MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Alison Stevens: Alquran Ibarat Sinar di Tengah Kegelapan

MAMHTROSO.COM --  Meski tak lagi muda, Alison Stevens yang berumur kepala lima tetap bersemangat men dalami Islam. Risalah Ilahiyah yang menurutnya sangat inspiratif telah mengubah jalan hidupnya, dari seorang ateis menjadi pengiman Sang Pencipta.

Lika-liku perjalanan hidupnya telah mengukuhkan Alison untuk berpegang teguh pada Islam, agama yang memantapkan pemahamannya akan Tuhan yang Mahaesa. Pada saat berusia 47 tahun, dia memantapkan diri untuk bersyahadat, pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Sang Pencipta.

Wanita berkebangsaan Inggris ini sejak kecil selalu berpindah-pindah rumah. Ini karena ayahnya bekerja di industri minyak dan sering ditempatkan di tempat yang tidak tetap. Keluarganya tidak memiliki rumah tetap.

Sejak kecil Alison tidak mendapatkan pendidikan agama di rumah. Beribadah pun hanya sekali ketika perayaan hari besar di sekolah. Ketika itu teman-teman nya berkumpul untuk bernyanyi dan bergembira bersama.

Alison menempuh pendidikan menengah di Skotlandia. Di sekolah itu, pendidikan agama menjadi hal yang wajib dipilih. Namun kebanyakan siswa membenci pelajaran itu, karena banyak dari mereka yang sekuler dan tidak mengang gap pelajaran agama sebagai kebutuhan.

Mereka juga tidak pernah menikmati pelayanan di tempat ibadah. Kehidupan mereka sehari-hari hampir tak pernah ber kaitan dengan agama. Ukuran kehidupan adalah pemikiran dan sikap manusia semata. Meski demikian Alison sangat menghormati mereka yang religius.

"Tapi bagi saya itu tidak perlu, saya tidak merasakan kerinduan akan agama ketika itu,"jelas dia dalam sebuah rekaman video.

 Sejujurnya, dia merasa agama menyebabkan banyak masalah, sehingga lebih tertarik dengan kehidupan sosial seperti merawat orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/19/01/08/pl0a2x313-alison-stevens-alquran-ibarat-sinar-di-tengah-kegelapan

Baca selanjutnya...

Mengimani Kiamat

MAMHTROSO.COM -- Allah SWT memiliki kuasa atas segala hal yang akan terjadi dunia ini, termasuk dalam hal azab. Sebagai umat Islam, percaya adanya azab Allah adalah bentuk keimanan kepada Allah.

Ustaz Bachtiar Nasir dalam kelas tadabur pagi bertajuk "Menantang Azab Allah Adalah Perilaku Kekufuran" di Masjid Raya Pondok Indah, Jakarta, Selasa (8/1), mengatakan, umat Islam wajib memercayai adanya azab Allah. Azab diturunkan bagi me reka orang-orang kafir.

"Azab ini tak ada yang pernah bisa me nolaknya karena azab datangnya dari Allah yang punya tempat-tempat naik," ujar dia.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Bachtiar menjelaskan dan menadaburi tentang isi surah al- Ma'rij. Menurut dia, pada awal surah tersebut, Allah mencerita kan penghinaan kaum musyrikin atas informasi kebenaran yang disampaikan oleh Rasulullah SAW.

Orang-orang seperti ini akan mendapatkan azab dari Allah. Namun, ada beberapa orang som bong yang justru menantang azab Allah. Dia adalah Abu Jahal dan Nadhr bin Harits bin Kildah. Ke dua nama tersebut adalah orang yang tidak percaya kepada azab Allah.

Padahal, azab pasti akan datang kepada mereka yang meng ingkari perintah-Nya. "Padahal, peristiwa hari kiamat dan ancamannya pasti terjadi," ka tanya.

Menelaah awal surah al- Ma'rij, Ustaz Bactiar menambah kan, pada dasarnya akan dihadap kan terhadap diri sendiri. Artinya surah ini akan membuat seseorang mempertanyakan ke imanannya tentang hari kiamat dan azab Allah.

Dia menuturkan, mereka yang melakukan kemaksiatan tidak memercayai adanya hari kiamat. Menghadapinya diperlukan kesa baran kuat seperti menghadapi kelompok lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Pada ayat 1-4 surah al- Ma'arij, kata Ustaz Bachtiar, ma nusia akan dihadapkan dengan orang-orang yang mengingkari hari kiamat. Kemudian, surah tersebut pun akan memberikan gambaran bahwa kiamat pasti akan terjadi. Ustaz Bachtiar menegaskan, umat Islam wajib mem punyai keyakinan tentang datangnya hari kiamat.

Jika keyakinan tersebut sudah tertanam dalam diri mereka, harus diba rengi dengan peningkatan amal saleh sebagai persiapan menghadapi hari kiamat. "Mengimani hari akhirat itu membuat kita semakin pasrah pada takdir. Artinya akal dan mental punya kesiapan menerima takdir itu," tutur dia.

Menurut dia, kadar keimanan seseorang akan memengaruhi ke yakinan seseorang terhadap da tangnya hari kiamat. Untuk itu, Ustaz Bachtiar mengajak umat Islam agar menjalani hidup ber orientasi akhirat. Cara tersebut merupakan jalan menumbuhkan keyakinan tentang hari akhir. "Orang yakin pada janji Allah dan takut pada ancaman Allah, insya Allah hidup orientasi akhi rat akan tercapai," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Bachtiar juga mengajak agar umat Islam meningkatkan ketakutannya kepada Allah. Me reka yang takut kepada Allah, menurutnya, Ustaz Bachtiar di yakini hidupnya akan bahagia. Allah, katanya, sangat baik ke pa da makhluk-Nya.

Ustaz Bachtiar menyebutkan tentang poin di awal surah al- Ma'arij, azab pasti terjadi bagi orang-orang kufur. Kemudian, azab tersebut tidak dapat ditolak sebab azab datang dari Allah. Us taz Bactiar menyerukan agar umat Islam berlomba-lomba men capai kemuliaan Allah ketika di akhirat nanti. Untuk itu, persiapan harus dilakukan sejak ber ada di dunia.

Ustaz Bachtiar meng ingatkan agar umat Islam tidak disorientasi hidup. "Jangan salah pilih jalan hi dup. Takwa adalah salah satu ja lannya. Itu orang paling mulia. Jangan pilih jalan karier yang be lum jelas. Di dunia hidup hanya sekali. Hidup jangan coba-coba. Untuk menapaki kemuliaan pelajari Alquran," kata dia.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/19/01/12/pl70wd313-mengimani-kiamat

Baca selanjutnya...

Islamnya Jagoan Kota Makkah

MAMHTROSO.COM -- Ia memiliki julukan sebagai Pedang Allah. Khalid bin al-Walid dikenal lantaran kecerdasan dan ketangguhannya sebagai pemimpin pasukan kuda Quraisy. Tanpa kehadiran Islam di relung hatinya, sosok jenius ini semata-mata jagoan kota Makkah yang berperang demi memperebutkan harta atau sekadar fanatisme kesukuan.

Khalid  awalnya termasuk musuh Islam yang paling keras. Dalam Perang Uhud, ia memimpin pasukan kuda Quraisy yang berhasil memukul balik pertahanan kaum Muslimin. Saat itu, pada mulanya kaum kafir Quraisy terdesak sehingga berlarian menyingkir dari tebasan pedang pasukan Muslim.

Mereka meninggalkan harta benda di belakang. Melihat musuhnya tunggang-langgang, pasukan Muslim yang bertugas mengawasi dengan senjata panah dari bukit justru turun merebut harta rampasan perang. Di sinilah Khalid  melihat peluang.

Khalid  bergegas menyerang pasukan Muslim dari arah belakang. Dalam situasi terkejut, cukup banyak pasukan Muslim yang terkena serangan anak buah Khalid .

Akan tetapi, Khalid tidak mampu menembus benteng kokoh yang terdiri atas tubuh-tubuh kelelahan para sahabat yang setia menjadi tameng hidup untuk melindungi Rasulullah SAW. Saat itu, dalam diri mereka terdapat keimanan yang kuat, sedangkan dalam pasukan Quraisy hanya ada nafsu dendam.

Masuk Islamnya Khalid  tidak terjadi begitu saja, tapi setelah pergulatan batin yang panjang. Hal itu dimulai ketika kekuatan umat Islam semakin terkonsolidasi di Madinah. Di sisi lain, kondisi di Makkah kian melemah. Enam tahun setelah peristiwa hijrah, perjanjian Hudaibiyah terjadi antara Rasulullah SAW dan pemimpin Quraisy.

Dalam pada itu, kedua belah pihak menyepakati masa damai 10 tahun lamanya. Lantaran perjanjian ini, Nabi Muhammad SAW dan seluruh pengikutnya berhak melakukan perjalanan ibadah haji ke Makkah dalam situasi kondusif.

Khalid  mengamati langsung bagaimana umat Islam berbondong-bondong bergerak bersama-sama dari Madinah ke Makkah hanya untuk satu tujuan, yakni menuntaskan kerinduan pada kampung halaman Nabi SAW serta menjalani ibadah haji.

Di sinilah Khalid merasa bahwa apa yang diperjuangkan Nabi Muhammad bukanlah fanatisme kesukuan atau harta benda, melainkan sesuatu yang lebih luhur, yakni keimanan pada Allah SWT. Dengan kata lain, Nabi  tidak menyimpan dendam pada orang-orang Quraisy yang telah menyingkirkannya dari Makkah.

Seperti ditulis dalam kitab Shuwar min Siyar ash-Shahabiyyat, pada suatu hari Khalid merenungkan agama Islam yang ia saksikan sendiri semakin besar pengikut dan maruahnya.

Khalid  pun berkata, Demi Allah, sungguh jalan kebenaran telah tampak. Orang itu (Nabi Muhammad SAW) benar-benar utusan Allah. Lalu, sampai kapan aku memeranginya? Demi Allah, aku akan pergi menghadapnya dan masuk Islam.

Keinginan Khalid  ini mendapat kecaman dari tokoh Quraisy, Abu Sufyan. Namun, Khalid tidak menyerah. Ia pun menemui Utsman bin Thalhah dan selanjutnya berpapasan dengan Amr bin al-Ash. Ketiganya pergi ke Madinah menghadap kepada Rasulullah SAW di hari pertama Bulan Shafar tahun delapan Hijriyah.

Ketika berjumpa dengan Nabi, Khalid mengucapkan salam pujian. Wajah Rasulullah berseri-seri dengan menjawab salam Khalid dan dua temannya itu.

Sesudah mengucapkan dua kalimat syahadat, Khalid memohon ampunan kepada Allah dan meminta pengertian dari Nabi akan perangainya dahulu sebagai pemimpin pasukan kafir Quraisy. Rasul pun bersabda, Sesungguhnya Islam menghancurkan dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya (orang masuk Islam).

Sebagai pemuka pasukan Muslimin, perang pertama yang dijalani Khalid adalah Perang Mu'tah. Dalam kecamuk peperangan itu, pembawa panji Islam telah gugur sebagai syahid. Kemudian, Tsabit bin Aqram merebut panji Islam dan mengangkatnya tinggi-tinggi sambil berseru, Wahai sekalian kaum Anshar!

Maka, pasukan Muslimin segera mendatanginya. Di hadapan mereka, Khalid menerima panji dari tangan Tsabit. Demi Allah, aku Tsabit bin Aqram tidaklah mengambil bendera ini melainkan untuk aku serahkan kepadamu (Khalid).

Dengan semangat yang menyala-nyala, Khalid memimpin serangan balasan terhadap pasukan kafir Quraisy. Sejak Perang Mu'tah ini, tidak ada peperangan berikutnya dalam sejarah jihad Islam yang tidak disertai Khalid.

Sesudah wafatnya Rasulullah SAW, sejumlah golongan mengumumkan murtad dari agama Islam. Jazirah Arab kembali bergolak. Khalid  memimpin pasukan Muslim untuk menghadapi kaum yang menolak membayar zakat serta memecah-belah persatuan umat Islam itu.

Setelah situasi Jazirah Arab cukup kondusif, kekuasaan Islam mencakup hingga Irak dan perbatasan Syam (Suriah). Di Irak, pasukan Muslim bertemu dengan bala tentara Persia di bawah komando Raja Kisra yang lalim.

Khalid  memimpin pasukan Muslim sehingga memenangi pertempuran melawan pasukan Kisra. Usai itu, Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq kemudian memerintahkan pasukan Khalid  kembali ke negeri Syam. Di sana, sudah menunggu pasukan Romawi yang angkuh.

Khalid  membawa 10 ribu personel dari Irak melintasi padang pasir ke arah Syam. Mereka menerobos gersangnya gurun dengan perbekalan seadanya. Namun, semua dilalui dengan kepatuhan, keimanan yang teguh, dan kesabaran.

Sesampainya di tujuan, Khalid  melihat pasukan Romawi yang begitu besar jumlahnya. Ia tidak gentar dan segera mempersiapkan perlengkapan perangnya. Pertempuran antara pasukan Muslim dan pasukan Romawi terjadi di Ajnadin. Kemenangan berada pada pihak Khalid .

Setelah itu, pasukan Muslim bergerak menuju medan Yarmuk, di mana pasukan Romawi lainnya sudah menunggu. Saat itu, jumlah pasukan Muslim tak lebih dari 45 ribu personel, sedangkan pasukan Romawi terdiri atas 200 ribu prajurit dengan perlengkapan perang yang lebih unggul.

Akan tetapi, Khalid  tak gentar dan berusaha mempelajari strategi musuh untuk kemudian menemukan kelemahan-kelemahan mereka. Baik perang di Ajnadin maupun Yarmuk berakhir dengan kekalahan di pihak Romawi. Sejak saat itu, negeri Syam bersih dari kekuasaan Romawi.

Bagaimanapun, akhir hidup Khalid  tidak sesuai dengan cita-citanya sebagai panglima jihad kaum Muslim. Khalid begitu sedih menyadari maut menjemput dirinya di atas kasur, bukan gugur di medan perang.

Padahal, ia telah menghabiskan hampir seluruh masa hidup di atas punggung kuda, di bawah kilatan pedang, dan berhadap-hadapan dengan musuh Allah.

Dialah yang dengan heroik menyertai peperangan bersama Rasulullah SAW. Pedang Khalid  telah merontokkan keangkuhan Kekaisaran Persia dan Romawi. Seluruh kawasan Irak dan Syam telah dibebaskannya agar Islam semakin berjaya.

Dan, di sinilah ia meratapi kematian yang kian dekat sembari terbujur di atas kasur. Khalid mengungkapkan kepiluan hatinya dengan berkata, Sungguh, aku telah mengikuti peperangan ini dan itu.

Tidak ada satu jengkal pun pada tubuhku melainkan padanya terdapat bekas sabetan pedang dan lemparan anak panah. Akan tetapi, sekarang aku mati di atas kasurku bagaikan seekor unta. Namun, mata-mata para pengecut jangan sampai tertidur.

Khalid  telah mewarisi keberanian. Namanya harum sebagai panglima perang, pemimpin pasukan kaum Muslim yang disegani negeri-negeri adidaya. Dalam hidupnya, Khalid  berupaya sungguh-sungguh meneladani Rasulullah SAW, yang sederhana dan mencintai orang-orang miskin.

Saat nyawa lepas dari jasadnya, Khalid  hanya meninggalkan harta berupa seekor kuda, sebilah pedang, dan seorang budak. Melihat kenyataan ini, Khalifah Umar bin Khattab berkata, Semoga Allah merahmati Abu Sulaiman (Khalid ). Keadaannya persis seperti apa yang kami sangkakan. Khalid  wafat pada tahun 21 Hijriyah di Syam.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/19/01/11/pl4mo4313-islamnya-jagoan-kota-makkah-part4

Baca selanjutnya...

Manfaat Menjaga Lisan Bagi Perempuan

-- Salah satu anugerah yang diberikan Allah SWT kepada ma nusia adalah kemampuan berbicara. Dengan berbicara, manusia bisa mengeluarkan isi hati dan pikirannya kepada yang lain. Nikmat Allah yang satu ini bila dipergunakan dengan sebaik-baiknya, dapat membantu manu sia mencapai apa yang ia inginkan.

Dalam surah ar-Rahman ayat 1-4, Allah SWT berfirman, "Allah yang Maha pe murah. Yang telah mengajarkan Al qur an. Dia menciptakan manusia. Mengajarnya pandai berbicara." Dalam surah lain nya, al-Balad ayat 8-9, Allah pun menuliskan lima kenikmatan yang Ia berikan pada manusia secara cuma-cuma, "Bukankah Kami telah memberikan kepad anya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir." Kemampuan berbicara ini bisa mem bawa keuntungan maupun keburukan ber gantung penggunaannya. Lidah, se bagai salah satu alat berbicara dapat di gunakan untuk taat kepada Allah mau pun menuruti setan.

Rasulullah SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya ada seorang hamba be nar-benar berbicara dengan satu kali mat yang termasuk keridhaan Allah, dia tidak menganggapnya penting; dengan sebab satu kalimat itu Allah menaikkannya be berapa derajat. Dan sesungguhnya ada se orang hamba benar-benar berbi cara de ngan satu kalimat yang termasuk ke mur kaan Allah, dia tidak menganggap nya penting; dengan sebab satu kalimat itu dia terjungkal di dalam neraka jaha nam."

Kemampuan seorang Muslimah da lam menjaga lisannya ini benar-benar diperhatikan oleh Nabi Muhammad. Dalam sebuah hadis diceritakan sahabat yang bertanya kepada Rasul, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya perempuan itu rajin shalat, rajin sedekah, rajin puasa. Namun, dia suka menyakiti tetangganya dengan lisannya." Nabi pun berkomentar, "Dia di neraka." Para sahabat berta nya lagi, "Ada perempuan yang dikenal jarang berpuasa sunah, jarang melaksanakan shalat sunah, dan dia hanya ber sedekah dengan potongan keju. Namun, dia tidak pernah menyakiti tetangganya." Rasulullah menjawab, "Dia ahli surga.

Ini membuktikan betapa kuatnya pe ngaruh lisan atau ucapan terhadap ke dudukan seseorang di akhirat nanti. Ke biasaan seorang Muslimah yang mem bicarakan orang lain (menggunjing atau gibah) sebaiknya dihentikan. Sebab, pa hala orang yang menggunjing akan hi lang dan diambil oleh orang yang dibica ra kan. Nabi bersabda, "Tidak akan istiqa mah iman seorang hamba sehingga isti qa mah hatinya. Dan tidak akan istiqamah hati seseorang sehingga istiqamah lisannya." Rasulullah SAW berkata siapa umatnya yang dapat menjaga lisannya, Allah akan menutupi keburukannya.

Dalam banyak hadis, Nabi SAW tidak berhenti untuk memperingati sahabatsahabat dan umatnya agar menjaga ucap an dan apapun yang dikeluarkan dari lisan mereka. Jika seseorang itu me rasa ragu ucapannya akan membawa masalah maka sebaiknya ia diam. Tidak heran jika kemudian muncul sebuah pe ribahasa, diam itu emas. Apa pun yang di bicarakan oleh umat hendaknya sesua tu yang membawa kebaikan, jika tidak, maka diam. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, hendaklah dia ber kata yang baik atau diam."

Imam an-Nawawi pernah berkata, "Ketahuilah, seharusnya setiap mukalaf (orang yang berakal dan baligh) menjaga lidahnya dari seluruh perkataan, kecuali perkataan yang jelas maslahat padanya. Ketika berbicara atau meninggalkannya itu sama maslahatnya maka menurut sunah adalah menahan diri darinya. Karena perkataan mubah bisa menyeret ke pada perkataan yang haram, atau mak ruh. Kebiasaan ini, bahkan banyak di lakukan. Sedangkan keselamatan itu tidak ada bandingannya."

Sementara itu, Yahya bin Mu'adz ber kata, "Hati itu seperti periuk dengan isi nya yang mendidih. Sedangkan lidah itu adalah gayungnya. Maka perhatikanlah ketika seseorang berbicara. Karena se sungguhnya, lidahnya itu akan mengambilkan untukmu apa yang ada di dalam hati nya, manis, pahit, tawar, asin, dan lain nya. Pengambilan lidahnya akan menjelaskan kepadamu rasa hatinya." Seorang Muslimah yang dapat menjaga lisannya mendapatkan banyak keuntungan.

Salah satunya, ia dijanjikan ma suk surga oleh Rasululah SAW. "Barang siapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya, mulut atau lidah, serta antara kedua ka ki nya, kemaluannya, maka saya memberikan jaminan surga untuknya."

Selain itu, bagi Muslimah yang dapat menahan diri dari membicarakan hal-hal yang membawa keburukan, ia dijanjikan akan dijauhkan dari panasnya api neraka jahanam. Ia juga akan dihindarkan dari kebinasaan.

Seseorang yang banyak diamnya dan tak suka mengumbar ucapan yang siasia, biasanya ia lebih sering menghabis kan waktunya untuk berpikir. Apabila ia berpikir tentang kebesaran Allah SWT, mengingat akan nikmat yang telah dida pat, dan mengingat kematian maka kadar keimanannya pun juga akan ber tambah. Menjaga lisan termasuk dalam perbuatan yang meningkatkan iman seseorang.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/19/01/12/pl6xjh313-manfaat-menjaga-lisan-bagi-perempuan-part1

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed