Masuk

Upacara Pengibaran Bendera – Ainun Nadhifah, S.Pd.Si. : Jadilah Generasi Milenial Yang Hebat

Troso, MAMHTROSO.com – MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara perdana laksanakan upacara pengibaran bendera merah putih di tahun pelajaran 2019-2020 pagi tadi, Sabtu (27/7/2019).

Sebagai petugas upacara adalah perwakilan dari Kelas XII. Yaitu Eva Elfiana Novita Sari sebagai pemimpin upacara, sementara Soya Angga Arifin Ilham, Zaha Muhammad Al Haq, dan Henry Hermawan sebagai pemimpin pasukan upacara. Vina Ramandhani sebagai pembawa acara, Fatikha Amalia sebagai pembaca Pembukaan UUD 1945, Dimas Al Habib Efendi sebagai pembaca doa, dan Ahmad Setiawan sebagai ajudan upacara.

Pasukan pengibar bendera menggunakan 8 formasi yang terdiri dari Fikri Aida Fitriyah, Ulufiatur Rahmanita, Indah Wahyu Laili Shofiani, Linda Wahyu Laila Shofiana, Muhammad Wahyudi, Muhammad Syarif Hidayat, Gilang Agil Syafrizal, dan Wahyu Budi Santoso.

Ainun Nadhifah, S.Pd.Si. menyampaikan bahwa memasuki tahun ajaran baru ini, siswa-siswi juga harus memiliki semangat baru. Mempertahankan hal-hal yang sudah baik, meninggalkan hal-hal yang tidak baik. Seperti contoh mungkin di tahun kemarin masih sering telas, maka di tahun pelajaran baru ini harus tidak boleh telat lagi. Jika tahun kemarin masih ada yang malas-malasan belajar atau tidak mau mengerjakan tugas, maka di tahun pelajaran baru ini harus diubah yaitu lebih rajin belajar dan mengerjakan tugas.

Meskipun pada minggu kemarin sudah mulai pembelajaran, tetapi mulai minggu ini akan dilaksanakan pembelajaran yang lebih efektif. Akan tetapi perlu diingat bahwa belajar tidak hanya di dalam kelas, akan tetapi setiap yang siswa lakukan di madrasah adalah pembelajaran. “Jangan bangga ketika hanya sudah menghafal bank soal atau mendapat nilai 100, akan tetapi kalian tidak paham arti sebenarnya dari materi-materi pembelajaran itu”, ungkap Ainun Nadhifah.

Beliau juga agar siswa-siswi dapat menjadi generasi milenial yang dapat dibanggakan. Generasi yang hebat, yang pandai, yang mau berfikir. Tidak malah menjadi generasi yang apatis, tidak mau bergerak, egois, bahkan mengkritik hasil pemikiran orang lain padahal dia sendiri tidak mau berfikir.  

Di madrasah memang banyak sekali dengan berbagai macam pelajaran dan kegiatan. Contoh dekat-dekat ini adalah madrasah mengadakan lomba menghias kelas dan 5K. “Jika setiap siswa tidak mau aktif untuk bahu-membahu, gotong royong, kerjasama, saling empati, malah selalu egois memikirkan kepentingan dirinya sendiri, maka selesailah hidupmu. Maka jadilah generasi milenial yang aktif, tanggap, hebat, pandai, yang dapat dibanggakan baik untuk diri sendiri maupun oleh madrasah”, pungkasnya. (syah)

  • 0
  • Baca: 86 kali

Kemadrasahan Hari Terakhir, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. Terangkan Tata Tertib Madrasah

Troso, MAMHTROSO.com – Hari terakhir kemadrasahan di MA dan MTs. Matholi’ul Huad Troso diagendakan untuk membacakan dan menjelaskan tata tertib madrasah. Kegiatan ini diikuti juga oleh seluruh siswa dan para guru di halaman madrasah sebagaimana hari-hari sebelumnya, Kamis (25/7/2019).

Sebelum dimulai pembacaan tata tertib, terlebih dahulu Drs. H. Nur Kholis Syam’un Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso memberikan pengantar. Beliau menyampaikan bahwa tidak ada perkara apapun tanpa sebuah aturan, dan hanya orang bodoh yang tidak paham aturan. Karena setiap segala sesuatu pasti memiliki sebuah tata cara.

Kemudian menurut Noor Ubaidillah, S.Pd.I., Tata tertib ini adalah kesepakatan bersama antara guru-guru dan masyarakat yang disesuaikan dengan syariat islam untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan bersamanya tentu adalah mencetak siswa-siswi muslim yang memiliki karakter sebagaimana yang tercantum dalam pancajiwa. Yaitu keikhlasan, keserhanaan, kemandirian, penolong, dan ukhuwah islamiyah.

“Ojo njarak, ojo njarak, ojo njarak, nglakoni opo wae, bakal balek reng awake dewe”, pungkas Drs. H. Nur Kholis Syam’un. Maksudnya jangan disengaja menabrak aturan. Ketika sudah tahu mana yang dilarang dan mana yang diperintahkan, mana yang baik dan mana yang buruk, maka seorang siswa harus berfikir di setiap perilakunya. Diberikan sanksi sesuai dengan kebijakan madrasah, itu berarti madrasah berhak menimbang dan memberikan sanksi seadil-adilnya kepada siswa yang melanggar.

Terakhir beliau mengumumkan bahwa lomba menghias kelas dan K5 mulai Sabtu (27/7/2019) dapat dimulai. (Syah)

  • 0
  • Baca: 87 kali

Dewan Guru MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso Hadiri Walimatus Safar (Muwadda’ah Haji) Bapak Noor Faizin, S.Ag. dan Ibu Asri Jatmiko, S.Ag.

Troso, MAMHTROSO.com – Para guru Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso mengikuti acara muwadda’ah haji di kediaman Bapak Noor Faizin, S.Ag. beserta istri ibunda Asri Jatmiko, S.Ag. pagi tadi, Rabu (24/7/2019).

Syukur alhamdulillah pada tahun 2019 ini setidaknya ada 3 guru yang dapat menunaikan ibadah haji. Selain Bapak Noor Faizin, S.Ag. dan Ibu Asri Jatmiko, S.Ag. juga ada salah satu guru kesenian yaitu Bapak Ismail, S.Pd.I. beserta istrinya, mereka bertiga secara kebetulan bisa berangkat di tahun yang sama.

Acara muwadda’ah atau perpisahan ini dimulai sekitar pukul 08.00 WIB dipimpin oleh Bapak Nasuhah sebagai pembawa acara. Sementara Drs. H. Nur Kholis Syam’un, Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso berkesempatan untuk menjadi wakil yang memamitkan calon jama’ah haji.

Pertama, dalam pidatonya beliau menyampaikan sebuah hadits Rasulullah :

الغَازِى فِى سَبِيْلِ اللهِ وَالحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدَ اللهِ

Artinya : “Pejuang di jalan Allah, orang yang menunaikan ibadah haji, orang yang menunaikan ibadah umrah adalah para tamu Allah.”

Dengan menunaikan ibadah haji berarti berkesempatan ziarah dan napak tilas dari perjuangan Nabi Ibrahim as. Dan sebagai tamu Allah tentu saja yang dibawa untuk menghadap adalah keikhlasan, ketulusan, semata karena Allah. Beliau mengungkapkan bahwa hidangan yang disuguhkan Allah untuk para tamunya adalah berbagai ritual ibadah yang pahalanya berjuta-juta. Bahkan bisa saja melipat-lipat puluhan ribu atau ratusan juta dari ibadah-ibadah yang lainnya. Tentu doa agar semuanya berjalan dengan lancar, dapat melaksanakan setiap ibadahnya dengan baik, dan semoga juga pulang bertamu dari Allah kemudian diberikan oleh-oleh yaitu berupa Haji yang Mambrur.

Drs. H. Nur Kholis Syam’un juga berpesan agar selalu menjaga kesehatan, jangan sampai karena terlalu semangat beribadah kemudian melupakan faktor kesehatan, karena itu nanti akan berakibat sangat fatal. Beliau juga berpesan agar berdoa di tempat-tempat mustajab baik untuk diri sendiri, keluarga, para kerabat, dan lebih-lebih untuk yayasan supaya semakin maju, besar dan berkah.

Usai acara muwadda’ah kemudian barokah doa dipanjatkan bersama-sama, dilanjutkan adzan beserta iqomah, dan terakhir bermushofahah. Berpamitan salaman dengan para keluarga, dan guru-guru MA – MTs. Matholi’ul Huda Troso. (Syah)

  • 0
  • Baca: 77 kali

Kemadrasahan Hari Ke-5, Agus Siswanto, S.Ag. Waka. Kesiswaan MTs. Matholi’ul Huda Troso Jelaskan “Ukhuwah Islamiyah”

Troso, MAMHTROSO.com – Kemadrasahan awal tahun pelajaran MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara memasuki hari kelima pagi tadi, Rabu (24/7/2019). Agus Siswanto, S.Ag. sebagai Waka. Kesiswaan Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso kali ini mendapat kesempatan untuk menjelaskan pancajiwa yang kelima, yaitu Ukhuwah Islamiyah.

Sebelumnya, Drs. H. Nur Kholis Syam’un Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso membuka acara kemadrasahan tersebut dan menekankan beberapa poin tentang jiwa “penolong” yang pada hari sebelumnya disampaikan oleh Dra. Wafiroh.

Diilustrasikan ada orang yang kaya raya, akan tetapi masih mengeluh ketika ada orang memakai berbaju koko dan memegang map untuk meminta sumbangan, maka sejatinya orang ini jiwanya miskin. Orang yang memiliki jiwa penolong pasti tidak egois, mau berkorban, dan pasti yakin bahwa semuanya adalah dari Allah. Kam tsamanuka ? artinya “berapa hargamu”. Maksudnya adalah orang dikatakan berharga apabila dia telah banyak melakukan hal-hal yang bernilai manfaat di masyarakat, tetapi dia tidak menyombongkan apa yang telah dikerjakan.

Wallahu fi auni abdi maa daamal abdu fi auni akhihi

Artinya : Allah akan selalu perhatian kepada hambanya yang suka membantu orang lain.

Kemudiaan beliau mempersilahkan kepada Bpk. Agus Siswanto, S.Ag. untuk maju menjelaskan kepada seluruh siswa tentang “ukhuwah islamiyah”.

Ukhuwah islamiyah adalah ikatan persaudaraan yang akrab. Rasa saling mengasihi, saling membantu, saling menolong itu semua biasa terjadi karena ada rasa ukhuwah islamiah. Hubungan persaudaraan ini tidak hanya terbatas dengan hereditas atau keturunan. Akan tetapi sesuai dengan syariat islam mengatakan bahwa sesama muslim adalah bersaudara.

Dari jiwa ukhuwah islamiyah ini tentu akan dapat memunculkan nilai-nilai yang lain dalam kehidupan. Seperti contoh nilai sosial. Orang pasti dalam kehidupannya tidak lepas dari yang namanya pergaulan. Seseorang pada saat ini tidak mungkin bisa hidup seorang diri. Maka supaya seseorang itu bisa bergaul dengan baik, haruslah mengamalkan nilai-nilai ukhuwah islamiyah dari dalam dirinya. Bisa bekerja sama dengan seseorang untuk menyelesaikan sebuah pekerjaan berat, itu juga merupakan dasar dari jiwa ukhuwah islamiyah. Dari jiwa ini pula seseorang harus bisa memahami karakter teman-temannya yang sangat heterogen.

Seperti contoh di MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso dalam penyusunan kelas pasti dalam setiap tahunnya berubah-ubah. Ini ada tujuannya agar siswa dapat saling mengenal satu sama lain. Banyak juga kegiatan-kegiatan seperti halnya Muhadlarah, pramuka, morning fun yang mengharuskan siswa saling berkomunikasi dengan teman yang tidak sekelas. Ini juga tujuannya supaya hubungan antar siswa tidak terbatas hanya di kelasnya masing-masing. Sampai kemudian muncullah jiwa persaudaraan yang akrab antar siswa sampai kepada hubungan yang bersifat ukhuwah islamiyah.  

Tantangan pada zaman sekarang ini adalah informasi yang semakin cepat menyebar. Sehingga banyak juga informasi palsu atau sering disebut hoax. Dari berita yang salah tersebut sehingga sering terjadi perpecahan dan terbelahnya masyarakat. Di madrasah juga ada kasus semacam itu. Antar teman saling ejek-ejakan, bertengkar, memanggil dengan sebutan yang jelek, dll. Hal tersebut karena masih kurangnya siswa-siswi memahami nilai-nilai dari jiwa ukhuwah islamiyah. Karena dari jiwa ukhuwah islamiyah ini setiap siswa pasti dapat melaksanakan banyak sekali sikap-sikap positif. Seperti halnya gotong royong, saling mencintai, pandai bersosialisasi, dan yang terpenting adalah dapat menghilangkan rasa egois.

Terakhir, Drs. H. Nur Kholis Syam’un menambahkan bahwa ukhuwah islamiyah yang berarti rasa persaudaraan sesama muslim ini adalah tahap belajar dari awal. Dari itu kemudian bisa dikembangan menjadi ukhuwah watoniyah (rasa persaudaraan satu negara), sampai akhirnya di ukhuwah basyariyah atau rasa persaudaraan antar manusia. (syah)

  • 0
  • Baca: 86 kali

Hari Keempat Kemadrasahan, Dra. Wafiroh Menjelaskan Pancajiwa “Penolong”

Troso, MAMHTROSO.com – Kemadrasahan hari ke-4 di MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso dilaksanakan kemarin, Selasa (23/7/2019). Kali ini giliran Waka. Kurikulum Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso, Dra. Wafiroh sebagai pembicara yang menjelaskan tentang pancajiwa yang keempat, yaitu “Penolong”.

Penolong berarti adalah orang yang suka menolong. Setiap manusia harus memiliki empati dengan yang lainnya, karena memang secara hakikatnya manusia adalah makhluk sosial. Sejak lahir manusia sudah ditolong. Mulai dari dimandikan setelah lahir, dirawat, diajarkan berjalan, dll. Semua dibantu dan ditolong oleh orang tua, kerabat, dan para tetangga. Semasa masih hidup juga membutuhkan pertolongan orang lain, ketika sakit, ketika memiliki hajat, dll. Bahkan sampai sudah meninggal juga masih membutuhkan pertolongan orang lain. Dimandikan, dikafani, disholati, sampai kemudian dikuburkan.

Bahkan madrasah ketika membuat tata tertib secara tidak langsung adalah untuk menolong siswa-siswinya. Diperintahkan untuk melakukan kebaikan, dan dilarang melakukan perbuatan buruk. Selain itu juga tata tertib madrasah sudah diselaraskan dengan hukum-hukum islam. Contoh seperti madrasah mengagendakan sholat dhuha, membaca asmaul husna, istightsah, dll. Semuanya untuk menolong agar siswa-siswinya menjadi orang-orang yang mulia.

Jiwa “Penolong” juga merupakan perintah Allah dalam surat Al Maidah ayat 2 :

وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْبِرِّ وَٱلتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلْإِثْمِ وَٱلْعُدْوَٰنِ

Artinya : Tolong menolonglah kamu dalam hal kebaikan dan ketaqwaan, dan jangan tolong menolong dalam hal dosa dan pelanggaran.

Selain itu seseorang yang memiliki jiwa penolong biasanya lebih semangat dalam hidup. Karena dia yakin bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Karena dia sering menolong untuk mengatasi masalah-masalah orang disekitarnya.

Terakhir, seorang yang suka menolong pasti hidupnya lebih bermanfaat. Hal tersebut tentu sesuai dengan tujuan madrasah yaitu membentuk siswa-siswi yang anfa’uhum linnas. Keegoisan adalah musuh besar madrasah. Maka setiap agenda madrasah pasti mengarah pada jiwa-jiwa yang terkandung dalam pancajiwa. Mulai dari keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, dan juga penolong, kemudian baru ukhuwah islamiah. (Syah)

  • 0
  • Baca: 61 kali

Hari Ketiga Kemadrasahan, Karwadi, S.Ag. Jelaskan Pancajiwa “Kemandirian”

Troso, MAMHTROSO.com – Hari ketiga “kemadrasahan” sebagai bentuk masa pengenalan lingkungan sekolah (PLS) di MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso masih dilaksanakan pagi ini, Senin (22/7/2019). Dan rencananya kemadrasahan ini akan berlansung selama 6 hari yaitu sampai hari Kamis (25/7/2019).

Diikuti oleh seluruh siswa dan guru baik dari unit MTs. maupun MA Matholi’ul Huda Troso, kegiatan ini berlangsung kira-kira satu jam saja. Siswa semuanya berkumpul duduk memadati halaman madrasah, untuk mendengarkan penjelasan Kepala Madrasah maupun yang mewakilinya. Materi yang disampaikan yaitu tentang nilai-nilai pancajiwa sebagai nafas pergerakan siswa baik di madrasah maupun di masyarakat kelak.

Setelah 2 hari kemarin sudah dijelaskan tentang “keikhlasan” dan “kesederhanaa”, kali ini giliran Karwadi, S.Ag. Wakil Ketua Madrasah Urusan Kesiswaan untuk menyampaikan pancajiwa yang ketiga yaitu “kemandirian”.

Kata mandiri berarti tidak tergantung dengan orang lain, bisa melakukan sesuatu tanpa bantuan dari orang lain. Seperti contoh ada sebuah kegiatan perkemahan “survival” secara bahasa artinya bertahan, ini tujuan utamanya adalah untuk melatih anak-anak untuk mandiri. Berjalan dua hari dua malam atau satu hari satu malam, makan seadanya di dalam tasnya, dan tidur di tengah-tengah perjalanan.

Dari cerita tersebut maka seharusnya setiap siswa bisa mempraktikkan nilai-nilai kemandirian itu di madrasah maupun di rumah. Melatih hidup mandiri supaya siswa itu tangguh, tidak mudah menyerah, dan tidak “kemenyek”. Banyak contoh-contohnya. Pertama, ketika siswa memilih kegiatan masih ada yang hanya ikut-ikut temannya, ini bukan bentuk kemandirian. Kedua, ketika siswa mengerjakan soal ulangan masih menyontek temannya, ini bukanlah jiwa kemandirian. Ketiga, ketika siswa piket untuk membuang sampah yang seharusnya dibawa oleh satu orang saja cukup tetapi masih mengajak temannya, ini bukanlah jiwa kemandirian. Keempat, ketika siswa pergi ke WC atau ke kantor selalu berdua ditemani temannya, ini bukanlah jiwa kemandirian. Kelima, ketika waktunya sholat berjama’ah masih ada siswa yang harus diarahkan untuk menata saf, ini bukanlah jiwa kemandirian. Dan masih ada contoh-contoh yang lainnya.

“Dalam perkembangannya nanti akan kelihatan siswa yang terbiasa hidup secara mandiri dan yang tidak. Mandiri berarti ojo dadi bocah kemenyek”, tambah Drs. H. Nur Kholis Syam’un, Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso. (Syah)

  • 0
  • Baca: 75 kali

Hari Kedua Kemadrasahan, Noor Ubaidillah, S.Pd.I. Jelaskan Pancajiwa “Kesederhanaan”

Troso, MAMHTROSO.com – Hari kedua diselenggarakannya “kemadrasahan” sebagai bentuk kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) pagi ini, Ahad (21/7/2019). Dilaksanakan di halaman madrasah dan diikuti oleh seluruh civitas akademika MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso.

Kali ini giliran Kepala Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso Noor Ubaidillah, S.Pd.I. memberikan penjelasan tentang nilai-nilai dari jiwa “kesederhanaan”.

Sebelum menerangkan jiwa kesederhanaan beliau mengingatkan bahwa MA dan MTs. Matholi’ul Huda Troso ada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Islam Matholi’ul Huda Troso. Arti dari pendidikan islam ini tentu siswa-siswinya harus bisa menunjukkan nilai-nilai sebagai seorang muslim yang sejati.

Dalam surat al Furqon : 67

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا

Artinya : “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir”.

Dari ayat tersebut beliau menerangkan bahwa kesederhanaan adalah mempergunakan apa yang dipunya tidak berlebih-lebihan, tetapi juga tidak medit. Kesederhaan ini meliputi semua aspek, mulai dari perilakunya, cara berfikirnya, cara bicaranya, gaya hidupnya, dll. seperti halnya dalam berpakaian.

“misal nganggo pakaian, yo orak sing uapik-apik men, yo orak sek welek terus kemproh”, ungkap Noor Ubaidillah, S.Pd.I.

Beliau menceritakan kisah Rasulullah ketika sudah berhasil mendakwahkan islam usai fathul makkah, akan tetapi beliau masih hidup sangat sederhana. Di dalam rumahnya hanya ada satu tempat tidur dari pelepah daun kurma, dan tempat minum yang biasanya. Maka kemudian sahabat Umar bin Khattab terharu dan bertanya kepada Rasulullah kenapa masih hidup sesederhana itu meskipun sudah berhasil menaklukkan kota Mekkah. Rasulullah menjawab bawa dirinya bukanlah raja tetapi utusan Allah.

Dari cerita tersebut jika dihubungkan dengan kehidupan siswa-siswi, maka untuk hidup sederhana cukup dikembalikan kepada niat. Seorang siswa niat ke sekolah untuk menuntui ilmu, maka harusnya hanya fokus pada tujuan itu. Dan melupakan hal-hal yang lain. Seperti contoh make-up wajah, memang dilarang di madrasah. Ini supaya terbiasa dengan pola hidup sederhana.  

Contoh yang lain, jajan ketika istirahat. “Jika jajan 2 bakwan dan satu bungkus minum sudah cukup, kenapa masih ada bakso, dan yang lainnya. Jika pergi ke sekolah diantar bapaknya pakai motor yamaha 75 sudah sampai di madrasah, kenapa harus minta dibelikan motor. Jika uang infaq seribu-seribu bisa diambilkan dari uang saku, kenapa harus minta dari orang tua”, tandasnya.

Jiwa kesederhanaan sudah tertulis dalam tata tertib madrasah. Dan tata tertib madrasah ini tentu sudah disesuaikan dengan hukum-hukum islam. Supaya siswa-siswi MTs. dan MA Matholi’ul Huda Troso menjadi seorang muslim-muslimah sejati. (Syah)

  • 0
  • Baca: 75 kali

Hari Pertama Kemadrasahan, Drs. H. Nur Kholis Syam’un Kupas Pancajiwa “Keikhlasan”

Troso, MAMHTROSO.com – Madrasah Aliyah dan Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara selenggarakan “kemadrasahan” sebagai bentuk kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (PLS) pagi ini, Sabtu (20/7/2019).

Untuk hari pertama kemadrasahan langsung disampaikan oleh Kepala Madrasah Aliyah Matholi’ul Huda Troso, Drs. H. Nur Kholis Syam’un. Beliau memberikan penjabaran salah satu pancajiwa sebagai nilai-nilai yang ada di madrasah, yaitu “Keikhlasan”.

Sebelumnya beliau mengajak berdoa bersama untuk madrasah supaya pembangunan selalu dilancarkan oleh Allah dan semoga madrasah semakin memberkahi umat. Kemudian untuk para orang tua dan guru, semoga selalu dimudahkan urusannya dan dilimpahkan rizkinya yang barokah.

Nilai “Keikhlasan” memang tidak lepas dari sebuah niat. Beliau mengingatkan bahwa niat yang benar ketika seorang siswa pergi sekolah adalah untuk mencari keridlaan dari Allah SWT. atau atas dasar lillahi ta’ala. Jika ada seorang siswa yang sekolah tujuannya supaya nanti mendapatkan perkerjaan yang diinginkannya, maka itu adalah sebuah kesia-siaan. Dan pasti akan merasakan kekecewaan.

Bentuk-bentuk kongkrit dari kata “keikhlasan” ini tentu seorang siswa harus tulus ikhlas ketika diajar atau dididik oleh gurunya. Siswa juga harus tulus dan ikhlas mengikuti agenda-agenda madrasah sebagai salah satu bentuk pendidikan. Karena dari keikhlasan itulah sebagai salah satu syarat utama untuk mendapatkan ilmu yang manfaat.

Seperti contoh gerakan infaq madrasah seribu-seribu, pembayaran SPP, make up ketika acara pentas, dll. Ketika siswa kurang ikhlas untuk berinfaq untuk madrasah walaupun hanya seribu-seribu, maka yang timbul nanti adalah fitnah. Ketika siswa tidak mau sederhana mengenakan make-up pada saat pentas, maka nanti yang muncul hanya fitnah. Maka syarat utama dalam pendidikan di Madrasah Aliyah maupun di Madrasah Tsanawiyah Matholi’ul Huda Troso adalah nilai keikhlasan.

“wong sing ikhlas iku : padang pikire, jembar dadane, dowo umure, akeh ganjarane, suargo panggonane”, ungkap kepala madrasah.

Maksudnya adalah dengan jiwa keikhlasan yang berarti semuanya diniatkan karena Allah. Maka seseorang pasti akan merasakan tenang pikirannya, lapang dadanya, panjang umurnya, banyak pahalanya, dan surga tempatnya. Akan tetapi sebaliknya jika seseorang dalam melakukan segala sesuatu tidak diniatkan karena Allah, tetapi malah justru diniatkan untuk mendapatkan sesuatu (materi, jabatan, meninggikan namanya) maka itu hanyalah kesia-siaan.

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya : “Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka dia adalah orang yang tertolak”. Itu berarti segala perbuatan dan segala amalan kalau tidak diniatkan karena Allah maka perbuatan tersebut ditolak oleh Allah atau dengan kata lain perbuatan itu sia-sia. (Syah)

  • 0
  • Baca: 91 kali
Berlangganan RSS feed