MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Anjuran untuk Tersenyum

MAMHTROSO.COM -- Syekh Abdullah Ju'aitsan, dalam bukunya yang berjudul Meneladani Nabi dalam Sehari menyebutkan, senyum merupakan sebuah bentuk kebaikan. Nabi Muhammad tidak pernah terlihat kecuali dalam keadaan tersenyum.

Nabi bersabda: "Senyumanmu di hadapan saudaramu adalah sedekah bagimu." (HR Tirmidzi)

Nabi juga bersabda, "Kalian tidak akan dapat meraih hati manusia dengan kekayaan kalian, tetapi kalian dapat meraih hati mereka dengan wajah yang berseri-seri dan akhlak yang baik." (HR Al Bazar, Al Hafidz Ibnu Hajar berkata, "Sanadnya hasan.")

Syekh Abdullah menganjurkan, agar kita menunjukkan wajah berseri-seri di hadapan manusia."Apa gunanya anda mentransfer kegalauan dan permasalahan anda ke wjaah anda lalu menemui orang lain dan saudara-saudara muslim dengan wajah yang lesu? Jangan begitu, sembunyikanlah kesedihan dalam lubuk hati anda dan tampakkanlah wajah yang senantiasa berseri. Ini karena bisa membuat seseorang menjadi bahagia. Hal itu tentu akan menjadi sedekah dan pendekatan diri kepada Allah," tulis Syekh Abdullah.

https://republika.co.id/berita/qb1a96430/anjuran-untuk-tersenyum

Baca selanjutnya...

Syawal Menyempurnakan Ramadhan

MAMHTROSO.COM -- Setelah menyelesaikan puasa wajib sebulan penuh Ramadhan, kita dianjurkan untuk berpuasa sunah enam hari pada bulan Syawal. Nabi menyebut, nilai pahala puasa ini seperti puasa setahun penuh, “Barang siapa berpuasa Ramadhan, kemudian ia ikuti dengan puasa enam hari pada bulan Syawal, maka itu seperti berpuasa setahun.” (HR Muslim)

Dalam penjelasan Imam Ibrahim al-Baijuri, disebut seperti puasa setahun penuh karena puasa satu bulan Ramadhan sama dengan berpuasa selama sepuluh bulan. Sementara, puasa enam hari pada bulan Syawal sama dengan puasa selama dua bulan sehingga totalnya adalah berpuasa selama setahun seperti puasa wajib. Jika tidak, tidak ada keistimewaan untuk hal itu. Kita tahu, satu kebaikan diberi ganjaran dengan sepuluh kebaikan yang semisal.

Puasa Syawal termasuk salah satu puasa sunah yang sangat dianjurkan. Selain nilainya yang amat besar, puasa ini menjadi bentuk kecintaan kita terhadap Ramadhan yang telah berlalu, juga perasaan kita yang telah ditinggalkan Ramadhan yang penuh berkah.

Puasa ini menjadi semacam perpisahan yang membuat kita sedih karena ditinggalkan bulan Ramadhan. Kita seolah-olah tak ingin Ramadhan cepat berlalu sehingga kita tetap berpuasa enam hari setelahnya, untuk melepas kepergiannya.

Selain itu, sebagai salah satu amal sunah, puasa ini menjadi penyempurna untuk puasa Ramadhan kita yang bisa jadi masih kurang. Berpuasa Ramadhan, tetapi bisa jadi kita tidak bisa menahan ucapan dan penglihatan dari hal-hal yang tak patut. Berpuasa Ramadhan, tetapi kita masih belum bisa berempati dengan orang-orang di sekitar kita.

Puasa Ramadhan kita mungkin secara syariat sah, dalam arti menahan diri dari makan dan minum dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, puasa secara batiniah bisa jadi masih kurang.

Puasa Syawal bisa menjadi penyempurna puasa wajib yang tidak maksimal tadi. Nabi mengatakan, “Jika seorang hamba memiliki amal ibadah sunah, Allah berfirman kepada malaikat, ‘Sempurnakanlah ibadah wajibnya dengan ibadah sunahnya.’ Setiap amal wajib akan disempurnakan seperti itu.” (HR Ahmad)

Syekh Husain bin Mahmud az-Zaidani al-Madzhari dalam kitabnya, al-Mafatih fi Syarh al-Mashabih, menjelaskan bahwa jika ibadah puasa wajib seseorang tidak sempurna, akan disempurnakan oleh ibadah puasa yang hukumnya sunah. Hal yang sama juga berlaku pada ibadah shalat, zakat, dan seterusnya. Shalat yang tidak maksimal disempurnakan dengan shalat sunah rawatib yang mengiringinya, baik sebelum (shalat qabliyah) maupun sesudahnya (bakdiyah)

Allah mencintai kita yang selalu bergairah melakukan ibadah sunah karena mengharap pahala dan keridhaan-Nya. Nabi mengatakan, “Tidaklah hamba-Ku terus-menerus mendekatkan diri kepada-Ku dengan amal-amal sunnah, sampai Aku mencintainya. Jika Aku sudah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang dia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatan yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangan yang dia gunakan untuk memegang; dan menjadi kaki yang dia gunakan untuk berjalan.” (HR al-Bukhari).

Dengan berpuasa Syawal, kita sejatinya berusaha maksimal untuk menyempurnakan puasa Ramadhan kita sekaligus untuk mendapatkan pahala dan kecintaan Allah. Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya yang ikhlas karena-Nya. Wallahu a’lam. n

https://www.republika.id/posts/7022/syawal-menyempurnakan-ramadhan

Baca selanjutnya...

Merangkak Sebelum Berjalan

MAMHTROSO.COM -- Kesadaran tentang adanya “proses” kehidupan selalu menumbuhkan harapan bagi kita dalam mengarungi kehidupan (termasuk dalam dunia bisnis). Kali ini, saya ingin berkisah tentang seorang penari balet bernama Ma Li yang salah satu tangannya diamputasi karena sebuah kecelakaan. Kondisi itu menyebabkan keseimbangan dirinya sebagai penari balet menjadi tak maksimal. Namun, karena harapan yang terus menyala, serta kecintaannya pada tarian balet, ia terus berlatih.

Hingga, suatu hari, ia berhasil merebut medali emas pada kompetisi tari khusus orang dengan kekurangan fisik sepertinya. Ia bahkan berjodoh dengan seorang bernama Tao Li, yang kemudian bersamanya berkeliling pentas menari ke seluruh negeri. Sayangnya, karena ada wabah penyakit—yang membuat gedung kesenian di mana-mana ditutup—mereka pun bangkrut.

Setelah masa krisis lewat, di sebuah malam, mereka mendapat inspirasi untuk menciptakan tarian yang unik. Untuk itu, mereka membutuhkan penari lainnya, yang juga kurang secara fisik. Singkat cerita, bertemulah mereka dengan seorang atlet bernama Zhai Xiao Wei yang diamputasi salah satu kakinya akibat kecelakaan saat masih kecil. Wei lantas ditawari menjadi partner menari Ma Li.

Karena bukan berlatar belakang seorang penari, Wei segera menolak. Tetapi, melihat keindahan tarian Ma Li, akhirnya ia mau belajar dan menjadi partner tari Ma Li. Berdua, mereka menumbuhkan harapan akan sebuah tarian unik yang tak ada duanya. Karena masing-masing punya kekurangan fisik, Li dan Wei harus berlatih sangat lama dan sangat keras, untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Mereka terjatuh berkali-kali, tak terhitung jumlahnya. Namun perjuangan mereka pun mendapat hasil yang luar biasa. Kejuaraan menari dimenangkan, nama keduanya pun mendunia.

Pembaca yang Luar Biasa,

Untuk meraih suatu hasil, ada proses yang tak bisa dilompati. Semua proses itu berjalan, berurutan, berkesinambungan. Inilah hukum alam yang tak bisa kita hindari. Dengan kesadaran itulah, kita seharusnya bisa terus memelihara harapan demi harapan dalam menempuh berbagai tantangan dan rintangan hidup. Ketika satu solusi sudah didapat, kita pun akan terus “dibuat” mencari solusi lain dari masalah yang muncul berikutnya.

Saat sedang berada pada tahap “merangkak”, kita sebenarnya sudah diajarkan tentang adanya harapan untuk bisa berjalan. Maka, dengan sendirinya, kita akan terus terdorong untuk mewujudkan harapan tersebut. Entah, berapa kali harus terjatuh, bangun lagi, jatuh, bangun lagi.

Adanya harapan akan terus menguatkan perjuangan kita! Istilah atau pepatah bijak yang saya ambil untuk judul artikel ini, bisa kita maknai sebagai ajakan untuk terus menumbuhkan harapan guna mencapai impian.

Mari, tumbuhkan harapan, nikmati proses dalam setiap tantangan, maka kehidupan akan jauh lebih membahagiakan.

Salam sukses, luar biasa!

https://andriewongso.com/merangkak-sebelum-berjalan/

Baca selanjutnya...

المرض الذي يبيح الفطر

السؤال

أنا مريضة بالتهاب القولون التقرّحي، وأنا أمّ مرضعة، ودخل الآن رمضان، والمرض اشتد عليَّ بإسهال، ونزيف في الأمعاء، وآلام في البطن، وأريد أن أبدأ علاجًا طبيعيًّا، فهل يمكنني أن أفطر أيامًا حتى أشفى؟

 

الإجابــة

 

الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله، وصحبه، أما بعد: 

فإذا كان مرضك يزيد بالصوم، أو كان برؤك يتأخر به، وكنت تتضررين بالصوم ضررًا ظاهرًا، فلك رخصة في الفطر، وتقضين ما تفطرينه، متى ما أمكنك ذلك؛ لقوله تعالى: وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ {البقرة:185}. 

والمرض الذي يبيح الفطر هو: الذي يشقّ معه الصوم، أو تخشى زيادته، أو تباطؤ بُرْئِه بالصوم، كما بين ذلك أهل العلم، قال ابن قدامة ـ رحمه الله -: المرض المبيح للفطر هو: الشديد الذي يزيد بالصوم، أو يخشى تباطؤ برئه. انتهى.

وهذا من رحمة الله تعالى بعباده، وتخفيفه عنهم، ورفعه الحرج عنهم، كما قال تعالى: وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ {الحج:78}.

والله أعلم.

 

https://www.islamweb.net/ar/fatwa/419050/%D8%A7%D9%84%D9%85%D8%B1%D8%B6-%D8%A7%D9%84%D8%B0%D9%8A-%D9%8A%D8%A8%D9%8A%D8%AD-%D8%A7%D9%84%D9%81%D8%B7%D8%B1

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed