MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Militer Turki Jaga Ketat Injil Barnabas

REPUBLIKA.CO.ID,  TEHERAN -- Militer Turki mengamankan secara ketat naskah kuno yang diklaim sebagai Injil Barnabas dari abad kelima masehi. Naskah itu dijaga dengan ketat agar tak lepas ke tangan yang tidak bertanggung jawab.

Media Iran Basij Press melansir, alasan di balik pengambilalihan naskah kuno oleh pihak militer itu dikarenakan adanya upaya dari kaum Zionis dan pemerintah negara-negara Barat untuk mensabotase isinya.

“Militer Turki mengambil alih kepemilikan naskah kuno itu karena Zinonis dan Barat berusaha memusnahkannya,” tulis surat kabar Iran itu seperti dilansir wnd.com.

Sebagian isi Injil kuno tersebut memang menyalahi doktrin Kekristenan pada umumnya. Bahkan pada bab 41 tertulis lafal syahadah dan pengakuan terhadap kerasulan Muhammad. “Ketika Adam berbalik, ia melihat di atas pintu gerbang surge tertulis kalimat ‘Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya’.”

Injil Barnabas itu juga menyebutkan bahwa Yesus tidak pernah disalib. Yesus juga disebut telah memprediksi kedatangan Muhammad.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/06/06/m56r38-militer-turki-jaga-ketat-injil-barnabas

Baca selanjutnya...

Masuknya Islam di Negeri Tirai Bambu (1)

REPUBLIKA.CO.ID, Islam adalah agama universal, yang bisa diterima oleh semua golongan; suku, bangsa, dan adat istiadat. Karena itu, Islam cepat diterima masyarakat karena prinsip toleran (tasamuh), moderat (tawasuth), berkeadilan, dan seimbang (tawazun).

Hal ini pun terjadi pula pada masyarakat Cina. Negeri dengan penduduknya kini lebih dari satu miliar ini, menerima Islam dengan sambutan hangat.

Sejarah mencatat, Islam masuk ke Cina pada masa Dinasti Tang (618-905 M), yang dibawa oleh salah seorang panglima Muslim, Sa’ad bin Abi Waqqash RA, di masa Khalifah Utsman bin Affan RA.

Menurut Chen Yuen, dalam A Brief Study of the Introduction of Islam to China, masuknya Islam ke Cina sekitar tahun 30 H atau sekitar 651 M. Ketika itu, Cina diperintah oleh Kaisar Yong Hui (ada pula yang menyebut nama Yung Wei).

Data masuknya Islam ke Cina ini dipertegas lagi oleh Ibrahim Tien Ying Ma dalam Muslims in China (Perkembangan Islam di Tiongkok). Buku ini secara lengkap mengupas sejarah perkembangan Islam di Cina sejak awal masuk hingga tahun 1980-an.

Sebelumnya, banyak hikayat yang berkembang mengenai masuknya Islam ke Negeri Tirai Bambu ini. Namun, semua hikayat itu menceritakan adanya tokoh utama di balik penyebaran agama Islam di Cina.

Versi pertama menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina dibawa sahabat Rasulullah SAW yang hijrah ke Habasyah Abyssinia (Ethiopia). Sahabat Nabi hijrah ke Ethiopia untuk menghindari kemarahan dan amuk massa kaum Quraisy jahiliyah. Mereka antara lain Ruqayyah, anak perempuan Nabi; Utsman bin Affan, suami Ruqayyah; Sa'ad bin Abi Waqqash dan sejumlah sahabat lainnya.

Para sahabat yang hijrah ke Ethiopia itu mendapat perlindungan dari Raja Atsmaha Negus di Kota Axum. Banyak sahabat yang memilih menetap dan tak kembali ke tanah Arab. Konon, mereka inilah yang kemudian berlayar dan tiba di daratan Cina pada saat Dinasti Sui berkuasa (581-618 M).

Sumber lainnya menyebutkan, ajaran Islam pertama kali tiba di Cina ketika Sa’ad bin Abi Waqqash dan tiga sahabatnya berlayar ke Cina dari Ethiopia pada 616 M. Setelah sampai di Cina, Sa’ad kembali ke Arab dan 21 tahun kemudian kembali lagi ke Guangzhou membawa Kitab Suci Alquran.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/28/m4q3ea-masuknya-islam-di-negeri-tirai-bambu-1

Baca selanjutnya...

Komunitas Muslim di Negeri Para Dewa (II)

REPUBLIKA.CO.ID,Sama seperti komunitas Muslim Vietnam umumnya, populasi Champa juga tidak diketahui secara pasti. Timothy L Gall dalam Worldmark Encyclopedia of Cultre & Daily Life memperkirakan tahun 1910 hanya ada 45 ribu etnis Champa di Vietnam dan Kamboja. Jumlah ini, masih menurut Gall, meningkat tajam mendekati 1 juta pada tahun 1970.

Lima tahun kemudian, setelah komunis memenangkan Perang Indochina II dan dan Pol Pot merebut kekuasaan dari tangan Presiden Lon Nol, hanya ada 200 ribu dan 150 ribu orang Champa di Vietnam dan Kamboja. Jumlah ini terus menyusut. Di Vietnam, politik isolasi rejim komunis menyebabkan terjadinya migrasi besar-besaran orang-orang Champa dan Muslim Vietnam yang tinggal di Ho Chi Minh City dan desa-desa sekitarnya, ke Kanada, AS, Australia, dan negara-negara Eropa.

Di Kamboja, mesin pembunuh Pol Pot melenyapkan hampir 90 ribu etnis Champa yang bermukim di propinsi Kompong Cham (Kampung Champa - red), dan Kompong Chnang, serta memaksa puluhan ribu lainnya melarikan diri lewat laut. Tidak heran jika Hinduism Today Internasional edisi Februari 1996 memperkirakan hanya ada 16 ribu etnis Champa di Vietnam. Laporan ini juga menyebutkan tidak seluruh etnis Champa memeluk Islam. Sebagian masih menyembah Dewa Siva dan Parvati.

Terlepas dari angka-angka di atas, komunitas Champa dan Muslim Vietnam relatif berhasil mempertahankan eksistensi sistem kepercayaannya selama sekian ratus tahun. Memang ada masa-masa sebagian dari mereka terabsorbsi ke dalam sekte-sekte agama Budha yang bermunculan dalam kurun waktu 100 tahun terakhir. Atau, kembali menjadi pengikut animis, terpengaruh Konfusianisme, Taoisme, atau Hindu.

Misal, sampai tahun 1950 orang-orang Champa di sejumlah desa di propinsi Nha Trang, Phan Rang, Phan Ri, dan Phan Thit -- setelah sekian ratus tahun terisolasi dengan dunia luar dan gagal berhubungan dengan saudara-saudara mereka yang bermigrasi ke Kamboja, Thailand, dan Malaysia -- mempraktekan Islam bercampur ritual Budha, Hindu, dan Ba La Mon.

Perubahan baru terjadi tahun 1959. Saat itu orang-orang Champa dan Muslim Vietnam yang tinggal di Ho Chi Minh, desa Chao Doc -- satu dari 13 desa Muslim di Vietnam Selatan -- dan Kamboja menjalin kontak dengan mereka. Dimulai dari sekedar saling melepas rindu dan berdialog dengan bahasa nenek moyang mereka. Sampai akhirnya terjadi dialog keagamaan yang intensif.

Hasilnya, di pertengahan 1959 terjadi pengiriman besar-besaran para ulama ke propinsi Nha Trang, Phan Rang, Phan Ri, dan Phan Thit. Selagi para ulama dan ustadz ini mengembalikan keislaman orang-orang Champa di desa-desa itu, Muslim di Saigon -- yang saat itu relatif menikmati kebebasan ala Barat pemerintahan Presiden Ngo Din Diem -- mengumpulkan dana untuk pembangunan masjid di Van Lam, An Nhin, dan Phi Nhin di Vietnam Tengah.

Tapi mengislamkan kembali orang-orang Champa yang sekian lama terisolasi ini tidaklah mudah. Terdapat sejumlah perlawanan, atau lebih tepatnya penolakan, dari para 'tetua' desa yang khawatir kehilangan pengaruh, akses ekonomi, dan saluran ke pemerintahan.

Sikap para 'tetua' desa ini bisa dipahami dengan terlebih dulu melihat sistem pemerintahan desa dalam konsep Konfusianisme. Desa, dalam konsep ini, merupakan 'small imperial court' yang kurang-lebih memiliki hak otonom. Di sini para tetua memainkan peran sebagai pengumpul pajak, pengontrol tanah-tanah kekayaan desa, dan bertindak sebagai pemuka agama.

Sama seperti desa-desa lain di Vietnam, masyarakat Champa yang terabsorbsi ke dalam ajaran Konfusianisme atau Hindu memiliki 'dewa' masing-masing di setiap desa. Apa yang mereka anggap dewa biasanya adalah tokoh pendiri desa yang telah mati, yang diyakini akan terus melindungi desa mereka.

Sama seperti umumnya Muslim di Asia Tenggara, Muslim Champa dan Vietnam adalah pengikut Sunni dari mazab Safi'i. Mereka relatif bisa mengadopsi tradisi pra-Islam, yang kemudian dikonversi dan diberi nafas keislaman. Sehingga, kultur mereka sama dengan saudara mereka di Jawa, Mindanao, Semenanjung Malaysia, Kamboja, dan Brunei.

Meski relatif bisa mempertahankan identitas etnis dan keislamannya, kondisi sosial-politik dan ekonomi orang Champa secara umum tetap tidak pernah berubah. Siddiq Osman Noormuhammad, dalam Muslim of Vietnam and Kampuchea, mengatakan secara materi mereka tetap miskin.  Orang Champa di desa-desa, terutama di Vietnam Tengah, relatif gagal mengikuti dinamika kehidupan saudara mereka di Ho Chi Minh City, yang mampu mandiri dari segi ekonomi. Kalau pun ada madrasah di desa mereka, bukan dibangun atas dasar dana swadana, tapi bantuan dari saudara mereka yang jauh.

Secara politik -- sama seperti pengikut agama lainnya; Cao Dai, Hoa Hao, Budha Theravada, dan Katolik -- Muslim Vietnam terkooptasi. Pemerintah komunis menyita properti milik lembaga-lembaga keagamaan, dan menjalankan lembaganya.  Pada saat-saat tertentu, rejim Hanoi juga merasa perlu mewaspadai anggota Hoa Hao dan Cao Dai yang relatif memiliki pengalaman berpolitik di era Vietnam Selatan. Serta Katolik, yang dianggap mewakili kepentingan Barat.

Hanoi memang tidak secara terang-terangan memusuhi Islam dan komunitas Muslim. Namun sejak 1975, atau setelah Vietnam Selatan jatuh ke tangan komunis, Muslim tidak bisa lagi menjalankan ibadah haji. Atau menjalin kontak dengan saudara mereka di negara-negara Asia Tenggara. Nasib yang relatif berbeda diperlihatkan orang-orang Champa yang tinggal di Kamboja. Mereka, orang Champa di Kompong Cham dan Kompong Chnang di Kamboja Tengah, mampu membangun organisasi antar-desa yang memungkinkan mereka tidak tercerai-berai.

Kecuali di masa rejim Pol Pot, etnis Champa di Kamboja selalu aktif berpolitik. Saat ini mereka menempat wakilnya di parlemen setelah Partai Sam Rainsy yang didukungnya meraih sejumlah kursi. Bahkan, pemerintahan PM Hun Sen juga menunjuk Achmad Yahya -- etnis Champa -- sebagai Menlu Kamboja saat ini.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4krda-komunitas-muslim-di-negeri-para-dewa-ii

Baca selanjutnya...

Komunitas Muslim di Negeri Para Dewa (I)

REPUBLIKA.CO.ID,Tidak keliru jika J Willoughby -- dalam artikel The Champ Muslims of Indo-China -- menyebut komunitas Champa sebagai satu dari sekian banyak minoritas Muslim yang terabaikan dan terlupakan sejarah. Selama 600 tahun, terhitung sejak kekalahan dalam
Jika Anda berkunjung ke Ho Chi Minh City, dulu bernama Saigon, jangan kaget kalau menemukan sebuah Masjid Jami Cholon yang megah di Doang Du, Quan 1. Arsitekturnya campuran; Cina, India, dan Barat, dan dua menara menjulang di antara gedung-gedung tinggi. Hampir setiap hari, terutama pada waktu shalat magrib, masjid satu-satunya di Vietnam ini dipenuhi jamaahnya.
Tidak sulit pula menemukan Muslim di tengah lautan komunitas Annam. Mereka mudah dikenali lewat kopiah putih -- identitas yang membedakan mereka dari lainnya -- yang selalu dikenakan sehari-hari. Namun, sangat sulit mengetahui jumlah mereka. Dua situs yang dikelola Muslim Vietnam tidak menyebut angka pasti komunitas ini. Sedangkan Adherent.com, mengutip sejumlah sumber, memberikan angka beragam.

Rosemary Going dalam Larousse Dictionary of Beliefs & Religions memperkirakan populasi Muslim Vietnam tahun 1994 mendekati satu persen dari seluruh penduduk Vietnam. Sedangkan Gretchen Bratvold memperkirakan pada tahun yang sama hanya ada 180 ribu Muslim di antara 71,8 juta penduduk Vietnam.  Sumber lain, Muslim Population in Asia Pacific Region memperkirakan pada 1996 jumlah pemeluk agama Islam di Vietnam hanya 41 ribu. Tapi, menurut KF Bin Mohd Noor dalam Muslim Statistic.....for Year 2000 terdapat 531 ribu, atau 0,7 persen.

Tidak jelas angka mana yang mendekati kebenaran. Yang pasti, Muslim Vietnam dapat digolongkan ke dalam tiga kelompok menurut garis etnis. Pertama, orang-orang Champa. Kelompok ini merupakan mayoritas di antara Muslim Vietnam. Kedua, keturunan atau anak cucu dari perkawinan campuran Vietnam dengan pedagang Arab, India, Indonesia, Malaysia, dan Pakistan. Dua kelompok etnis ini terkonsentrasi di Ho Chi Minh City, dan sebagian di Vietnam tengah.

Ketiga, etnis lokal Vietnam yang berinteraksi dengan pedagang-pedagang Muslim. Mereka terkonsentrasi di desa Tan Bou, dan sebagian di propinsi Tan An.  Sebagai mayoritas, Champa merupakan komunitas inti di dalam masyarakat Muslim. Mereka memainkan peran signifikan dalam mempertahankan eksistensi Islam di Indochina. Namun, selama lebih 600 tahun mereka juga menjadi korban penindasan, pembantaian, dan tindakan rasialis yang dilakukan berbagai rejim di Vietnam.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/12/05/25/m4kra3-komunitas-muslim-di-negeri-para-dewa-i

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed