MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Bremen Akui Organisasi Islam Sebagai Lembaga Keagamaan Resmi

REPUBLIKA.CO.ID, BREMEN -- Pemerintah lokal Bremen mengakui tiga organisasi Islam sebagai badan resmi yang mengurusi masalah keislaman. Langkah Bremen ini menyusul Hamburg dan Hesse yang lebih dulu melakukannya.

"Pengakuan ini memberikan sinyal jelas bahwa Islam milik Jerman," kata Juru bicara Dewan Koordinasi Muslim Jerman, Erol Purlu seperti dikutipDeustche Welle, Rabu (30/1).

Pengesahan ini merupakan cerita manis perjuangan Muslim Bremen melalui Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB) dan Asosiasi Pusat Budaya Islam (VIKZ) bekerja keras selama dua dekade terakhir untuk mendapatkan status itu.
Tentunya, pengesahan ini disambut suka cita oleh Muslim Bremen, karena mereka akan mendapatkan haknya untuk memperoleh pendidikan agama yang layak. "Status ini penting bagi kami," kata dia.

Purlu mengatakan dengan diberikannya status ini, Muslim Jerman akan menyiapkan satu kebijakan penting dalam usaha peningkatan kualitas sumber daya Muslim. Karena itu, kebijakan tidak dibuat terburu-buru.

Secara terpisah, Ahli Hukum, Heinrich de Wall mengatakan apabila DITIB dikatakan sebagai lembaga keagamaan tentu sulit bagi pemerintah untuk mengatakan sebaliknya.

Juru bicara DITIB, Bekir Abolga berharap pengakuan ini akan membuat organisasi Muslim mendapatkan akses lebih dalam hal penggunaan uang publik untuk mempermudah usaha mereka mengintegrasikan Muslim ke dalam masyarakat Jerman. "Kami membutuhkannya tentu akan mempermudah pekerjaan kami," kata dia.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/31/mhg9s8-bremen-akui-organisasi-islam-sebagai-lembaga-keagamaan-resmi

Baca selanjutnya...

Subhanallah, Prestasi Muslim Inggris Diakui

REPUBLIKA.CO.ID,LONDON--Penghargaan The British Muslim Award akan digelar. Penghargaan ini boleh dikatakan bersejarah karena untuk kali pertama digelar.

Penggagas BMA, Direktur Oceanic Consulting, Irfan Younis mengatakan penghargaan ini merupakan apresiasi terhadap jasa atau prestasi Muslim Inggris.

"Kami memiliki sejumlah sosok inspiratif yang bangga menjadi Muslim dan Inggris. Ini pertama kalinya, prestasi mereka akan diakui oleh masyarakat," kata dia seperti dikutip The Daily Telegraph and Argus, Senin (28/1).

Younis mengatakan BMA mendapat respon yang luar biasa dalam masyarakat Inggris. "Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada publik dengan respon yang fantastis. Saya juga ingin mengucapkan selamat kepada semua finalis," kata dia.

Salah seorang finalis, Shaheen Kauser, seorang perawat di salah satu rumah sakit Inggris, mengaku sangat tersanjung ketika terpilih sebagai salah satu nominator. Kauser masuk nominasi untuk kategori kesehatan.

"Saya sangat senang karena bantuan yang saya berikan bermanfaat kepada pasien. Saya kira, mereka membutuhkan dorongan spiritual untuk cepat sembuh," ucap dia.

Kausar sendiri akan bersaing dengan Iman Abdul Jalil Sajid , Dewan Islam Brighton, Sheikh Bilal Khan dari Dome Penasehat, Iman Monawar Hussain dari Oxford Foundation dan Ajmal Masroor dari Barefoot Institute.

Di luar itu, kata dia, ada 21 kategori lain seperti Muslims in the Community, Arts & amp; Culture awareness, Sports Achievement, Young Achiever dan lainnya. Younis menjelaskan, penghargaan akan diberikan pada 29 Januari besok.

Berbeda dengan umat Islam di wilayah Eropa lainnya, Muslim Inggris termasuk aman dari berbagai kebijakan diskriminatif. Kendati demikian, berbagai gerakan penolakan muncul seiring dengan naiknya popularitas kelompok sayap kanan Eropa.

Banyak kalangan berpendapat, penolakan itu ditengarai karena pertumbuhan jumlah umat Islam di Inggris terus menunjukkan peningkatan. Bahkan, hasil sensus penduduk menunjukkan perkembangan agama Islam paling cepat di Inggris dan Wales.

Seperti dilansir Dailymail,  prosentase peningkatan Muslim menjadi yang tertinggi berdasarkan data statistik dua negara itu. Sementara agama mayoritas Inggris, Kristen, justru mengalami penurunan sangat besar dalam sensus nasional negara tersebut.

Presentase peningkatan Umat Islam di negara kerajaan tersebut mencapai 1,8 persen. Sementara agama lain tak lebih dari 0,5 persen. Diantaranya Hindu 0,4 persen, Sikh 0,2 persen, Yahudi 0 persen, Buddha 0,1 persen dan agama lain 0,1 persen.

Proporsi Muslim pada sensus sebelumnya di tahun 2001 sebanyak 3 persen dari total penduduk Inggris dan Wales yang mencapai 56,1 juta jiwa. Dengan peningkatan tersebut, jumlah Muslimin hingga tahun 2011 mencapai 4,8 persen dari jumlah penduduk.

Jika dikalkulasi, di tahun 2011 jumlah Umat Islam mencapai 2,7 juta sementara satu dekade sebelumnya jumlah Muslimin baru bekisar 1,5 juta.Artinya, saat ini satu dari 20 orang di Inggris menganut agama Islam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/28/mhbrif-subhanallah-prestasi-muslim-inggris-diakui

Baca selanjutnya...

Kaum Muslim Masih Berjuang di Angola (2)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Afriza Hanifa

Selama dijajah  Portugis, Angola menjadi tempat penyebaran agama Kristen. Tak ada celah sedikit pun bagi Islam masuk. Selama berabad-abad, kawasan Angola dan sekitarnya, seperti Kongo, telah menjadi bagian dari kerajaan Kristen. Islam pun sulit menembus fondasi Kristenisasi di kawasan tersebut. Padahal, agama akhir zaman ini telah dikenal di benua Afrika sejak era Rasulullah. Bahkan, sebagian negara Afrika termasuk dalam kawasan Timur Tengah, sebuah kawasan di mana Islam tumbuh dan berkembang pesat.

Meski masih sangat minoritas, kaum Muslimin di Angola tak patah semangat dalam beribadah dan menyebarkan Islam. Hasilnya, cukup banyak warga asli Angola yang kemudian memeluk Islam. Kehadiran organisasi Islam mengambil peran penting dalam upaya penyebaran agama Allah ini.

Tahun 2002 menjadi tonggak awal bagi kaum Muslimin untuk melebarkan sayap dakwah mereka di Angola. Sejak tahun itu, ekspansi Islam bergerak cepat. Banyak warga asli Angola menjadi Muslim. Sebagian besar Muslimin pun hidup berkecukupan. Sebagai agama baru, Islam dinilai sangat cepat berkembang di negara ini.

Komitmen pemerintah
Meski belum mengakui Islam sebagai agama yang sah, Pemerintah Angola tetap menyediakan sebuah lembaga untuk menangani urusan kaum Muslimin. Terlebih, komunitas Muslim terus bertambah sementara tak sedikit warga negara Angola yang menemui kesulitan dalam urusan politik dan negara ketika menjadi seorang mualaf. Dewan Agung Warga Angola adalah nama lembaga itu. Berpusat di Luanda, lembaga ini didirikan untuk menangani segala urusan umat Islam di Angola.

Selain mendirikan sebuah dewan, Pemerintah Angola pun terus didesak PBB agar memberikan hak kebebasan beragama bagi Muslim Angola. Komunitas Muslim Angola, menurut Dewan Hak Asasi Manusia PBB, harus diakui secara resmi. Dalam laporan peneliti khusus PBB untuk kebebasan beragama dan kepercayaan disebutkan, tak ada bukti bahwa Muslim Angola merupakan imigran ilegal yang melakukan pemalsuan dan pencucian uang. Begitu pun dengan tudingan keterlibatan komunitas Muslim setempat dengan jaringan Alqaidah, tak pernah terbukti hingga kini.

Kepada PBB, Pemerintah Angola telah menyatakan komitmennya untuk melakukan transparansi kebijakan agama. Komitmen ini membuat Muslim Angola  bernapas sedikit lega. Impian mereka agar Islam diakui sebagai agama yang sah oleh negara pun terasa kian mendekati kenyataan.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/25/mh5rua-kaum-muslim-masih-berjuang-di-angola-2

Baca selanjutnya...

Kaum Muslim Masih Berjuang di Angola (1)

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh Afriza Hanifa

Di bagian selatan benua Afrika, terdapat sebuah negara yang wilayahnya cukup luas, sekitar 1,24 juta kilometer persegi, hanya sedikit lebih kecil dari luas daratan Indonesia yang sekitar 1,81 juga kilometer persegi. Letaknya berbatasan dengan Zambia, Namibia, dan Kongo. Angola, demikian nama negara itu.

Ibu kota negara ini, Luanda, terletak di posisi yang strategis, yakni di garis pantai Atlantik Selatan. Di negeri republik ini, hidup sekitar 80 ribu hingga 90 ribu Muslimin.  Dari jumlah tersebut, setengahnya bukan penduduk asli Angola melainkan imigran dari Afrika Barat yang didominasi warga keturunan Lebanon.

Menurut data dari Lembaga Urusan Agama Nasional, jumlah Muslim tak sampai satu persen dari total populasi Angola yang mencapai 17,3 juta jiwa. Lain lagi dengan data yang dilaporkan kantor berita PANA. Disebutkan, Muslim Angola saat ini mengambil bagian seperempat dari total penduduk negara itu.

Peningkatan jumlah Muslimin terjadi dalam 10 tahun terakhir, seiring meningkatnya jumlah imigran dari Lebanon. Agama mayoritas Angola yakni Katholik dengan persentase sekitar 55 persen, namun pemerintah mengestimasi 70 persen penduduk beragama Katholik. Agama tersebut diwariskan dari penguasa Angola terdahulu, yakni  Portugis.

Dalam posisinya yang minoritas, Muslim di Angola masih berjuang agar Islam diakui sebagai agama yang sah. Dalam hal ini, terdapat syarat yang harus dipenuhi agar sebuah agama diakui di negara bekas koloni Portugis tersebut. Syarat tersebut yakni agama tersebut harus dianut oleh minimal 100 ribu warga dari kalangan dewasa.

Bertahun-tahun, Muslim Angola berupaya mendapat pengakuan sah dari negara. Mereka sempat mendekati persyaratan tersebut, dengan mendaftarkan 100 ribu Muslim dewasa. Namun, rupanya tak hanya soal angka yang dipermasalahkan Pemerintah Angola. Negara tak menghitung penganut yang bukan warga negara Angola. Sedangkan, sebagian besar Muslimin di Angola merupakan imigran ilegal sehingga tak masuk hitungan.

Meski belum diakui, Muslimin tetap menjalankan rutinitas beribadah. Kegiatan keislaman banyak digelar di kota-kota besar. Di sejumlah wilayah, mereka mendirikan masjid serta tempat mempelajari Alquran dan bahasa Arab. Mereka pun memiliki ulama yang mengajarkan mereka ilmu agama.

Setiap tahun, jumlah Muslimin bertambah. Selain karena pernikahan dengan warga setempat, dakwah juga terus diserukan. Kaum imigran yang beragama Islam pun terus berdatangan. Sebagian besar dari mereka merupakan para pengusaha dan pedagang. Tak hanya dari Lebanon, pendatang juga berasal dari Mali, Nigeria, serta Senegal.

Islam baru dikenal di Angola pada 1990-an. Sejarah mencatat, imigran Afrika Barat dan imigran gelap dari Kongo memasuki Angola karena tertarik dengan tambang berlian di sana. Angola memang terkenal kaya akan berlian. Pada 2006, negara ini mengantongi 1,1 miliar dolar AS dari penjualan berlian.

Tak hanya terpikat oleh berlian, para imigran tertarik pindah ke Angola karena melihat peningkatan ekonomi negara tersebut. Kehadiran para imigran Muslim tersebut menjadi pintu gerbang bagi Angola untuk mengenal Islam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/13/01/25/mh5q0i-kaum-muslim-masih-berjuang-di-angola-1

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed