MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Cita-cita dalam Sebuah Kahidupan


Di dunia ini manusia hidup saling berdampingan, saling tolong-menolong, saling membantu untuk mencapai cita-cita mereka. Tidak ada manusia yang hidup di dunia ini sendirian tanpa membutuhkan bantuan orang lain, karena manusia ditakdirkan sebagai makhluk sosial yang tidak akan bisa meraih cita-citanya tanpa bantuan orang lain. Cita-cita setiap  manusia tentu berbeda-beda dan harus dimiliki oleh setiap manusia. Karena dengan cita-cita tersebut maka dapat mengambil beberapa hikmah, diantaranya:
1. Mereka dapat menjalani hidupnya dengan baik, karena sebelum melakukan sesuatu mereka telah merencanakannya terlebih dahulu. Berbeda dengan orang-orang yang tidak memiliki tujuan hidup, mereka menjalani hidupnya bagaikan air yang mengalir tanpa arah yang jelas, mereka hanya mengikuti alur yang telah ada.
2. Mereka akan berusaha sekuat mungkin untuk meraih cita-citanya, sehingga tidak ada waktu luang baginya.
3. Memiliki pendirian yang kuat, sehingga tidak mudah dipengaruhi orang lain.

Selain beberapa hikmah di atas, masih banyak lagi hikmah yang akan didapat seseorang apabila apa yang akan dilakukannya telah direncanakan terlebih dahulu.

Semoga penjelasan di atas dapat menjadi penyemangat bagi kita semua dalam menggapai cita-cita dan semoga sukses.

Baca selanjutnya...

Arti Kehidupan


Arti hidup dalam pandangan Islam adalah hidup dalam kualitas secara berkesinambungan dari kehidupan di dunia sampai di akhirat yang penuh arti dan bermanfaat bagi lingkungan hidup. Hidup seseorang dalam syari'at Islam diatur dengan seberapa besar seseorang itu menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai manusia yang diciptakan Allah, SWT.

Jika seseorang mendengar ada orang meninggal dunia dalam usia yang masih relatif muda, maka reaksi seseorang itu yang pertama kali muncul "sayang, umurnya pendek sekali untuk hidup". Disini seseorang itu memandang bahwa nilai kehidupan ditentukan hanya umur saja, tetapi pada dasarnya nilai kehidupan itu ditentukan oleh amal sholeh/perbuatan baik yang dilakukan orang tersebut.

Manusia sebagai makhluk sosial dianjurkan untuk saling tolong-menolong dan saling menasihati agar tercipta kehidupan yang damai di dunia. Allah, SWT. menyuruh ummatnya untuk menjalankan kehidupan dengan baik dan benar. Dan sebagai makhluk yang berakal hendaklah manusia itu dapat mengambil pelajaran tentang arti kehidupan.

Kalau kita mengisi kehidupan dengan mengeluh, hanya pasrah dan tidak mau berusaha tentu kita menjalani kehidupan yang sangat membosankan, terasa terbeban dan tidak dapat menahan diri kita pada hal-hal yang negatif.

Sebaliknya jika kita mampu mengisi kehidupan dengan hal-hal yang baik sebenarnya kehidupan ini indah dan menyenangkan, tentu kita akan menghargai kehidupan ini. Mengisi hidup dengan semangat penuh harapan dan cita-cita serta bergaul dengan harmonis maka yang dapat kita jumpai adalah kehidupan yang aman dan sejahtera.

Oleh karena itu, kita hendaknya mengaktualisasikan diri sendiri dalam segenap amal shaleh dalam kehidupan ini.

Baca selanjutnya...

Baju Renang


Pada akhir jam pelajaran seorang guru memberi informasi pada anak didiknya.
Guru        : Baiklah! Pelajaran hari ini cukup sampai disini, ada sedikit informasi bahwa besok pagi kita berwisata religi ke salah satu makam walisongo.
Ridwan (murid)    : Bawa sandal bu?    
Guru        : Sandalnya jangan dibawa, tapi di pakai.
Ridwan (murid)    : Bawa bekal atau tidak bu?
Guru        : Kalau bekal saya rasa tidak usah, karena sekolah sudah menyiapkan konsumsi untuk kalian.
Ridwan (murid)    : Bawa uang jajan bu?
Guru        : Jika itu dibutuhkan, silahkan membawa uang jajan secukupnya saja.
Ridwan (murid)    : Kalau pakaian, memakai busana muslim atau yang lain bu?
(karena guru semakin kesal, guru tersebut menjawab)
Guru        : Tidak!!! memakai pakaian renang.
Siswa sekelas    : Ha...ha...ha...makanya jangan banyak tanya !!!
Kemudian guru tersebut mengucapkan salam kemudian keluar dari kelas

Baca selanjutnya...

Jerih Payah Sang Petani


ayam berkokok....
pagipun lahir kembali
mengantarkan petani pergi ke sawah....
tak lupa cangkul tersandarkan di pundak
yang setia menemani....
menanam benih-benih padi....
meski hujan mengguyurmu....
meski panas mentari menusuk tulang....
semua itu....
tak kau hiraukan
biarpun engkau tak dilihat....
biarpun engkau tak diminat....
engkau turut berpengaruh....
kesejahteraan negeri ini
berkat kau....
kita bisa memakan nasi
terima kasih petani

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed