MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Singkat dan Cepat MA MH Troso Bagikan Raport Siswa Kelas X dan XI Semester Genap Tahun 2019-2020

Troso, MAMHTROSO.com – MA Matholi’ul Huda Troso agendakan pembagian raport siswa kelas X dan XI semester genap tahun pelajaran 2019-2020 hari ini, Selasa (30/6/2020).

Pembagian raport kali ini tidak seperti biasanya yang mengundang wali murid dan memberikan banyak informasi dari masing-masing wali kelas. Namun karena di tengah-tengah wabah covid-19, pembagian raport ini diambil oleh siswa sendiri dengan tetap menjalankan protokol kesehatan yaitu dengan memakai masker dan cuci tangan.

Sesuai dengan surat edaran, pembagian raport ini dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB dengan pakaian bebas yang sopan. Sebelumnya secara singkat Kepala Madrasah memberikan pengarahan kepada seluruh siswa di halaman. Pertama, beliau mengajak seluruh siswa dan guru untuk beristighfar bersama-sama. Dilanjutkan dengan menyampaikan kabar duka dan rasa bela sungkawa, karena salah satu dari orang tua murid (Ibu Rubi’ah Ibunda dari Muhammad Arifin Ilham) telah meninggal dunia. Kemudian Kepala Madrasah mengajak doa bersama untuk orang tua agar selalu diberikan kesehatan. Dan mendoakan madrasah dengan membaca surat An Nasr 3 kali, agar tahun ini mendapat murid yang baik-baik dan banyak.

Setelah pembagian raport hari ini, siswa memasuki hari libur semester genap sampai tanggal 10 juli 2020. Sedangkan pada tanggal 11 Juli 2020 siswa masuk untuk daftar ulang bersamaan dengan pengumuman untuk calon peserta didik baru tahun 2020-2021. Daftar ulang siswa harus membayar 200 ribu dengan ketentuan untuk membayar SPP selama 2 bulan, LKS, dan perlengkapan kebersihan kelas.

Kemudian pada tanggal 13 Juli 2020, siswa kembali masuk untuk pembagian kelas, pembagian buku dan LKS. Memasuki tahun ajaran baru ini Kepala Madrasah memprediksikan masih tetap sebagai mana semester lalu. Yaitu pembelajaran dari rumah secara daring. Maka sekali lagi agenda tahunan madrasah di awal tahun pelajaran yaitu lomba menghias kelas dan 5K akan dihapus.

Sebelum pembagian raport dimulai, siswa-siswi diwajibkan untuk membersihkan kelasnya masing-masing selama 10 menit. Setelah kebersihan kelas, pembagian raport dilaksanakan dengan singkat dan siswa diwajibkan langsung pulang ke rumah masing-masing. Ada beberapa siswa yang belum bisa diberikan raportnya karena secara administratif belum lengkap dan juga ada beberapa siswa karena sikap yang masih ada catatan dari guru-guru. (syah)

Baca selanjutnya...

Syeikh Qaryatul ‘Ilmi

MAMHTROSO.COM -- Beliau Syeikh Prof. Dr. Nursamad Kamba lah yang meneguhkan keyakinan dan ilmu bahwa yang ditempuh oleh pergerakan zaman yang bernama Maiyah adalah Jalan Nubuwah. Jalan Kenabian. Itu bukan klaim bahwa Maiyah adalah shirath an-Nubuwah sedang yang lainnya bukan atau tidak. Peneguhan Syeikh bermakna suatu pengetahuan baqa` bahwa tidak ada jalan lain yang seyogianya ditempuh oleh ummat manusia selain Jalan Nubuwah. Itu kalau manusia legawa hatinya memastikan dirinya bersikap ilmiah terhadap kehidupan, berkesadaran historis dan realistis terhadap asal-usul dan tujuan kehidupan semua makhluk Alllah Swt.

Kita semua hidup, dididik dan dibesarkan oleh ilmu dan sikap yang menggambarkan “supremasi manusia” atas segala sesuatu yang lain, termasuk Tuhan. Peradaban ilmu dan kebudayaan manusia abad 20-21 sangat mencerminkan mungguhnya hati makhluk yang bernama manusia. “GR”. AnaniyahAbaa wastakbara. Fir’aunistik. Baik dalam arti dan konteks keberkuasaan atas alam dan sesama manusia, maupun ideologi diam-diam di dalam struktur berpikir dan sistem psikologi mereka yang sangat cenderung menuhankan dirinya sendiri dan meletakkan Allah Swt sebagai pelengkap penderita dari kepentingannya, dari ambisinya, dari ilmunya, serta segala kosmos sangkan-parannya.

Sejak kanak-kanak saya heran dan “kagum” kepada atmosfer akal pikiran manusia. Saya menempuh jalan yang sama sekali berbeda. Sendirian. Kenapa di masa remaja Allah Swt mencemplungkan saya ke kawah penuh pergolakan dunia puisi, sepertinya dalam rangka mempersiapkan agar saya tidak terlalu mengalami frustasi dalam kesendirian rasa hidup saya, serta di dalam kesepian dan keterpinggiran gagasan hidup saya. Setamat SMA saya menulis puisi: “Orang-orang maju ke belakang. Orang-orang mundur jauh ke kehampaan. Ketelingsut di tikungan-tikungan zaman”.

Saya tidak sekolah secara normal sebagaimana umumnya remaja dan kaum muda di dunia modern. Bahkan juga tidak menguningkan pemahaman saya dengan kitab-kitab pesantren tradisional. Saya gelandangan ilmu dan kehidupan dalam arti yang sebenarnya. Saya tidak punya bahan untuk mempertahankan kepada sesama manusia kenapa saya memilih “jalan sunyi” yang jauh dari riuh rendah zaman. Saya tidak punya ilmu untuk berargumentasi. Saya tidak punya kepustakaan untuk membela diri. Saya bersembunyi di Gua Iman dan Cinta diam-diam kepada dan dengan Allah saya, yang saya dekati, sentuh dan rasakan secara apa adanya kehidupan batin saya.

Saya solo-fighter yang nekat bertarung sendirian melawan arus besar peradaban. Tetapi Allah memperkenankan sejumlah hal, sejumlah pelimpahan hidayah dan perlindungan sampai saya bisa bertahan hingga hari ini. Saya berbeda bahkan bertentangan pendapat dengan pemahaman-pemahaman baku ummat manusia hampir di bidang apa saja. Dari keseharian hidup hingga politik nasional dan globalisasi kolonialistik atau kolonialisme global yang mayoritas manusia menganggapnya justru sebagai berkah, kemajuan hidup dan sukses zaman. Andaikan ada saudaraku yang lain yang berposisi sama dengan saya, tetap juga kami bertentangan pendapat tentang bagaimana merespons semua hal yang kami tidak sepakat. Dari soal perubahan sosial, metode dakwah, revolusi dan evolusi sosial, hingga hal-hal yang kecil dan mikro.

Saya mengalami penindasan, pencekalan, penentangan, permusuhan, sinisme atau bentuk macam-macam lainnya selama Orla, Orba hingga Orlaba sekarang ini. Sudah pasti Allah melindungi siapapun hamba-hambaNya yang menurut Allah memang seharusnya dilindungi. Tetapi pasti perlindungan Allah kepada saya belum pernah dan mungkin memang tidak akan pernah sampai ke taraf perintah sebagaimana yang Allah berikan kepada Nabi Musa atas Fir’aun, Nabi Ibrahim atas Namrud atau Nabi Muhammad Saw atas kejahiliyahan zaman. Saya hanya ditakdirkan menjadi seonggok kerikil di tepian sungai, yang dilindungiNya untuk tidak kintir atau terseret oleh arusnya.

Sampai akhirnya Allah mengiguh Maiyah melebar meluas mendidih menjadi suatu gelombang sosial yang tidak bisa dianggap tidak ada, meskipun untuk menganggapnya ada juga dunia tidak memiliki rumus atau ilmu untuk mengidentifikasikannya. Di tengah berkah Allah itulah di tepian Sungai Nil Kairo Mesir Allah mempertemukan saya dengan Syeikh Nursamad Kamba. Allah memodulasikan dan memperjodohkan sangat banyak hal antara semua yang saya lakukan dengan samudera ilmu Syekh Nursamad. Beliau dengan saya dan Maiyah adalah semacam symbiose-mutualistik. Semacam “azwajuz-zaman”, perjodohan ilmu dan hikmah sejarah. Syeikh Nursamad 16 tahun di Al-Azhar Kairo, universitas tertua di kehidupan Kaum Muslimin modern. Beliau bisa menjawab apa yang tidak mungkin bisa saya jawab. Beliau mempelajari, mengetahui, mengerti dan menguasai sangat banyak hal yang saya tidak memilikinya.

Beliau adalah Marja’ Maiyah dalam arti yang sebenarnya. Dalam segala makna dan dimensi. Ilmunya, uswatun hasanah hidupnya, harmoni keluarganya, ketabahan dan kesabaran hatinya, keluasan dan kelembutan jiwanya, keterukuran dan kesantunan sikap sosialnya. Jangan tanya lagi hal keluasan pengetahuannya serta kedalaman ilmunya.

Baru tadi malam saya selesaikan tulisan Pengantar untuk buku beliau “Mencintai Allah Secara Merdeka”. Pagi diniharinya, pukul 01.00 Allah memanggilnya. Allah memerdekakannya. Banyak hal yang Jamaah Maiyah harus lakukan sesudah proklamasi kemerdekaan Syekh Kamba dari dunia yang hina dina ini. Meneliti kembali, mengingat-ingat, mencatati, dan menghimpun segala ilmu dan hikmah yang pernah beliau taburkan selama sekian tahun beliau menemani dan menjadi pemandu Maiyah. Beliau adalah Qaryatul ‘Ilmi, kampung halaman ilmu Maiyah kita bersama. Di dalam jiwa saya dan semua Jamaah Maiyah, pagi ini terdapat lubang sangat besar. Lubang duka tak terkira. Lubang hampa. Lubang derita. Tapi semoga Allah akan mengisinya dengan makna.

إنا لله وإنا إليه راجعون

بقلوب مؤمنة بقضاء الله وقدره ومليئة بالحزن والأسى نشاطر الأحزان للأستاذة فاتن حمامة وأولادها وأحفادها بوفاة الشبخ الحبيب الغالي الأستاذ الدكتور محمد نور صمد كمبا 

ونسال الله ان يتغمده بواسع رحمته ومغفرته ويسكنه فسيح جناته  

اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسع مدخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الذنوب والخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس

برحمتك الواسعة يا أرحم الراحمين 

(احمد فؤاد أفندي والزوجة الكريمة أضحية جواهر وجميع الأولاد والأحفاد)

https://www.caknun.com/2020/syeikh-qaryatul-ilmi/

Baca selanjutnya...

Bermimpi dan Berjuang

MAMHTROSO.COM -- Dikisahkan, pada tahun 1867, hiduplah seorang ahli teknik kelahiran Jerman bernama John Augustus Roebling. Ia bermimpi membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Kota New York dan Long Island. Impian John tidak mendapat dukungan bahkan ditertawakan oleh banyak temannya. Mereka mengganggap proyek itu adalah ide yang paling gila dan tidak mungkin diwujudkan pada zaman itu. Maka, John pun hanya bisa berbagi impian dengan anaknya, Washington Roebling. Washington juga seorang ahli teknik. Maka, ayah dan anak itu berjuang bersama untuk mewujudkan impian itu, diiringi pandangan sinis orang-orang di sekitar.

Ketika proyek itu baru berjalan beberapa bulan, terjadi kecelakaan yang fatal. Sayangnya, karena pertolongan yang terlambat, John Roebling tidak bisa diselamatkan. Sedangkan Washington, walaupun nyawanya selamat, tetapi mengalami cedera parah pada kepalanya yang mempengaruhi motoriknya. Washington menjadi lumpuh dan tidak mampu berbicara. Namun demikian, impaian ayahnya tentang jembatan tidak pernah padam dalam pikirannya.

Suatu hari, saat Washington terbaring tidak berdaya di tempat tidurnya, ia melihat cahaya matahari melewati jendela kamarnya, menyilaukan dan menyakitkan mata. Segera ditutupnya kelopak matanya, dan saat itu pula, seakan Sang Mahakuasa memberinya pertanda. Tiba-tiba muncullah sebuah kesadaran, “Hari ini aku masih bisa menikmati indahnya kilau mentari, artinya, Tuhan masih memberiku waktu untuk berbuat. Dan aku sadar, aku tidak boleh menyerah!” Dengan sekuat tenaga, ia berkonsentrasi penuh dan berusaha untuk menggerakkan satu jarinya. Usaha yang dilakukan berulang-ulang dengan semangat dan konsentrasi penuh, ternyata tidak sia-sia. Dia berhasil menggerakkan jarinya! Perlahan-lahan, Washington mampu membuat kode untuk berkomunikasi dengan istrinya, Emily, melalui satu jari itu.

Walaupun begitu perlahan pada awalnya, dengan cara seperti itulah, Washington memberi petunjuk kepada Emily untuk melanjutkan pembuatan jembatan. Semua instruksi diberikan kepada Emily dan kemudian disampaikan lebih lanjut kepada para pekerjanya yang setia membantu mewujudkan impiannya. Begitu berulang-ulang. Mereka melalui berbagai kendala yang tidak sedikit jumlahnya. Butuh waktu panjang untuk berjuang dengan semua sisa kekuatan dan ketegarannya, dan butuh waktu selama 13 tahun untuk mewujudkan impiannya. Akhirnya, pada tahun 1883, Jembatan Brooklyn (Brooklyn Bridge) berdiri megah di Kota New York, Amerika Serikat.

Pembaca yang Bijaksana,

Banyak orang berpikir bahwa sukses merupakan hasil dari kepandaian, kecemerlangan yang luar biasa. Atau keberuntungan yang besar. Padahal sesungguhnya, sukses lebih merupakan hasil dari “menggenggam kuat impian, tanpa melepaskannya.”

Kisah dalam tulisan ini merupakan sebuah contoh bahwa dengan pikiran positif dan perjuangan nyata kita semua mampu memegang erat mimpi dan bisa mewujudkan apa yang sekiranya tidak mungkin menjadi mungkin!

Patut kita sadari pula, betapa luar biasanya kekuatan pikiran manusia! Pikiran manusia bisa membuat hidup menjadi sengsara atau bahagia, gagal atau sukses, biasa-biasa saja atau luar biasa. Kalau kita mengikuti pikiran yang negatif, maka kehidupan kita isinya akan negatif pula. Hidup penuh kecemasan, pasif, ketakutan dan kekurangan. Namun jika kita mampu mengembangkan pikiran yang positif, optimis, dan senantiasa berpengharapan yang positif, serta punya komitmen tinggi dalam mewujudkan segala impiannya, maka kita akan hidup penuh gairah, syukur, gembira, sukses, dan bahagia setiap hari.

Mari kita pilih hidup dengan pola pikir yang positif. Kita pilih hidup dengan aktivitas yang positif. Dan kita pilih agar hidup kita bisa berguna bagi diri sendiri, orang-orang terkasih, dan bagi banyak orang.

Salam sukses luar biasa!

https://andriewongso.com/bermimpi-dan-berjuang/

 

Baca selanjutnya...

Tiongkok Membangun Stadion Terbesar di Dunia

MAMHTROSO.COM -- Di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh dunia, dan juga kewaspadaan akan terjadinya gelombang kedua pandemi dari virus Corona, Tiongkok memulai pembangunan stadion terbesar di dunia.

Stadion bernama Guangzhou Evergrande ini dirancang akan memiliki 100.000 tempat duduk dan ditargetkan rampung pada 2022; untuk kemudian digunakan sebagai lokasi Piala Asia 2023, serta melancarkan upaya/ambisi Tiongkok menjadi tuan rumah Piala Dunia 2030.

Kapasitas stadion raksasa ini, jika sudah selesai dibangun, tentunya akan melampaui kapasitas stadion-stadion besar dan legendaris di Eropa: Camp Nou Barcelona/Spanyol (99.354 penonton), Wembley/Inggris (90.000 penonton), serta Signal Iduna Park/Jerman (81.365 penonton).

Pembangunanya sendiri diperkirakan menelan dana hingga 12 miliar yuan atau sekitar Rp 26,18 triliun.

 

Guangzhou Evergrande ini, dibangun dan dimiliki oleh Evergrande Group—perusahaan pengembang properti/real estate, yang didirikan oleh salah satu orang terkaya Tiongkok.

Presiden Evergrande Xia Haijun mengatakan, stadion yang megah ini dibangun dengan tujuan agar menjadi simbol kelas dunia layaknya Sydney Opera House di Australia maupun Burj Khalifa, gedung pencakar langit di Dubai, UEA.

“Dan juga simbol penting sepak bola Tiongkok yang menuju kelas dunia,” kata Xia, dalam acara peletakan batu pertama stadion tersebut (April 2020).

Xia juga menjelaskan, desain stadion ini terinspirasi dari bunga lotus/teratai yang berasal dari Guangzhou, Kota Bunga-nya Tiongkok. Desainnya sendiri, merupakan hasil karya seorang desainer Amerika Serikat yang berbasis di Shanghai, yakni Hasan Syed.

Nantinya, seluruh bangunan stadion akan mencakup 16 kamar pribadi VVIP, 152 kamar pribadi VIP, area untuk FIFA, area bagi atlet, dan ruang media. Juga untuk digunakan sebagai rumah bagi klub juara Liga Super China, Guangzhou Evergrande.

 
Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed