Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Pelajaran Berharga dari Nabi Sulaiman

MAMHTROSO.COM -- Manusia ialah makhluk yang Allah muliakan. Secara spesifik, bentuk kemuliaan tersebut adalah eksistensi ma nusia di planet bumi ini. Manusia juga diberikan keutamaan-keutamaan tertentu atas kebanyakan makhlukNya yang lain (QS al-Isra [17]: 70).

Nabi Sulaiman AS adalah salah seorang nabi yang diberikan kelebihan oleh Allah SWT kemampuan berkomunikasi dengan bangsa burung, angin dan bangsa jin tunduk ke padanya, dan anugerah kerajaan yang sangat besar. Di kala Sulaiman memohon ampunan dan kerajaan, Allah mengabulkan permohonannya.

"Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh siapa pun setelahku, sungguh Engkau Yang Maha Pemberi." (QS Shad [37]:35).

Dari sekian nikmat itu, nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepadanya yaitu nikmat syukur. Itulah nikmat di atas nikmat yang sering kali luput dari perhatian kebanyakan manusia, bahkan melupakannya.

Ketika singgasana kerajaan sudah ada di dekatnya sebelum mata berkedip, beliau pun langsung membuat pernyataan sikap keimanannya, bahwa nikmat singgasana itu merupakan karunia dari Tuhannya. Sekaligus juga menyadari bahwa nikmat itu sebagai bentuk ujian untuk dirinya.

Siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Namun, siapa yang ingkar, maka sesungguh nya Allah Mahakaya dan Mulia (QS an-Naml [27]:40). Beliau memohon kepada Allah agar diberikan ilham untuk tetap mensyukuri nikmat yang Allah berikan kepadanya dan kepada kedua orang tuanya.

Beliau juga memohon supaya diberikan ilham untuk mengerjakan kebajikan (amal saleh) yang Allah ridhai. Serta bermunajat agar dirinya dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang saleh dengan rahmat-Nya (QS an-Naml [27]:19).

Walhasil, dari kisah Nabi Sulaiman ini banyak hikmah dan pelajaran berharga untuk dipegang dan diamalkan. Pertama, kemuliaan dengan ragam nikmat hendaklah diyakini merupa kan pemberian Allah SWT. Kedua, pada saat manusia men capai nikmat tertentu, hendaklah disa dari bahwa itu sebagai ujian— apakah dia bersyukur atau kufur.

Ketiga, ekspresi terima kasih kepada orang lain yang menolong merupakan sifat mulia dan terpuji. Seseorang tidak dikatakan bersyukur kepada Allah jika tidak berterima ka sih kepada manusia (HR Abu Dawud).

Keempat, energi doa dan ilmu sangat penting untuk menjadi pribadi yang bersyukur. Kelima, menguatkan karakter diri kita agar menjadi hamba Allah yang bersyukur. Menjaga dan me ningkatkan kualitas iman dan amal saleh bersungguh-sungguh.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q1w5nr313/pelajaran-berharga-dari-nabi-sulaiman

 

Antara Gawai dan Anak Kita

MAMHTROSO.COM -- Sungguh, belakangan ini kita dihadapkan pada problematika keluarga yang sangat krusial dan pelik. Kemajuan teknologi komunikasi yang disikapi secara keliru, telah menimbulkan mudharat lebih besar daripada manfaatnya.

Ternyata, bukan hanya anak-anak kita yang ketagihan gawai, melainkan juga orang tua. Ketika orang tua kecanduan, tentu membuat rapuh pendidikan keluarga. Sebab, anak-anak terabaikan. Manakala anak-anak yang kecanduan, mereka akan terhempas dari pelukan.

Teringat sebuah video inspiratif yang mengisahkan seorang murid TK. Sang guru ingin tahu apa cita-cita mereka kalau sudah besar nanti. Ada yang ingin menjadi burung agar bisa terbang tinggi ke angkasa. Ada pula yang ingin menjadi kelinci karena menggemaskan.

Namun, ada seorang murid yang tidak peduli dengan pembicaraan dan hanya mencoret-coret kertas di atas meja. Wajahnya lesu dan matanya sayu. Ketika ditanya, ia ingin men ja di telepon pintar. Sebab, ayahnya membawa ke mana pun pergi. Ibunya selalu mengangkat telepon saat berdering, tetapi tidak pernah menghampirinya di kala ia merajuk dan menangis. Ayahnya selalu sibuk bermain gim, tetapi tidak pernah mengajaknya bermain. Ketika ia minta dipeluk, ayahnya menolak dengan kasar.

Begitu pun ibunya, sibuk chating atau menelepon. Diwaktu tidur pun, ayahnya selalu menaruh gawai di dekatnya. Ibunya juga tidak pernah lupa menge-charge, tetapi sering lupa memberinya makan. Ia ingin jadi telepon pintar agar bisa selalu bersama orang tuanya.

Kisah pilu ini, mengingatkan kita ke masa lampau di saat Nabi Muhammad SAW bercengkerama dengan sahabat. Seketika muncul cucu kesayangan, Hasan bin Ali. Lalu, Nabi mencium dan memeluknya dengan penuh kehangatan. Menyaksikan kejadian itu, al-Aqra bin Habis at-Tamimi berkata, "Aku punya sepuluh anak dan tak seorang pun yang pernah aku cium seperti ini". Mendengar hal tersebut, Baginda SAW menatap tajam kepadanya lalu bersabda, "Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak disayangi." (HR Bukhari).

Sejatinya, anak hidup dalam dunia bermain. Orang tua yang mesti masuk ke alam hidup mereka. Imam al-Gazali ra, seperti dinukil oleh Jamal Abdur Rahman dalam buku Tahapan Mendidik Anak, Teladan Rasulullah SAW mengatakan, seusai keluar sekolah hendaknya anak diizinkan bermain yang disukainya untuk merehatkan diri dari kelelahan belajar. Jika anak dilarang bermain dan disuruh belajar terus, akan menjenuhkan pikirannya, memadamkan kecerdasannya, dan membuatnya kurang senang. Dia akan berupaya membebaskan diri dari tekanan perasaannya.

Orang tua wajib memilih dan memilah permainan yang mendidik agar pribadi anak tumbuh baik. Kalaupun diberi mainan gawai, harus didampingi, dibatasi, dan diawasi kontennya. Perlu aturan dan sikap tegas yang dibingkai teladan orang tua sebagai panutan. Namun, apa yang terjadi jika orang tua yang kecanduan? Tentu akan tumbuh anak-anak yang berkepribadian terbelah. Karenanya, orang tua sebagai pemimpin mesti menata diri lebih dahulu, baru belaian hatinya agar terhindar dari sengsara neraka dunia. (QS.66:6).

Pesan Nabi, "setiap kamu adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinan itu." (HR Bukhari). Akhirnya, jangan sampai orang tua lebih akrab dengan gawai daripada anaknya. Jika ini terjadi, amanah terbesar yang Allah titipkan akan merana dan terabaikan. Wallahu a'lam bishshawab.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q21pot313/antara-gawai-dan-anak-kita

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

Mengenal Sunnatullah dan Inayatullah

MAMHTROSO.COM -- Dalam hidup kita sering mendengar istilah pertolongan Allah dan juga anjuran mengenai pentingnya sikap tolong menolong antar-manusia. Apakah kedua hal itu saling bertentangan?

Secara istilah dan pengertian, sunnatullah dan inayatullah memang berbeda namun bukan berarti bertentangan. Dalam kitab tafsir Al-Misbah karya Prof Quraish Shihab dijelaskan, sunnatullah merupakan ketetapan-ketetapan Allah SWT yang lazim berlaku dalam kehidupan nyata.

Contohnya seperti hukum sebab dan akibat. Contohnya adalah orang sakit yang dianjurkan untuk berobat dan meminta pertolongan ke dokter hingga sembuh. Kendati demikian, beliau berpendapat, jangan dikira bahwa dokter atau obat yang diminum yang menyembuhkan penyakit yang diderita.

Allah mengambil peran dalam penentuan sembuh tidaknya seseorang melalui dokter dan obat yang diminum. Artinya, pertolongan dari manusia berkolerasi dengan pertolongan langsung dari Allah.

Sedangkan inayatullah merupakan pertolongan dan bimbingan Allah di luar kebiasaan-kebiasaan yang berlaku. Dalam bahasa Alquran, hal ini dinamai madad, namun madad sendiri biasanya hadir setelah ada upaya sebelumnya dari manusia.

Contohnya, orang yang berobat karena sakit tadi telah divonis dokter akan batasan waktu kemampuan tertentu untuk menjalani hidup di dunia. Namun di luar dugaan dokter, waktu yang diperkirakan itu meleset bahkan si pasien dinyatakan sembuh. Hal ini adalah bentuk dari inayatullah, pertolongan dengan cara yang tidak lazim.

https://khazanah.republika.co.id/berita/q29nko430/mengenal-sunnatullah-dan-inayatullah

 

الاستخارة ثقة بتدبير الله ووكل الأمور إليه

السؤال

عملت استخارة في شيء، وتيسر الأمر لفترة، ثم انقطع التيسير. ظننت من عندي أنه شر. رضيت، وقلت: الحمد لله، ولكني لم أنصرف. واستخرت أكثر من عشر مرات و لم أنصرف. أرضيت ضميري أمام الله، وحاولت جاهدا الانصراف والأخذ بكل الأسباب، لم أنصرف، وكانت الأسباب تغلق في وجهي إغلاقا واضحا بدون سبب.
سؤالي: هل لو أن الشيء شر، وتصدقت لله بنية أن يجعله الله خيرا لي. هل يتقبلها الله ويجعله خيرا لي، مع العلم والله أني حاولت جاهدا الانصراف ولم يحدث أبدا، وكلما كررت الاستخارة كلما زادت إرادتي بهذا الشيء، وأن الله أصلا رزقني رؤيا فيها وعد مباشر بهذا الشيء.
شكرا مقدما، هداكم الله للعلم الصحيح.

 

الإجابــة

 

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه، أما بعد:

فإذا كان قد حيل بينك وبين هذا الشيء تماما، بحيث صار تحصيله مستحيلا، فعليك أن تنصرف عنه، عالما أن ما قضاه الله هو الخير.

وهذا معنى الاستخارة، فإنها تفويض لله تعالى، ووكل للأمور كلها إليه، وثقة بتدبيره سبحانه، وخروج عن الحول والقوة.

وأما إن كان قد بقي طريق إلى تحصيله، وكانت نفسك تتوق إليه، فلا حرج في أن تكرر الاستخارة، ثم تمضي في الأخذ بأسباب تحصيله مهما تكرر ذلك.

ولا حرج عليك في الصدقة بنية أن ييسره الله لك، ولكن متى تعذر وعلمت أنه لا سبيل إلى تحصيله، فعليك أن تفعل ما ذكرناه من الاستسلام لحكم الله والرضا بقضائه، والعلم الجازم بأن ما قدره سبحانه هو الخير والمصلحة.

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/408160/%D8%A7%D9%84%D8%A7%D8%B3%D8%AA%D8%AE%D8%A7%D8%B1%D8%A9-%D8%AB%D9%82%D8%A9-%D8%A8%D8%AA%D8%AF%D8%A8%D9%8A%D8%B1-%D8%A7%D9%84%D9%84%D9%87-%D9%88%D9%88%D9%83%D9%84-%D8%A7%D9%84%D8%A3%D9%85%D9%88%D8%B1-%D8%A5%D9%84%D9%8A%D9%87

Berlangganan RSS feed