MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Rajin Shalat Namun Justru Jauh dari Allah SWT, Siapa Mereka?

MAMHTROSO.COM -- Rasulullah SAW pernah bersabda, ''Akan datang pada manusia (umat Muhammad) suatu zaman, banyak orang yang merasakan dirinya shalat, padahal mereka sebenarnya tidak shalat.'' (HR Ahmad). Perintah shalat adalah untuk mengingat Allah SWT (Thaaha: 14). Dikatakan dalam surah an-Nisa' 43: ''Sehingga kamu mengetahui akan apa yang kamu ucapkan.'' 

Karena itu, dalam mengerjakan shalat tidak boleh lalai. Yang dimaksud lalai adalah tidak mengetahui maksud apa yang dibaca dan apa yang dikerjakan, apalagi jika kurang memperhatikan syarat rukun dan ketentuan-ketentuan shalat lainnya. Maka, yang diperoleh hanyalah payah dan letih. Rasulullah menyatakan, ''Berapa banyak orang yang shalat (malam), keuntungan yang diperoleh hanyalah payah dan letih.'' (HR Ibnu Majah).

Jadi, meskipun merasa dirinya shalat, tapi hakikatnya tidak shalat. Dan, ia tidak akan mendapatkan hikmah shalat. Shalatnya pun tidak menambah dekat kepada Allah, tapi justru sebaliknya. Rasulullah menegaskan, ''Barang siapa yang shalatnya tidak dapat mencegah perbuatan keji dan munkar, maka tiada bertambah baginya kecuali semakin jauh dari Allah.'' (HR Ali Ibnu Ma'bad).

Nah, zaman yang diprediksikan Rasulullah tadi tampaknya sudah terjadi kini. Isyaratnya, meskipun bangsa Indonesia mayoritas Muslim dan tentu saja banyak yang shalat, tapi tak sedikit pula di antara mereka yang masih tetap melakukan perbuatan keji dan munkar. Ironisnya, dari hari ke hari frekuensinya tidak semakin menurun, bahkan dari segi kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat, seperti tindak KKN, perzinahan, dan kejahatan lainnya.

Padahal, jika shalat bisa dikerjakan dengan baik dan benar, dengan memperhatikan syarat rukunnya, sah batalnya, dan kesunahannya, maka hikmahnya sangat besar, baik dalam kehidupan individu maupun masyarakat. 

Misalnya saja, manifestasi dari rukun qauli (bacaan dalam shalat) akan menjadikan orang tidak mudah berkata bohong, memfitnah, dan berkata kotor lainnya. Manifestasi dari rukun fi'li (gerakan dalam shalat), tangan tidak akan digunakan untuk menjamah sesuatu yang dilarang agama, dan kaki pun tidak melangkah kecuali yang diridhai Allah. Demikian juga anggota tubuh lainnya. Sedangkan manifestasi dari rukun qalbi (kekhusukan hati), maka jiwanya tidak akan mudah dihinggapi penyakit rohani, seperti hasut, iri, dengki, dendam, dan sombong.

Misal lainnya adalah sujud. Sujud merupakan simbol penghambaan (ketaatan) tertinggi seorang Muslim. Karena posisi sujud adalah meletakkan kepala di lantai (tanah). Orang yang bersujud berarti telah rela meletakkan kepalanya yang terhormat ke lantai yang diinjak oleh kaki.

Ini artinya orang yang sujud itu telah bersedia mematuhi ketetapan-ketetapan hukum (syariat Islam) secara totalitas dalam semua aspek kehidupan. Dengan begitu, secara kontekstual ia pun harus bersujud dalam segala bentuk aktivitas kehidupannya sehari-hari.

Misalnya, jika berbisnis harus jujur, tidak menipu, dan tidak mencuri takaran atau timbangan. Jika berpolitik harus mengedepankan moral dengan tujuan memperjuangkan kaum lemah. Dan, jika menjadi pemimpin ia berusaha mengemban amanah. Rasulullah mengumpamakan orang yang mengerjakan shalat lima kali sehari semalam itu seperti orang yang mandi untuk membersihkan kotoran yang ada di badan.

Kata Rasulullah, ''Bagaimana pendapatmu jika ada sungai di depan rumahmu, lantas kamu mandi di situ sehari lima kali, apa masih kotor badanmu?'' Para sahabat menjawab, tidak ada kotorannya sama sekali. Kemudian beliau bersabda, ''Maka, seperti itu juga shalat lima waktu, maka Allah akan menghapus dosa-dosa dengan shalat.'' (Bukhari-Muslim).

https://khazanah.republika.co.id/berita/pzf8qw320/rajin-shalat-namun-justru-jauh-dari-allah-swt-siapa-mereka

 

Baca selanjutnya...

Begini Cara Benar Berjalan di Eskalator, Tak Seperti yang Dikira

MAMHTROSO.COM -- Jika Anda tinggal di kota, mungkin tahu tentang aturan berjalan di eskalator yang berlaku pada umumnya. Ini seperti ketika kita berjalan kaki di pinggir jalan raya.

Saat menaiki atau menuruni tangga eskalator, kita disarankan untuk berdiri di jalur kanan. Sedangkan lajur kiri digunakan untuk mereka yang ingin berjalan kaki atau sampai ditujuan dengan cepat, terburu-buru.

Namun, menurut CBC News yang dikutip pada Selasa (15/10/2019), pabrikan eskalator Otis Elevator Company merekomendasikan agar "pengguna berdiri di tengah eskalator dengan kedua tangan memegang kedua pembatas (kanan-kiri) untuk keamanan maksimum."

Lifehacker menunjukkan bahwa daftar resmi Otis --tentang saran keselamatan-- tidak secara tegas menyebutkan untuk menggunakan kedua pegangan tangan.

Akan tetapi mereka mendorong orang-orang untuk berpegangan pada pembatas yang berbahan karet, berdiri di tengah eskalator, dan menghadap ke depan.

"Jika ada orang di depan Anda berdiri di tengah dengan hanya satu tangan berpegangan pada rel, Anda tidak bisa bergerak naik tanpa meminta mereka minggir," tulis laporan Otis, dikutip dari Mentalfloss.

Berbicara tentang berjalan naik atau turun di eskalator, Otis menyebut ini justru membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Penelitian menunjukkan, jika semua orang berdiri dan menggunakan kedua jalur eskalator, mesin dapat mengangkut sekitar 31 orang per menit dan berada dalam posisi seimbang.

CBC mengutip studi di Jepang dan China, menyebut bahwa orang yang berjalan di eskalator tidak hanya meningkatkan kemungkinan kecelakaan eskalator, tetapi juga berkontribusi pada degenerasi alat berat itu sendiri.

https://www.liputan6.com/global/read/4086930/begini-cara-benar-berjalan-di-eskalator-tak-seperti-yang-dikira

 

Baca selanjutnya...

الرزق ومصدره، والحكمة من قبضه وبسطه

السؤال

أود أن أسأل حول كيفية الجمع بين الآية التي تقول: (إن ربك يبسط الرزق لمن يشاء ويقدر) أي أن الله يرزق من يشاء، ويقدر على من يشاء. وآيات أخرى في القرآن تتحدث عن الرزق، وأننا يجب أن نطلب الرزق من الله، وهو يرزقنا بغير حساب، مثل آية: (ولا تقتلوا أولادكم خشية إملاق نحن نرزقهم وإياكم)، ومثلا آية: (لا نسألك رزقا نحن نرزقك).
فهنا الله يقول بأنه هو الذي يرزقنا، ورزقنا على الله، ويجب أن نتوكل عليه، ولكن في الآية الأولى يقول بأنه يرزق من يشاء، وهناك ناس لا يرزقهم، فكيف ذلك؟

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد:

فالرزق بأشكاله وأنواعه المختلفة إنما هو من الله تعالى وحده. ولا يستطيع أحد البقاء في هذا الوجود إلا برزق الله تعالى، فالهواء الذي نتنفسه، والماء الذي نشربه، والطعام الذي نأكله، والثوب الذي نلبسه، والدواء الذي نتناوله، والبيت الذي نسكنه، وغير ذلك من منافع الحياة الدنيا إنما هي من رزق الله تعالى، الذي لا ينفك عنه أحد، ولا يملكه غير الله أحد، كما قال تعالى: أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ [الملك: 21]. قال ابن كثير في تفسيره: أي: من هذا الذي إذا قطع الله رزقه عنكم يرزقكم بعده؟! أي: لا أحد يعطي ويمنع ويخلق ويرزق، وينصر إلا الله، عز وجل، وحده لا شريك له. اهـ.

وقال سبحانه: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ هَلْ مِنْ خَالِقٍ غَيْرُ اللَّهِ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ [فاطر: 3].
وعلى هذا المعنى جاء قوله تعالى: وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ [الأنعام: 151] فرزق الوالد والولد كليهما إنما هو على الله تعالى وحده. قال الماوردي في النكت والعيون: {نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ} لأن رزق العباد كلهم من كفيل ومكفول على خالقهم. اهـ.

ومن هنا تعلم السائلة خطأها في قولها: (هناك ناس لا يرزقهم)! فالبشر جميعا يرزقهم الله، ولا ينفك أحد منهم عن رزق الله، ولكنهم بعد ذلك يتفاضلون فيه، فمنهم من يُوسَّع عليه، ومنهم من يُضيَّق عليه، كما قال تعالى: وَاللَّهُ فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ [النحل: 71] قال السعدي في تفسيره: يقول تعالى: كما أنكم مشتركون بأنكم مخلوقون مرزوقون، إلا أنه تعالى {فَضَّلَ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الرِّزْقِ} فجعل منكم أحرارا لهم مال وثروة، ومنكم أرقاء لهم لا يملكون شيئا من الدنيا... اهـ.
وهذا المعنى يتكرر في القرآن، كما في قوله سبحانه: نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا [الزخرف: 32] وقوله عز وجل: اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَيَقْدِرُ لَهُ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [العنكبوت: 62] وغير ذلك من الآيات. 

وهذا البسط والقبض مرتبطان بحكمة الله تعالى في قضائه وقدره، ومتعلقان بمشيئته سبحانه، كما في قوله تعالى:  وَتَرْزُقُ مَنْ تَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ [آل عمران: 27] قال ابن كثير: أي: تعطي من شئت من المال ما لا يعده ولا يقدر على إحصائه، وتقتر على آخرين، لما لك في ذلك من الحكمة والإرادة والمشيئة والعدل. اهـ. 

والله أعلم.

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/404602/%D8%A7%D9%84%D8%B1%D8%B2%D9%82-%D9%88%D9%85%D8%B5%D8%AF%D8%B1%D9%87%D8%8C-%D9%88%D8%A7%D9%84%D8%AD%D9%83%D9%85%D8%A9-%D9%85%D9%86-%D9%82%D8%A8%D8%B6%D9%87-%D9%88%D8%A8%D8%B3%D8%B7%D9%87

Baca selanjutnya...

Does Reading Surat Yaseen Benefit the Dead?

Question:

I want to ask whether reading Surat Yaseen benefits a dead person?

 

Answer:

In the Name of Allah, Most Gracious, Most Merciful. 

All praise and thanks are due to Allah, and peace and blessings be upon His Messenger.


In this fatwa:

1- You may read any part of the Quran and pray to Allah to send rewards for any of your dead parentsrelatives, or friends you may wish. 

2- Since Surat Yaseen is an important surah of the Quran and is often referred to as the heart of the Quran, there is no reason to exempt it.


In his response to your question, Sheikh Ahmad Kutty, a senior lecturer and Islamic scholar at the Islamic Institute of Toronto, Ontario, Canada, states:

It is the view of the majority of Muslims, including the scholars of jurisprudence and Hadith, that we are allowed to read the Quran on our own volition and donate the rewards for the dead parents or relatives or friends.

If we do so, Allah being generous, we believe He will not refuse to send such rewards to them.

Therefore, you may read any part of the Quran and pray to Allah to send rewards for any of your dead parents, relatives, or friends you may wish.

Since Surat Yaseen is an important surah of the Quran and is often referred to as the heart of the Quran, there is no reason to exempt it.

There is also a report from the Prophet (peace and blessings be upon him) which states, “Read Yaseen on your dead ones!” (Ahmad)

Although some scholars take this hadith to mean that it refers to the time of dying as opposed to the time after death, there is no need to stop anyone from reading it even if we were to accept the above interpretation.

Having said this, however, I must hasten to add the following:

Reading Quran in return for payment for this purpose is considered a bid`ah (innovation). Likewise, it is also wrong to consider this as part of prescribed Islamic funerals.

Almighty Allah knows best.

Editor’s note: This fatwa is from Ask the Scholar’s archive and was originally published at an earlier date.

https://aboutislam.net/counseling/ask-the-scholar/quran-hadith/reading-surat-yaseen-benefit-dead

 

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed