MA Matholi'ul Huda Troso

MA Matholi'ul Huda Troso

Seorang web administrator, reporter, dan penulis berita di MA Matholi'ul Huda Troso.

Surel situs web: http://www.mamhtroso.com/

Uri Davis, Mualaf Pejuang Palestina

MAMHTROSO.COM -- Dia sudah terbiasa mengunjungi sinagoge. Setidaknya sekali dalam sepekan. Di sana, Uri dan keluarganya memanjatkan doa, mengutarakan harapan diri sendiri dan keluarga. Bersama penganut Yahudi lainnya, dia tenggelam dalam suasana religius.

Namanya Uri Davis. Lahir di Yerusalem pada 1943. Ketika itu, Palestina menjadi negara jajahan Inggris. Migrasi orang Yahudi ke Palestina selalu terjadi. Datang dengan kapal laut, pada mulanya mereka meramaikan daerah pesisir. Kemudian berjalan memasuki setiap sudut Palestina.

Bermodal dukungan negara Barat, sebagian dari mereka mendirikan pemerintahan dan bala tentara yang kemudian menginjak-injak dan membantai masyarakat pribumi Palestina. Di atas darah masyarakat Palestina, mereka mendeklarasikan Israel sebagai negara Yahudi.

Dalam suasana seperti itulah Uri Davis menjalani masa kecil. Baku hantam antara militer Israel dengan orang sipil Palestina bukanlah hal yang aneh.

Saking sering menyaksikan hal tersebut, Uri berpikir, bukankah ada hal lain yang lebih mulia? Di mana kebersamaan, kekeluargaan yang banyak ditemukan di belahan dunia lain? Mengapa itu tidak ada di Yerusalem, kota tempat dia tumbuh menjadi manusia dewasa.

Ayahnya bernama Joseph Stanley, seorang Yahudi Inggris yang bertemu ibunya, Blanca Bluhme Kacerova, seorang warga Slowakia, di British Mandatory Palestine pada pertengahan 1930-an. Sembilan tahun kemudian, mereka membangun rumah tangga. Empat tahun kemudian, mereka dikaruniai Uri yang makin mengikat asmara keduanya.

Meski menganut Yahudi, Uri tak setuju dengan zionisme. Yahudi dinilainya sebatas agama yang tidak perlu mendirikan negara. Tidak perlu membesar-besarkan zionisme yang mengakibatkan pertumpahan darah.

Tinggal di Israel, Uri terkena keharusan untuk mengikuti wajib militer. Ini sesuatu yang menurutnya membebani kehidupan. Sebab, usia muda seharusnya dimanfaatkan untuk menemukan terobosan, sehingga menjadi kebanggaan dan modal menunjukkan eksistensi. Saya berusaha untuk menolak, ceritanya, sebagaimana diberitakan the Guardian.

Seorang prajurit militer membawanya ke pinggiran, memisahkan Uri dari barisan pemuda. Dia dibawa mendekati pepohonan nan rindang. Apa yang kamu lihat di sini? tanya si prajurit. Uri menjawab "pepohonan". Lalu pemuda itu dibawa makin dalam memasuki hutan. Di sana mereka menemukan tumpukan batu-batu.

Si prajurit menjelaskan, batu-batu ini dipakai masyarakat setempat untuk menimpuki prajurit Israel. Tentara tadi ingin membakar amarah Uri agar menganggap orang Palestina sebagai musuh. Namun, itu tak terjadi. Ada alternatif.

"Kita bisa mengundang mereka dan saling berbagi. Ada harapan yang bisa kita upayakan untuk hidup bersama," ujar pemuda tersebut.

Namun, pendapat itu tak didengar. Meski terus membantah, Uri tetap harus mengikuti wajib militer. Wajib militer dijalaninya dengan kesal.

Ketika menjadi pemuda, dia bertemu dengan wanita Yahudi, Nira Yuval, di Yerusalem pada 1965. Keduanya sering bertemu dan menemukan kecocokan, sehingga melangsungkan pernikahan pada tahun yang sama.

Namun, mahligai asmara yang mereka bangun ternyata runtuh 10 tahun kemudian. Jurang perbedaan memisahkan keduanya. Ada perbedaan pendapat. Sedangkan keduanya bersikeras pada pendirian masing-masing. Perpisahan menjadi jalan yang mereka tempuh. Pada 1977, mereka resmi hidup sendiri-sendiri.

Meski baru bercerai, Uri begitu cepat mendapatkan penggantinya. Pada tahun yang sama, dia menikahi Tosje Maks di Zeist, wanita asal Belanda. Namun, lagi-lagi harus bercerai setelah hidup bersama selama 12 tahun.

Pada 1985, dia mengunjungi Oslo untuk bekerja. Di sana, dia bertemu dengan Sirkku Pajunen dan menikah dengannya. Namun, tetap saja ada ketidakcocokan. Setelah 21 tahun hidup bersama, akhirnya mereka berpisah juga.

Dua tahun setelah itu, Uri masih berupaya untuk menjadi kepala rumah tangga. Kali ini, dia memilih jalan yang berbeda, yaitu meninggalkan tradisi keagamaan yang sudah dijalaninya sejak kecil. Ya, dia meninggalkan keyakinan Yahudi yang sudah puluhan tahun dianutnya dan beralih ke Islam.

Bertempat di pengadilan agama Islam di Baka el-Garbiye, dia bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Resmilah dia menjadi seorang Muslim. "Saya memeluk Islam dan mengedepankan semangat toleransi untuk membangun kebersamaan," ujarnya.

Kemudian menikahi seorang wanita Palestina bernama Miyassar. Wanita aktivis Fatah itulah yang kini mewarnai kehidupannya. Namun, pernikahan ini membuatnya menghadapi berbagai tantangan. Dia harus berjuang dan berhadapan dengan Israel.

Setelah bergabung dengan Fatah, Uri memulai periode panjang pengasingan atas saran pengacaranya untuk menghindari jeratan hukum negeri Yahudi itu. Dia mengajar di sejumlah universitas di Inggris, termasuk Bradford, Exeter, dan Durham. Di sana, dia menghabiskan waktunya untuk penelitian dan studi akademik.

Pengacara Uri, Tawfiq Jabarin, menjelaskan bahwa Pemerintah Palestina mengenal Uri atas pengorbanannya yang besar untuk menegakkan hak asasi manusia. Dia mencatat, pernikahan keduanya adalah perkembangan sosial yang mengagumkan.

Sebab, keduanya berasal dari dua komunitas yang selama ini saling ber seberangan.

Jabarin mengatakan, pernikahannya dilakukan dengan sederhana sesuai adat Palestina. Sekitar 50 tamu menghadiri pesta pernikahan tersebut. Mereka menjadi saksi keseriusan Uri dan Miyassar menjalin asmara.

Dari tempatnya mengajar, Uri melancarkan pendapatnya, mengkritik Israel yang selama ini telah membantai masyarakat Palestina. Yang menjadi harapannya adalah kerukunan dan kebersamaan di negeri yang dulu dibebaskan Shalahuddin al-Ayyubi tersebut. Sehingga, perdamaian dunia menjadi kenyataan. (ed:erdy nasrul)

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/prdqwa415/uri-davis-mualaf-pejuang-palestina-part1

 

Baca selanjutnya...

Puasa dan Musafir

MAMHTROSO.COM -- Dalam sebuah kesempatan, Pak Enang, sopir yang biasa mengantar kami keluar kota bercerita tentang seorang ustaz yang tidak berpuasa Ramadhan dalam perjalanan. Menurut Pak Enang, perjalanan itu cukup ringan, yakni Bandung-Jakarta.

Ia berpendapat, rukhshah (keringanan) berpuasa itu ada dikarenakan pada masa lalu di zaman Rasulullah SAW, safar atau perjalanan itu cenderung berat dan menyulitkan. Karena merasa kuat, Pak Enang tetap berpuasa dan sang ustaz berbuka.

Secara syariat, safar di sini berarti meninggalkan tempat bermukim dengan niat menempuh perjalanan menuju suatu tempat.  Kata safar diambil dari bahasa Arab yang berarti tampak.

Disebut demikian karena ia menampakkan wajah asli dan akhlak seorang musafir. Seseorang yang bepergian dinamakan musafir. Musafir itu dikenali dari wajahnya, pakaiannya, dan bekalnya. Dan bepergian juga menyebabkannya dikenal banyak orang.

Ada banyak pendapat ulama dalam menentukan batas-batas safar. Namun, keumuman mengambil batas jarak safar seperti pendapat Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal yang mengatakan minimal berjarak empat burud atau 16 farsakh atau setara dengan 89 km atau tepatnya 88,704. (Kitab al-Fiqhul Islami, karya Dr Wahbah al-Zuhaili).

Namun, ada juga yang berpendapat, jaraknya sekitar tiga mil atau perjalanan tiga hari dengan unta. Namun, ketika tidak ada pembatasan jarak safar dalam syariat (nash), maka pembatasan safar kembali kepada 'urf (kebiasaan masyarakat).

Ibnu Qudamah dan yang lain berpendapat, batasan safar kembali pada 'urf.Pendapat ini dikuatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya al-'Allamah Ibnul Qayyim. (Al-Mughni, 2/542-543, Al-Majmu', 4/150, Majmu' Al-Fatawa, 24/21).

Sementara itu, rukhshah bermakna keringanan, kemudahan. Diperbolehkan bagi musafir untuk tidak berpuasa dalam keadaan safar. Sebagian sahabat pada masa Rasulullah SAW berpuasa dan sebagian lagi berbuka dan kedua golongan itu tidak menyimpang dari ajaran Nabi SAW.

Hamzah Aslami bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, aku merasa kuat untuk berpuasa dalam perjalanan. Salahkah aku apabila melakukannya?” Rasulullah SAW bersabda, “Itu adalah keringanan dari Allah Ta'ala. Barang siapa yang menerimanya, itu adalah baik, dan siapa yang masih berpuasa, maka tidak ada salahnya.” (HR Muslim, Fiqh Sunnah, karya Sayyid Sabiq). Lihat juga surah al-Baqarah [2]: 184.

Jika dalam keadaan safar, mana yang lebih utama, puasa atau berbuka? Para fuqaha berbeda pendapat. Imam Abu Hanifah, Syafi'i, dan Malik berpendapat puasa lebih utama bagi yang kuat melakukannya. Sedangkan berbuka lebih utama bagi orang yang tidak kuat berpuasa.

Menurut Imam Ahmad, berbuka lebih afdhol. Sedangkan Umar bin Abdul Aziz berkata, “Yang lebih afdhol adalah yang lebih mudah. Maka, orang yang lebih mudah baginya berpuasa ketika itu dan sulit baginya akan meng-qadha kemudian hari, maka lebih utama ia berpuasa.”

Pak Enang bercerita, dalam perjalanan itu sang ustaz kesulitan mencari restoran untuk berbuka. Hal ini dikarenakan tak ada pengelola restoran yang buka selama Ramadhan. Sang ustaz terpaksa turut menahan haus dan lapar.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prg4i8458/puasa-dan-musafir

Baca selanjutnya...

Puasa dan Kejernihan Jiwa

MAMHTROSO.COM -- Ramadhan merupakan oase di tengah degub kencang kehidupan. Pada Ramadhanlah umat Islam memiliki ruang jeda untuk melakukan tafakur, merefleksikan diri, dan mengendapkan batin.

Ibadah puasa sudah ada pada agama-agama terdahulu, yang kemudian disempurnakan dalam syariat Islam, pada abad kedua Hijriyah. Ibadah puasa memiliki sederet hikmah penting dalam kehidupan yang sesungguhnya. Puasa menjadi ibadah yang berdimensi zahir dan batin, yang meningkatkan kualitas fisik dan spiritual manusia.

Ibadah puasa mengantarkan kita menjadi pribadi yang sehat secara fisik dan matang spiritualitasnya. Ritual puasa memberi efek positif dalam tubuh manusia, setelah selama sebelas bulan organ-organ tubuh bekerja tanpa henti. Puasa juga mendorong lahirnya kekuatan mental, ketenangan jiwa, dan menumbuhkan pribadi mulia. Ketahanan fisik dan kematangan spiritual, merupakan prasyarat utama manusia sebagai pemimpin di muka bumi.

Puasa juga menjernihkan batin kita. Ibadah puasa yang dijalani akan meningkatkan kualitas kepribadian manusia. Ritual puasa yang dilakukan secara khusyuk dan ikhlas, akan meminggirkan amarah dan menghadirkan ketenangan berpikir. Hal ini, sesuai dengan hikmah puasa, yang berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, hanya akan menjadi pribadi yang egois, perusak alam, dan pengejar kekuasaan.

Pada prinsipnya, hawa nafsu diuraikan dalam tiga hal: Pertama, nafsu ghadabiyyah. Yakni, nafsu yang mendorong manusia untuk mengejar pangkat, kedudukan, atau ambisi. Misalnya, keinginan untuk memburu rumah mewah, mobil mahal, dan pangkat jabatan.

Kedua, nafsu syahwatiyyah yang menjadikan manusia gemar mengejar ambisi ataupun kenikmatan seperti mobil mewah, rumah megah, dan sebagainya. Mereka yang dapat mengendalikan nafsu, dengan menahan diri dari amarah dan syahwat akan menuai kebeningan batin dan kesejukan spiritual.

Pada titik inilah, manusia merasakan nafsu yang ketiga, nafsu muthmainnah. Yakni, nafsu yang lembut, menghadirkan ketenangan dan gelisah yang menggelayut dalam jiwa manusia.

Allah menjanjikan bagi orang-orang yang berhati lembut, dengan janji kemuliaan hidup. Mereka yang berhati tenang akan dicintai Allah dan dimasukkan dalam golongan yang dekat dengan-Nya. Janji surga merupakan balasan terhadap orang-orang yang beribadah karena cinta dan meraih kebeningan hati dalam tafakur sunyi.

Firman Allah, ”Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam Surga-Ku (QS al-Fajr, 27-28).

Manusia yang mencapai tingkatan thuma’ninah inilah yang layak menjadi pemimpin dan referensi sikap hidup. Ketenangan jiwa dan kejernihan berpikir mutlak diperlukan untuk memutuskan sikap dan mengeksekusi kebijakan. Ketegasan pemimpin tanpa dibarengi dengan kejernihan batin, hanya akan melahirkan konfrontasi, bukan produktivitas politik.

Memimpin tanpa dibarengi dengan nafs al-muthma’innah, hanya akan menjadi pribadi yang mengejar pangkat dan kekuasaan, bukan murni untuk kemaslahatan umat. Pemimpin yang berpoles citra, bukan berbekal kekuatan iman dan ketenangan jiwa, pada akhirnya akan terkubur oleh janji-janjinya.

Ketenangan jiwa juga akan menghindarkan manusia dari fitnah keji dan sikap yang zalim. Mereka yang mencapai maqam muthmainnah, tidak akan pernah melempar kampanye hitam dan menyebar kesesatan. Juga, tidak akan membabi-buta dalam mengampanyekan ide-ide dan calon pemimpinnya. Sebab, tidak ada yang sepenuhnya sempurna, kecuali Allah ‘Azza wa jalla.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prfzj9458/puasa-dan-kejernihan-jiwa

Baca selanjutnya...

Ramadhan, Bulan untuk Berjuang Mencari Keberkahan

MAMHTROSO.COM -- Memasuki bulan suci Ramadhan. Menurut banyak riwayat, Allah SWT kadang membanggakan hamba-Nya di hadapan para malaikat.

Allah berkehendak melakukan itu, tidak pada semua waktu, tidak di sembarang tempat, dan tidak kepada semua hamba. Satu hal yang pasti, semua hamba harus berjuang, bermujahadah (menahan hawa nafsu), dan berlatih memberi alasan bagi Allah agar Dia berkenan membanggakan kita.

Menurut sahabat Ubadah bin Shomit RA, pernah beberapa saat menjelang Ramadhan tiba, Rasulullah SAW mendatangi para sahabatnya. Kepada para hamba terbaik yang selalu dibanggakan oleh Rasulullah SAW itu, beliau menjelaskan tentang keutamaan (fadhilah) Ramadhan. Pada bulan ini, kata Rasulullah, Allah SWT menurunkan keberkahan hidup bagi orang-orang yang mencarinya.

Kita memahami bahwa sesungguhnya hidup yang paling baik itu adalah kehidupan yang mendatangkan berkah. Sebab, dengan keberkahan itu, manusia akan senantiasa hidup dalam ketenangan dan kedamaian.

Hidup yang bergelimang harta dan kemewahan, namun tidak ada keberkahan di dalamnya, sesungguhnya itulah kehidupan yang kering. Hidup penuh ilmu, tapi tidak berkah dan tak nafi' (manfaat), hal itu akan menjauhkan pemiliknya dari Allah.

Hidup dengan derajat tinggi di mata masyarakat, namun tidak berkah, hanya akan memperoleh kenistaan di hadapan Allah. Hidup dengan jabatan yang tinggi, namun tidak berkah, hanya akan mendapatkan laknat dari Allah. Karena itu, inti dari kehidupan yang baik adalah kehidupan yang penuh berkah.

Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pada Ramadhan, Allah akan menurunkan keberkahan yang tak terhingga. Selain karena berkah, hidup terbaik adalah yang disaput rahmat Allah. Hidup tanpa dibarengi rahmah (kasih dan sayang) Allah juga merupakan kehidupan yang kering.

Hidup yang diperoleh bukan karena rahmat Allah adalah kehidupan yang tak bermakna. Dan, hidup yang terbaik, selain karena diliputi keberkahan dan rahmat, juga karena Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Hidup bergelimang keberkahan, penuh rahmat, dan memperoleh pengampunan atas dosa-dosa bisa diusahakan semua Muslimin dan Muslimat. Hidup semacam ini, kita bisa memohon kepada Allah. Berharap agar permohonan lekas dikabulkan, caranya adalah dengan memanfaatkan datangnya Ramadhan yang penuh kemuliaan dan keberkahan ini.

Sebab, pada bulan inilah, semua hamba Allah, berlomba-lomba melakukan kebaikan, Allah kerap membanggakan itu di hadapan para malaikat.

Maka dari itu, marilah kita bermujahadah pada bulan ini untuk mencari kehidupan yang berkah, penuh rahmat, dan pengampunan atas dosa-dosa agar Allah punya ‘alasan’ membanggakan kita di hadapan para malaikat-malaikat-Nya.

Bukankah makhluk paling baik ibadah dan pengabdiannya kepada Allah adalah para malaikat?

Karena itu, Ramadhan ini harusnya menjadi tempat bagi kita untuk mencuci diri dari kerak dosa dan tempat bagi kita untuk mudik ke kampung halaman yang abadi, yakni Allah SWT. Wallahu a'lam.

https://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/prgb4w458/ramadhan-bulan-untuk-berjuang-mencari-keberkaha

 

Baca selanjutnya...
Berlangganan RSS feed