunia yang terang-terangan, eksplisit, dan konstitusional menyatakan menyembah dan menomorsatukan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bangsa yang andhap asor, yang penuh rasa tawadlu’ dan kerendahan hati, sehingga selalu bersopan santun meletakkan dirinya di bawah bangsa-bangsa lain. Tidak menyukai kesombongan dan tidak mengunggul-unggulkan dirinya di depan bangsa-bangsa lain di muka bumi.

Allah menganugerahi Indonesia pemimpin besar yang oleh Nahdlatul Ulama melalui konferensi Alim Ulama se-Indonesia bertempat di Cipanas, Cianjur pada 2-7 Maret 1954, digelari Waliyyul Amri Ad-Dharuri bi As-Syaukah. Insyaallah sekarang kita menantikan NU mengangkat dan meneguhkan kembali gelar itu untuk pemimpin yang sekarang. Seluruh bangsa Indonesia dan masyarakat dunia perlu mengerti siapa pemimpin Indonesia saat ini. Aku bersangka baik dan optimis bahwa semua pemimpin Indonesia adalah keturunan orang-orang besar di masa lalu, bahkan tidak tertutup kemungkinan mereka adalah dzurriyah Nabi dan Rasul.

Dari Soekarno hingga Megawati, Susilo Bambang Yudhoyono dan yang sekarang, kekasih Allah yang disembunyikan di balik bungkus jabatan Presiden. Insyallah seorang Wali Mastur alias Satria Piningit yang sepanjang sejarah belum pernah ada pemimpin yang disanjung dan dibela melebihi beliau.

Sebagaimana kita semua sangat menghormati dan menjunjung keturunan Nabi Muhammad saw, para HabibSayyid maupun Syarif, kita juga bersangka baik bahwa para Presiden kita juga keturunan wong-wong agung lan suci di jaman dahulu. Dari Pak Harto ke HB-VIII hingga Mataram, Demak dan Majapahit. Dari pemimpin hari ini ke Bung Karno ke Kraton Pakubuwanan Solo hingga Sultan Agung Hanyakrakusuma yang juga bergaris dari para Wali Songo hingga Rasulullah Saw.

Allah sendiri adalah As-Syakir dan As-Syakur. Maha Bersyukur atas segala kebaikan manusia. Terutama manusia Indonesia, yang terbaik di antara bangsa-bangsa lain di dunia. Malu kalau kita tidak menjadikan perilaku syukur sebagai aktivitas utama hidup kita. Kita adalah bangsa yang paling religius sedunia. Tidak ragu ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, di tengah cara berpikir ateistik dan krisis eskatologi di dunia.

وَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.

Apalagi kita sedang disiksa oleh tha’un, wabah dunia Covid-19.

قُلۡ مَن يُنَجِّيكُم مِّن ظُلُمَٰتِ ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ تَدۡعُونَهُۥ تَضَرُّعٗا


وَخُفۡيَةٗ لَّئِنۡ أَنجَىٰنَا مِنۡ هَٰذِهِۦ لَنَكُونَنَّ مِنَ ٱلشَّٰكِرِينَ

Katakanlah: Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut, yang kamu berdoa kepada-Nya dengan rendah diri dengan suara yang lembut dengan mengatakan: “Sesungguhnya jika Dia menyelamatkan kami dari bencana ini, tentulah kami menjadi orang-orang yang bersyukur”.

Sebagaimana terbukti kepemimpinan Bung Karno sang Proklamator Kemerdekaan Indonesia, berlangsung lestari sampai saat ini dengan kepemimpinan Ibu Megawati meskipun dengan posisi “syakliyah” atau “rasmiyah” atau “shuriyah” atau teknis formal yang berbeda. Dan “uswatun hasanah” atau keteladanan yang baik itu diteruskan oleh Kepala Pemerintahan yang sekarang, dengan putra dan menantunya memimpin wilayah lokal, yang kelak akan bereskalasi menuju kepemimpinan regional dan puncaknya nanti kepemimpinan nasional.

Nasab atau dzurriyah itu penting. Maka kalau engkau seorang pemimpin, anak-anakmu juga harus kau didik sejak kecil dan muda untuk meneruskan kepemimpinanmu. Apalagi Allah pasti mengganjar perbuatan baik manusia berlipat-lipat, bahkan bisa sampai 700 kali lipat.

مَّثَلُ ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمۡوَٰلَهُمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنۢبَتَتۡ سَبۡعَ سَنَابِلَ


فِي كُلِّ سُنۢبُلَةٖ مِّاْئَةُ حَبَّةٖۗ وَٱللَّهُ يُضَٰعِفُ لِمَن يَشَآءُۚ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ

Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan ganjaran bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.

Semua kehebatan para pemimpin Indonesia selama ini adalah ganjaran Allah kepada penderitaan panjang yang dialami oleh bangsamya semasa kolonialisme yang menindas mereka selama ratusan tahun.

وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسۡتُضۡعِفُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ


وَنَجۡعَلَهُمۡ أَئِمَّةٗ وَنَجۡعَلَهُمُ ٱلۡوَٰرِثِينَ

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di tanah itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi tanah air.

Kemerdekaan Indonesia dulu dipilari oleh semangat juang para Hizbullah serta Mujahidin Anshorullah yang memenuhi angkasa Nusantara dengan gema teriakan “Allahu Akbar”. Maka Tuhan Yang Maha Esa memberi bangsa ini anugerah:

وَجَعَلۡنَٰهُمۡ أَئِمَّةٗ يَهۡدُونَ بِأَمۡرِنَا وَأَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡهِمۡ فِعۡلَ ٱلۡخَيۡرَٰتِ


وَإِقَامَ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءَ ٱلزَّكَوٰةِۖ وَكَانُواْ لَنَا عَٰبِدِينَ

Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.

https://www.caknun.com/2021/puja-puji-indonesiaku/

 

3 Nelayan Palestina Terbunuh di Lepas Pantai Gaza

MAMHTROSO.COM -- Tiga nelayan Palestina dilaporkan meninggal dunia dalam ledakan di lepas pantai Gaza, Ahad (7/3) waktu setempat. Kantor berita resmi WAFA mengutip sumber yang mengatakan ketiga pria itu tewas akibat ledakan misterius.

Kepala serikat nelayan Gaza, Nizar Ayyash mengatakan kepada situs berita QNN bahwa ketiga pria itu semua dari anggota keluarga yang sama. Mereka meninggal setelah kapal mereka terkena apa yang dikatakannya rudal di lepas pantai Khan Younis.

Ayyash mengatakan sumber proyektil masih belum diketahui. Kementerian dalam negeri mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pihaknya masih menyelidiki insiden tersebut.

"Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional sedang menyelidiki kematian tiga nelayan menyusul ledakan di kapal mereka di lepas pantai Khan Younis, di selatan Jalur Gaza, pada Minggu pagi," tulis pernyataan Kementerian Dalam Negeri Palestina dikutip laman Aljazirah, Ahad (7/3).

Sementara itu, militer Israel membantah bertanggung jawab atas insiden tersebut. "Militer Israel tidak bertanggung jawab atas insiden itu, dan indikasi kami menunjukkan bahwa kematian mereka disebabkan oleh ledakan di dalam Gaza," katanya dalam sebuah pernyataan.

Kantor berita WAFA melaporkan bahwa angkatan laut Israel pada Ahad sebelumnya menembaki para nelayan Palestina yang berlayar dari kota Gaza. Israel memaksa kapal tersebut untuk kembali ke pantai.

Israel telah mempertahankan blokade di Jalur Gaza sejak 2007. Ini memberlakukan pembatasan ketat pada pekerjaan nelayan di lepas pantai Laut Gaza, dengan alasan keamanan.

Gaza memiliki sekitar 3.000 nelayan. Sebanyak 800 di antaranya hanya bekerja di sekitar 700 perahu.  Sekitar 70 ribu warga Palestina di Gaza mencari nafkah secara langsung atau tidak langsung dari memancing, menurut statistik resmi Palestina.

https://www.republika.co.id/berita/qplnb1368/3-nelayan-palestina-terbunuh-di-lepas-pantai-gaza

 

Berlangganan RSS feed