MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Makna Hardiknas

Hardikknas adalah hari yang bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena pada hari itu, mulai lahir apa itu yang namanya pendidikan. Meskipun rakyat Indonesia dulu baru mengenal proses belajar mengajar (sekolah) itu pada masa penjajahan Jepang tapi inilah awal dari kebangkitan bangsa Indonesia, yaitu melalui pendidikan.
Namun sangat disayangkan, pendidikan negara kita sekarang tertinggal jauh dari negara-negara lain. Sekarang anak-anak Indonesia banyak yang belajar di negeri orang, seperti: Amerika Serikat, Jerman, dan Malaysia. Padahal dulu bangsa Amerika, Jerman, dan Malaysia itu berguru dan mencari ilmu di Indonesia. Tapi kenapa sekarang zaman itu terbalik?

Seharusnya mulai sekarang pemerintah harus mulai berbenah tentang nasib pendidikan negara kita tercinta ini. Pemerintah harus bisa mengembalikan kejayaan Indonesia seperti dulu.

Negara kita adalah negara yang kaya akan segalanya. Tapi mengapa kita dan negara ini tidak maju-maju? Apa kekayaan negara ini dari negara berkembang menjadi negara maju? Pemerintah harus berbenah!

Baca selanjutnya...

Bapak Pendidikan Kita

Raden Mas Suwardi Soerjaningrat, (EYD: Suwardi Suryaningrat), sejak 1922 menjadi Ki Hajar Dewantara, EYD: Ki Hajar Dewantoro, lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889 dan juga meninggal di kota yang sama, di Yogyakarta, 26 April 1959 pada umur 69 tahun.

Beliau merupakan Menteri Pendidikan Nasional Indonesia kesatu. Masa jabatannya 2 September 1945 - 14 November 1945.

Tanggal lahirnya sekarang diperingati  sebagai Hari Pendidikan Nasional atau lebih sering disebut "HARDIKNAS". Bagian dari semboyan ciptaannya, "tut wuri handayani", menjadi slogan  kementrian pendidikan nasional Indonesia. Walaupun masa jabatan Beliau terbilang singkat, namun jasa beliau begitu besar karena merupakan orang pertama di Indonesia yang mau mengambil langkah untuk mengurusi pendidikan di Indonesia, ini salah satu bukti kalau pendidikan  itu sangatlah penting dan Beliau sangat peduli dengan pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu, untuk mengenang jas-jasa beliau, diperingati hari pendidikan nasional.

Baca selanjutnya...

Pentingnya Pendidikan

Ilmu, pendidikan, sangatlah penting untuk setiap orang. Tanpa ilmu manusia tak akan mengetahui apa ini, apa itu, dan yang lainnya. Dapat diibaratkan "manusia tanpa ilmu bagai nasi tanpa lauk". Mungkin jika makan dengan nasi saja tapi tak ada rasanya, begitu pula dengan ilmu, hidup akan tanpa rasa jika manusia tak berilmu. Saat ini pendidikan sangatlah diabaikan di Indonesia. Sebagian besar dari mereka lebih mementingkan uang daripada pendidikan. Sungguh ironis memang, anak-anak kecil yang seharusnya sekolah dan menikmati indahnya masa-masa bermain, kini mereka bergelandangan di jalan, mereka berlalu lalang di jalan saat lampu merah, menodohkan tangannya untuk mendapatkan belas kasihan orang. Orang tua mereka pun tak pernah berfikir bagaimana dengan pendidikan anak mereka, yang difikirkan hanya bagaimana untuk bisa hidup dan mempertahankan hidup.

Dunia telah dibutakan dengan uang, bahkan pendidikanpun terkalahkan olehnya. Namun, dalam hal yang negatif pendidikanpun dapat disalahgunakan. Sebagai contoh para pejabat-pejabat negara. Mereka memang orang yang berpendidikan tinggi, namun dengan kepandaiannya  itu mereka dapat dengan mudah mendapatkan uang dengan mengorupsi uang negara. Tak sembarang orang dapat menjadi pejabat negara. Hanya orang-orang yang berpendidikan yang terpilih.

Sebagai motivasi, kita dapat menjadikan Ki Hajar Dewantara sebagai teladan dalam hal pendidikan dalam hidup kita. Untuk itu, kita seharusnya dapat lebih menengok perjuangan  beliau sehingga kita dapat lebih termotivasi untuk melanjutkan perjuangan beliau di negeri tercinta ini.

Baca selanjutnya...

Hardiknas

Randi mendapat inspirasi dari tukang becak yang memakai pakaian daerah Jawa Tengah pada hari Kartini. Seminggu sebelum dan sesudah Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), ia ke sekolah memakai pakaian daerah.

Hari pertama, ia sempat menarik perhatian para murid tercengang. Tapi tidak ada yang berani bertanya, semuanya hanya senyum menganggap murid itu mau sok nyentrik. Guru-guru lain hanya pandang-pandangan. Mereka pikir Randi sedang berusaha untuk menarik perhatian. Tetapi ketika Randi terus memakai pakaian daerah  selama seminggu, kapala sekolah langsung memanggilnya. "Randi, apa sebenarnya misi kamu belajar dengan memakai pakaian daerah?."

Randi terkejut. Ia sendiri ketika pertama kali memakai pakian daerah merasa kikuk. Tapi setelah satu minggu, ia lupa itu pakian daerah. Ia menganggapnya sebagai pakaian biasa. Baru ketika kepala sekolah menegur, ia sadar kembali setelah memakai pakaian daerah. Dengan spontan Randi berkata "maaf Pak, saya tidak ada misi apa-apa. Saya hanya mencoba Hari Pendidikan Nasional, untuk mengingatkan kepada anak-anak betapa pentingnya pendidikan. Sebab kebanyakan mereka nampaknya sekolah karena terpaksa,"

Kepala sekolah    : "tapi kan Hari Pendidikan sudah lewat?"
Randi        : "betul  Pak"
Kepala sekolah    : "berapa lama kamu mau memakai pakaian daerah begini?"
Randi        : "ya kalau diperkenankan, untuk seterusnya pak"
Kepala sekolah terkejut, lalu berkata "tapi kamu kan sudah mempunyai seragam sekolah. Apa kamu tidak suka dengan seragam sekolah ini?"
Randi        : "sama sekali tidak Pak, saya suka dengan seragam sekolah ini"
Kepala sekolah    : "kalau begitu, saya minta supaya kamu kembali mengenakan seragam sekolah saja."

Namun apa yang terjadi keesokan harinya, Randi tetap memakai baju daerah seperti hari-hari kemarin. Dan Randi pun mendapat teguran lagi dari kepala sekolah, "saya kan sudah bilang, jangan memakai pakaian daerah lagi ketika ke sekolah" tegur kepala sekolah. Dengan sopan Randi menjawab "apa memakai pakaian daerah kalau sedang belajar itu membuat ilmu yang kita dapat jadi cacat?"
"Kalau kamu begini terus, sama saja kamu melanggar kedisiplinan sekolah ini" sentak kepala sekolah dengan wajah kesal.

Suasana tegang menyelimuti keadaan tersebut, dan setelah suasana reda kamudian kepala sekolah memberi sedikit himbauan, "anak-anakku semua, inilah contoh ketidakseimbangan pendidikan kita. Sekolah seyogyanya menumbuhkan kecerdasan dan sekalian kebijakan. Sehingga kita tidak perlu bertengkar karena hal-hal yang tidak perlu." Dan akhirnya keadaan kembali seperti yang dulu.

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed