MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Pertengahan Bulan Ramadan 1440 H., MA MH Troso Selenggarakan Penilaian Akhir Tahun (PAT) Semester Genap Tahun 2018-2019

Troso, MAMHTROSO.com – MA Matholi’ul Huda Troso Pecangaan Jepara selenggarakan Penilaian Akhir Tahun (PAT) untuk siswa Kelas X dan XI mulai kemarin, Senin (20/5/2019). PAT atau yang biasanya dikenal dengan istilah Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) ini adalah bentuk evaluasi pembelajaran terakhir yang harus diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI sebelum mereka naik ke jenjang kelas berikutnya. Ada sebanyak 351 siswa sebagai peserta PAT dan terbagi menjadi 11 ruang.

PAT kali ini dilaksanakan selama 8 hari dengan mengujikan 16 mapel untuk kelas X dan XI. Untuk Kelas X mengujikan 5 mapel PAI yaitu Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, SKI, Fikih, dan Bahasa Arab. Kemudian 5 mapel umum yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Sejarah Indonesia, dan PKn. 3 mapel jurusan untuk IPA yaitu biologi, fisika, kimia dan jurusan IPS yaitu Sosiologi, geografi, ekonomi. Dan terakhir 3 mapel peminatan dan lintas minat untuk jurusan IPA yaitu matematika (peminatan), sosiologi dan geografi (lintas minat). Untuk jurusan IPS yaitu sejarah (peminatan), kimia dan biologi (lintas minat).

Sama halnya dengan Ulangan Akhir Semester Gasal, MA Matholi’ul Huda Troso mengikuti soal-soal yang berasal dari Kelompok Kerja Madrasah Aliyah (KKMA) 01 Jepara. Akan tetapi pada PAT ini KKMA 01 Jepara telah membagikan kisi-kisi soal kepada masing-masing satuan pendidikan. Sehingga dengan kisi-kisi tersebut siswa dapat belajar lebih terarah untuk mempersiapkan diri mengerjakan soal-soal dalam Penilaian Akhir Tahun (PAT).

PAT ini berlangsung tepat pada hari ke-14 puasa bulan Ramadhan 1440 H. Hal ini ternyata sama dengan pelaksanaan Ulangan Kenaikan Kelas (UKK) pada tahun ajaran sebelumnya. Yaitu dilaksanakan bertepatan hari kelima puasa. Meskipun begitu pihak madrasah tetap melaksanakan PAT sesuai dengan jadwal yaitu setiap harinya siswa menghadapi 2 mapel yang diujikan. Pada mapel pertama dimulai pada pukul 08.00 sampai 09.50 WIB dan mapel kedua diujikan mulai pukul 10.20 sampai 11.40 WIB. Setelah itu seluruh siswa mengikuti sholat dzuhur berjama’ah sebelum pulang. Sementara untuk siswa kelas XII tetap masuk seperti biasa untuk mempersiapkan panggung gembira (PG) Tahun 2018.

Disela-sela proses mengerjakan soal PAT, siswa juga diberi kesempatan untuk menyalurkan zakat fitrah. Sebagaimana program OSIS dan madrasah setiap bulan Ramadan selalu menyalurkan zakat fitrah siswa kepada para mustahik atau yang berhak menerimanya. Karena setelah pelaksanaan PAT kali ini langsung masuk pada hari libur akhir bulan Ramadan, sehingga supaya lebih efektif penyaluran zakat fitrah ini dilaksanakan pada saat pelaksanaan PAT. Dan rencananya nanti zakat fitrah ini akan didistribusikan pada tanggal 27 atau 28 Ramadan 1440 H. (Syah)

Baca selanjutnya...

Tentang Iman dan Sabar

MAMHTROSO.COM -- Banyak orang yang menganggap dirinya telah beriman dan boleh dikatakan telah melakukan semua rukun iman dan Islam tetapi terkadang penuh tanda tanya ketidakpuasan. Misalnya mengapa mereka yang katanya sudah benar-benar melakukan segala rupa ibadah, kehidupan sehariannya masih saja miskin.

Mereka bandingkan dengan orang-orang yang sama sekali tidak beriman bahkan di luar Muslim, jauh lebih enak hidupnya. Mereka telah berupaya sekuat tenaga juga masih saja rezeki yang baik belum mengalir. Begitu juga seseorang jatuh cinta dengan seseorang tetapi belum juga berhasil bisa hidup sebagai suami istri yang layak.

Juga banyak anak didik yang beriman ternyata sering juga banyak yang gagal dalam ujian sekolah/perguruan tinggi. Banyak lagi kekecewaan yang selalu dihadapi manusia, walau seharusnya segalanya kita harus kembalikan kepada hadis: "Apa yang kita anggap baik mungkin menurut Allah tidak baik. Apa yang kita anggap tidak baik mungkin menurut Allah baik."

Juga seharusnya kita merenungkan arti surat ar-Rahman yang ayat-ayatnya berulang kali yang artinya: "Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?"

Bayangkan semua yang kecewa itu sebenarnya masih hidup, masih sehat. Mereka dengan gratis menghirup oksigen sepuasnya tanpa bayar seperti orang sakit harus membayar setiap tabung oksigen yang habis digunakan.

Hati mereka baik, ginjal mereka baik, otak mereka sehat tidak gila, paru-paru mereka juga baik. Hanya karena tidak memperoleh rezeki lebih banyak, tidak naik pangkat, tidak bisa menduduki jabatan yang dikehendakinya sejak lama dan lain-lain sehingga mereka kecewa. Terkadang kekecewaan itu dilemparkan kepada Allah, apalagi diakhiri dengan nekat bunuh diri.

Begitu banyak surah dan ayat suci Alquran yang menyinggung mengenai sabar. Jelas juga dalam ayat-ayat suci Alquran dikatakan: "Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolong" (2:45,153).

Oleh karena kekecewaan itu merupakan cobaan maka layaklah, dalam kitab suci Alquran juga menyatakan: Orang yang sabar apabila mendapat cobaan (QS:2:156).

Selain apa yang diungkapkan dalam kitab suci Alquran yang begitu banyak soal sabar, juga hadis menyangkut kesabaran juga cukup banyak.

Seperti yang diterangkan hadis qudsi sebagaimana diriwayatkan Bukhari: "Sesungguhnya Allah azza wa jalla telah berfirman: Apabila Aku menguji hambaKu dengan dua perkara yang dicintainya, kemudian dia bersabar, maka Aku ganti keduanya itu dengan surga baginya."

Oleh karena sabar ganjarannya surga, memang tepat jika kita berdoa: "Ya Allah Tuhan kami, limpahilah kepada kami kesabaran dan wafatkanlah kami tetap dalam Islam (berserah diri kepadaMu)" (QS:7:126).

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prnfiz458/tentang-iman-dan-sabar

Baca selanjutnya...

Teladan Ali Bin Abi Thalib, Peduli pada Kaum Dhuafa

MAMHTROSO.COM -- Bila umat Islam menyebut nama Ali bin Abi Thalib, biasanya diteruskan dengan Karramallahu Wajhah, (semoga) Allah memuliakan wajahnya.

Sementara, para sahabat Nabi SAW yang lainnya--seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan seterusnya--mendapat tambahan ucapan di belakang namanya dengan r.a, perpanjangan dari radhiyallahu 'anhu, (semoga) Allah meridhainya.

Menurut sebuah riwayat, Ali bin Abi Thalib yang juga menantu Rasulullah SAW ini, mendapatkan keistimewaan seperti itu, antara lain, karena ia merupakan sedikit sahabat yang tak pernah menyembah berhala. Sementara, riwayat lain menyebutkan, selain karena alasan tadi, juga karena kesetiakawanan dan kepedulian Ali terhadap kaum dhuafa.

Tentang kepeduliannya kepada kaum dhuafa ini, disebutkan, pada suatu hari Ali bin Abi Thalib bersama istrinya, Fatimah, sedang kekurangan makanan. Lalu ia minta tolong kepada seorang Yahudi agar diberi benang sutra, untuk ditenun menjadi kain oleh istrinya.

Maksudnya, supaya ia mendapat upah. Demikianlah Ali sekeluarga kemudian mampu membeli beberapa mangkuk gandum. Gandum kemudian ditumbuk oleh Fatimah, untuk dibuat roti. Namun begitu roti siap, terdengar ketukan di pintu rumah mereka.

Setelah pintu dibuka, tampak seorang lelaki berada di depan pintu. ''Assalamualaikum. Saya adalah seorang miskin. Berilah saya makanan karena Allah.'' Ali lalu memberinya beberapa potong roti.

Tak lama setelah lelaki itu pergi, datang seorang anak yatim, yang juga meminta makanan. Si yatim pergi, datang orang ketiga, yaitu seorang budak tawanan perang. Ia juga meminta makanan. Roti yang tinggal tak seberapa itu pun diulurkan Ali kepada budak itu.

Habislah makanan Ali. Tak ada lagi yang tersisa untuk makanan diri dan keluarganya. Terpaksalah Ali sekeluarga hanya minum air putih. Namun mengingat kedua anaknya, Hasan dan Husain, begitu lapar, karena hanya minum air, Ali pun pergi ke rumah Nabi Muhammad, untuk menyampaikan ihwal kedua cucu Nabi SAW itu. Oleh Rasulullah SAW, Ali kemudian diberi sebuah keranjang. Rasul SAW juga memerintahkannya pergi ke sebuah pohon kurma tak jauh dari rumah beliau.

Ali menuju ke pohon kurma yang ditunjuk, dan memetik kurma yang sudah matang itu. Setiba di rumah, seluruh anggota keluarga makan bersama, hingga kenyang. Ini contoh betapa indah setia kawan di antara sesama muslim. Mereka rela melepas benda (makanan) yang mereka sendiri sangat membutuhkan, namun mengingat ada yang lebih memerlukan dan harus ditolong, mereka dahulukan kepentingan orang lain itu.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prnekq458/teladan-ali-bin-abi-thalib-peduli-pada-kaum-dhuafa

Baca selanjutnya...

Menjaga Semangat Ramadhan

MAMHTROSO.COM -- Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda, "Pantaulah Lailatul Qadr di 10 malam terakhir" (HR muttafaqun'alaih). Sabda Rasul SAW ini mengisyaratkan, puncak ibadah di bulan Ramadhan adalah pada 10 hari terakhir.

Ini berarti, grafik yang harus diraih oleh seseorang yang berpuasa terus menanjak. Puncak dari rangkaian ibadah itu ada pada malam Idul Fitri nanti.

Dalam kaitan ini, Nabi SAW mengingatkan, orang yang durhaka ialah orang yang tidak meraih apa-apa dalam Ramadhan atau orang yang tidak meraih ampunan Allah SWT selepas Ramadhan.

Selama bulan Ramadhan, Allah SWT memberi peluang yang sangat besar kepada setiap hamba-Nya yang berpuasa untuk mendapatkan berkah, rahmat, dan ampunan dari-Nya.

Oleh karena itu, nanti ketika sudah berada di ujung Ramadhan, kita akan sedih. Sebab, tanda-tanda rahmat Allah SWT pun akan lepas.

Bukan berarti rahmat Allah SWT tidak mungkin kita peroleh di luar bulan Ramadhan, tapi kesempatan terbesar itu justru ada pada bulan suci ini. Oleh karena itu, pantas Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan wajah yang sedih pada saat meninggalkan Ramadhan.

Ada sebuah prinsip yang disebut dengan takamul, artinya seseorang menuju kepada kesempurnaan. Suatu Ramadhan boleh lepas dari kita, tapi itu berarti kita hendaknya mencapai sesuatu selama bulan Ramadhan.

Ramadhan-ramadhan lain akan terus datang kepada kita--hingga ajal menjelang. Kesempatan untuk menyempurnakan diri pun tetap terbuka.

Untuk sebelas bulan berikutnya setelah Ramadhan, kita harus mempertahankan apa yang telah kita raih.

Maka dari itu, mumpung kita masih berada di tengah Ramadhan, jangan sampai sia-siakan kesempatan. Berpuasalah dengan baik. Jangan sampai pahalanya terhapus hanya karena lisan atau pandangan mata yang tak dijaga. Kemudian, perbanyaklah berderma. Ingat, Rasul SAW semakin bersifat dermawan saat bulan Ramadhan--bagaikan angin yang berembus sejuk.

Kemudian, persiapkan diri menghadapi 10 hari terakhir Ramadhan. Bangun niat sekuat-kuatnya untuk berupaya menemukan Lailatul Qadar. Caranya bisa dengan mempersiapkan iktikaf di masjid saat malam-malam terakhir di bulan suci.

Semoga kita termasuk yang memeroleh ampunan dan kasih sayang Allah SWT selama Ramadhan, amiin.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prowuz458/menjaga-semangat-ramadhan

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed