Masuk
MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

'Wahai Nabi, Mengapa Engkau Makan Sendirian?'

MAMHTROSO.COM -- Pada suatu siang yang terik, seorang petani miskin menghampiri Nabi Muhammad SAW. Waktu itu, Rasulullah SAW sedang duduk-duduk bersama beberapa sahabatnya. Mereka berteduh di bawah rindang pohon kurma.

Begitu melihat seseorang mendekat, Nabi SAW berdiri dari tempatnya. Dengan ramah, beliau menjawab salam lelaki tersebut. Kemudian, petani itu dipersilakannya duduk.

Rupanya, orang itu membawa sekantong kecil yang penuh buah anggur. Ia pun menyerahkan buah-buahan itu kepada Nabi SAW. “Wahai Rasulullah,” katanya, “terimalah pemberianku yang tidak seberapa ini. Aku membawanya dari kebun tempatku bekerja.”

Beliau menerima hadiah tersebut dengan khidmat sambil mengucapkan terima kasih. Setelah duduk kembali, Rasul SAW menaruh sekantong buah itu di atas meja. Sebutir anggur lalu diambilnya, untuk kemudian dimakan oleh beliau.

Para sahabat yang hadir menatap makanan itu dengan penuh harap. Di luar dugaan, Nabi SAW tidak menawarkan satu pun dari buah tersebut kepada mereka. Tangan beliau terus mengambil setiap butir anggur itu.

Setiap memakannya, wajah Rasulullah SAW tampak berbinar. Bibirnya juga tersenyum. Melihatnya, petani miskin itu menjadi sangat senang. Apalagi, beliau menghabiskan seluruh anggur pemberiannya tanpa sisa.

Di luar dugaan, Nabi SAW tidak menawarkan satu pun dari buah tersebut kepada mereka. Tangan beliau terus mengambil setiap butir anggur itu.

Si pemberi merasa bahagia karena melihat Nabi SAW dengan lahap menghabiskan hadiahnya. Ia berpikir, anggur itu pastilah terasa sangat nikmat. Begitu enaknya, sampai-sampai beliau “lupa” menawarkan buah tersebut kepada para sahabat yang lain.

Sesudah itu, si petani pamit. “Aku harus kembali ke kebun, ya Rasulullah! Terima kasih telah menerima hadiah anggur dariku,” katanya.

Maka, pergilah lelaki itu dengan hati yang lapang. Bukan main sukacitanya, sebab ia melihat sendiri bagaimana sosok semulia baginda Nabi SAW menikmati pemberiannya yang hanya sekantong buah anggur.

Sesudah petani itu menjauh dari pandangan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW. Mereka merasa sangat heran.

Sesudah petani itu menjauh dari pandangan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW. Mereka merasa sangat heran. Sebab, jarang-jarang beliau berbuat begitu. Biasanya, Nabi SAW membagikan apa saja hadiah yang diterimanya kepada kaum Muslimin yang membutuhkan.

Apalagi, mereka yang membersamainya saat itu sedang agak lapar. Di tengah terik matahari siang, tentu mulut akan terasa segar kalau mengunyah beberapa butir anggur.

“Ya Rasulullah,” kata seorang dari mereka memberanikan diri, “mengapa engkau makan sendirian buah anggur tadi? Mengapa sama sekali engkau tidak menawarkannya kepada kami?”

Rasulullah SAW tersenyum. Beliau lalu menjelaskan kepada mereka, “Aku memakan semuanya karena anggur-anggur itu terasa masam. Jika menawarkannya kepada kalian, aku khawatir nanti wajah kalian akan menunjukkan kesan tidak suka. Bila sampai begitu, tentu perasaan lelaki tadi akan tersinggung.”

Begitulah akhlak mulia Nabi SAW. Dari kisah tersebut, setidaknya kita dapat memetik beberapa hikmah. Pertama, jadilah seorang Muslim yang menghargai perbuatan baik orang lain. Walaupun tidak sesuai harapan, ikhtiarnya untuk berbagi kebaikan patut diapresiasi.

Kedua, jangan mencela makanan. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah, diterangkan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah satu kali pun mencerca makanan. Jika suka, beliau akan memakannya. Bila tidak suka, sajian itu tidak dicicipinya.

Rasulullah SAW tidak pernah satu kali pun mencerca makanan.

Nabi SAW pun mengonsumsi apa saja yang disediakan untuknya selama itu halal dan baik. Perkara selera tidak sampai menyusahkannya. Jabir berkata, “Rasulullah SAW pernah menanyakan lauk pauk kepada keluarganya, tetapi mereka menjawab, ‘Kami hanya mempunyai cuka.’ Lantas, beliau memintanya dan makan dengannya seraya bersabda, ‘Lauk yang paling lezat adalah cuka, lauk yang paling lezat adalah cuka.’

Imam Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin mengatakan, “Mencela makanan merupakan tanda keangkuhan dan kemewahan.” Seorang Muslim tentunya harus menghindari sifat sombong. Makan dan minum apa adanya dan sewajarnya, itu juga menjadi tanda syukur ke hadirat Allah SWT.

Ketiga, menjaga martabat sesama Muslimin. Dalam cerita di atas, Rasulullah SAW memakan semua anggur masam itu bukan lantaran tamak atau rakus. Beliau hanya ingin mencegah para sahabat untuk menunjukkan wajah tidak suka terhadap anggur pemberian itu.

Bayangkan bila beberapa orang mencicipi buah tersebut lalu secara refleks menampilkan kesan tidak suka. Tentu, si pemberi tidak hanya akan merasa heran. Boleh jadi, harga dirinya akan tersinggung. Dalam pikirannya, orang-orang akan mengira dirinya sengaja memberikan hadiah yang jelek kepada sosok semulia Nabi SAW.

https://republika.id/posts/21346/wahai-nabi-mengapa-engkau-makan-sendirian

 

Apa yang Dikerjakan Iblis Jelang Kelahiran Muhammad SAW?

MAMHTROSO.COM -- Nabi Muhammad SAW lahir pada Senin Rabiul Awwal di tahun Gajah. Ada pertanyaan menggelitik seputar kelahiran sosok agung tersebut antara lain apa yang setan kerjakan di hari kelahiran Nabi Muhammad SAW?

Pusat Fatwa Dar Al Ifta Mesir menjelaskan, iblis berusaha menembus pintu langit ketujuh untuk mencuri kabar berita terbaru dari langit untuk dijadikan sebagai dasar penyesatan umat manusia. Namun mereka gagal menembusnya. 

 

Lalu iblis berteriak kepada rekan-rekannya yang lain agar segera berkumpul. Lalu iblis tersebut ditanya, "Ada apa, apa yang membuat kau ketakutan?" Lalu iblis itu menjawab:

"Celakalah kalian, aku terus gagal menembus langit dan bumi dari semalam. Ada peristiwa besar yang telah terjadi di bumi sebagaimana apa yang terjadi saat Tuhan menciptakan (Nabi) Isa, putra Maryam. Maka pergilah dan lihat apa yang terjadi."

Setan-setan pun berpencar untuk memastikan apa gerangan yang sedang terjadi. Kemudian mereka berkumpul kembali dan berkata, "Kami tidak menemukan apa-apa."

Karena tidak mendapatkan informasi apapun, iblis turun ke bumi dan mengelilinginya untuk mencari tahu sebetulnya apa yang sedang terjadi. Kemudian sampailah ia di al-Haram, tempat suci yang dikelilingi malaikat. 

Iblis itu masuk tapi tidak berhasil. Hingga kemudian ia berubah menjadi burung kutilang, lalu berhasil masuk hingga menemui jibril.

Iblis bertanya kepadanya, "Apa yang sedang terjadi di bumi ini?" Lalu jibril menjawab, "Muhammad lahir." Iblis berkata lagi, "Apakah saya dapat bagian di dalamnya?" Jibril menjawab, "Tentu tidak."

Iblis bermaksud ingin melancarkan serangan tapi pada akhirnya ia dikurung selama 40 hari dan tahtanya ditenggelamkan juga selama 40 hari. Semua patung-patung berhala menjerit-jerit. Mereka mendengar suara begini:

"Wahai keluarga Quraisy, kabar gembira telah datang kepada kalian. Pemberi peringatan telah datang. Ia bersama kemuliaan abadi dan merupakan penutup para nabi dan rasul..."

https://www.republika.co.id/berita/r18vhe320/apa-yang-dikerjakan-iblis-jelang-kelahiran-muhammad-saw

 

Menjadi Cahaya Zaman

MAMHTROSO.COM -- Setiap Rabiul Awal, kita diingatkan kembali dengan momen kelahiran seorang tokoh besar dunia yang telah mengubah dan menentukan jalannya sejarah umat manusia, yakni Nabi Muhammad SAW. Michael H Hart, astrofisikawan asal Amerika bahkan menempatkannya di peringkat pertama dari seratus tokoh paling berpengaruh di dunia dalam bukunya yang sangat populer, The 100, A Ranking of The Most Influential Persons in History (1978).

Sebuah pengakuan yang tentu saja bukan tanpa alasan. Kita mengenal sosok Nabi Muhammad, selain sebagai utusan Allah yang menerima wahyu Allah dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umat manusia, beliau SAW juga seorang manusia yang secara tabiat sangat baik dan layak diteladani.

Banyak tokoh besar dunia yang kemudian tenggelam dan dilupakan sejarah, tetapi tidak dengan Muhammad SAW. Sepanjang sejarah, Nabi SAW selalu menjadi bahan pembicaraan dan ditulis dalam berbagai buku, tak hanya di dunia Islam tetapi juga di luar Islam, dari kalangan orang biasa hingga orang-orang besar, pemikir, dan kaum cendekiawan.

Sebagai utusan Allah, Nabi SAW telah menyampaikan dakwah dengan baik dan berhasil sesuai perintah Allah selama lebih kurang 23 tahun, 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah. Berbagai caci-maki dan kekerasan, baik verbal maupun fisik, beliau hadapi dengan sabar.

Setelah hijrah ke Madinah, peperangan demi peperangan demi mempertahankan iman dan Islam, juga dilakoni tanpa pernah gentar atau surut sedikit pun. Menang kalah juga telah dialami; menang di Perang Badar dan kalah di Perang Uhud.

Sebagai manusia biasa, tabiat Rasulullah sangat baik, seperti murah hati, jujur, penyayang, suka membantu orang lain, terutama yang kesusahan, amanah, dan lainnya, juga menjadi nilai tinggi yang membuat banyak orang respek, tertarik, dan mencintai dengan tulus.

Allah menyebut karakter Nabi SAW dalam Alquran, “Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang baik.” (QS al-Qalam [68]: 4).

Budi pekerti ini telah melekat pada diri Nabi SAW, bahkan sebelum menjadi rasul. Setelah menjadi utusan Allah, akhlak Nabi SAW adalah Alquran, seperti disampaikan oleh Ummul Mukminin Aisyah (HR Ahmad).

Karena itu, Nabi Muhammad adalah “insan kamil” (manusia sempurna), yang menurut Ibnu Arabi, manusia yang telah sempurna dari segi wujud dan pengetahuannya. Sementara, menurut al-Jili, Rasulullah adalah contoh manusia ideal. Jati diri Nabi SAW tak semata-mata dilihat sebagai utusan Allah, tetapi juga sebagai cahaya (nur) Ilahi yang menjadi pangkal atau poros kehidupan di jagat raya.

Rabiul Awal yang dikenal juga sebagai “bulan Maulid” seyogianya tak berhenti pada aspek seremonial, peringatan, atau perayaan, tetapi berlanjut kepada kesadaran untuk mengenal lebih dekat sosok Nabi Muhammad dan meneladan akhlak luhur beliau.

Sebagaimana Rasulullah SAW menjadi cahaya pada zamannya, kita juga menjadi cahaya pada zaman kita sekarang dengan akhlak luhur, baik terhadap sesama maupun alam sekitar.

Wallahu a’lam.

https://www.republika.id/posts/21414/menjadi-cahaya-zaman

 

  • Diterbitkan di Oase
  • 0

الثبات على الهداية والطاعة

السؤال

أولا: ادعوا لي بالهداية، فأنا بحاجة إليها.
أنا شاب في الثامنة عشر من عمري، بدأت ألتزم منذ حوالي عام أو عام ونصف، بعد قراءتي لكتاب يسمى (كيف أتوب)، إلا أنني قد واجهت شيئا من الصعوبة في أمري، وسأشرح لكم موقفي بإطالة، فأرجو منكم العذر في شغلي زمنكم:
1- أكبر مشاكلي عدم الالتزام بالصلاة -كسلا مني-، وأعلم سوء هذا، وأن هذا من الكفر، فقد قرأت عددا من فتاواكم، وقد التزمت، وتركت كل معصية أقوم بها لفترة لا أذكر قدرها، لكنها لم تكن أقل من شهر، أو اثنين في الغالب.
ذقت فيها حلاوة الصلاة، وحاولت أن أحفظ من القرآن، فكنت أحفظ، وأصلي بما حفظت، فيثبت حفظي. كنت في تلك الفترة راضيا عن نفسي، أذكرها فتكاد تدمع عيني، لولا حبسي لدمعي؛ إلا أنني بعد فترة من ذلك أخذت أرخي الزمام، فصرت أؤخر الصلاة إلى آخر وقتها، حتى أني أسمع أذان المغرب، وأنا أصلي العصر، ثم صرت أؤخر الصلوات جميعا، وأصليها كلها مع العشاء.
ثم بت أجمع الأيام يومين، وثلاثة، حتى بت لا أصلي، ولقول الحق فإني في رمضان السابق ما سجدت، ولا صليت إلا مرة واحدة، سمعت موعظة لمست قلبي، فصليت، وما لبثت يوما فجف القلب، ولم أصل بعدها إلا مرات تعد على أصابع اليد. ولا أقول هذا كشفا لستر الله عليَّ، ولا فخرا، إنما التماسا للنصح والموعظة.
و للعلم فإني كل ما سمعت موعظة يؤلمني قلبي، فألتزم ثم ألبث قليلا، فأرخي، وما بقيت يوما، أو سمعت أذانا، أو قرأت اسم الله، إلا وأحسست بالغم وندمت، كنت أتمنى لو كان بإمكاني التواصل مع أحد مشايخكم شخصيا التماسا ليعظني بلا ضيق أو ملل.
أرجو حلا لهذا الموقف، لعل الله يكسبكم فيَّ الأجر.

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد: 

فنسأل الله لك الهداية والثبات، ثم اعلم أن ترك الصلاة من أعظم الموبقات، وأكبر الذنوب، نسأل الله العافية، وانظر الفتوى: 130853.

والذي يعينك على الحفاظ عليها، وعلى سائر الطاعات أمور.

أهمها: دوام الدعاء، واللجأ الصادق لله تعالى أن يهديك، ويثبتك، فالقلوب بين إصبعين من أصابعه -سبحانه- يقلبها كيف يشاء.

ومنها: مجاهدة النفس مجاهدة صادقة، فإن الله يقول: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا {العنكبوت:69}.

ومنها: مصاحبة الصالحين، وإيجاد البيئة الإيمانية التي تستعين بها على المضي قدما في طاعة الله تعالى.

ومنها: البعد عن أسباب الشر، وسائر الملهيات والصوارف عن الطاعة.

ومنها: دوام سماع المواعظ، وتكرار حضور مجالس العلم، وقراءة ما يرقق القلب.

ومنها: دوام الفكرة في الموت، وما بعده، واستحضار أنك موقوف غدا بين يدي الله تعالى، وأنه سبحانه سائلك عن القليل والكثير.

ومنها: دوام التفكر في أسماء الرب تعالى، والعلم بأنه تعالى شديد العقاب، وأن غضبه -سبحانه- لا تقوم له السماوات والأرض.

ومنها: قراءة سيرة النبي -صلى الله عليه وسلم-، وأصحابه، والصالحين من هذه الأمة، والاجتهاد في التشبه بهم، والاهتداء بهديهم.

نسأل الله أن يتوب عليك، ويهديك صراطا مستقيما.

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/447607/%D8%A7%D9%84%D8%AB%D8%A8%D8%A7%D8%AA-%D8%B9%D9%84%D9%89-%D8%A7%D9%84%D9%87%D8%AF%D8%A7%D9%8A%D8%A9-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%B7%D8%A7%D8%B9%D8%A9

 

Berlangganan RSS feed