Troso, MAMHTROSO.com — Sebanyak kurang lebih 110 santri Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso mengikuti kegiatan Ziarah dan Rekreasi (Zarkasi) Tahun 2026, Ahad, 27 September 2026. Kegiatan ini menjadi salah satu agenda pembinaan santri yang memadukan wisata religi, pembelajaran sejarah, rekreasi, serta penguatan nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.
Lihat galeri kegiatannya – klik di sini.
Rombongan berangkat dari Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso pada pukul 06.30 WIB dengan menggunakan empat bus tanggung. Sejak pagi, para santri telah bersiap mengikuti perjalanan dengan penuh antusias. Rangkaian kegiatan dirancang tidak sekadar sebagai perjalanan wisata, tetapi juga sebagai sarana mengenalkan kepada santri jejak perjuangan para ulama, tokoh sejarah, serta peninggalan masa lalu yang memiliki nilai penting bagi perjalanan bangsa. Para santri tidak hanya melihat tempat-tempat bersejarah, tetapi juga diajak mengenal jejak para ulama dan tokoh masa lalu yang telah memberikan kontribusi bagi perkembangan Islam dan perjalanan masyarakat di Jawa.
Melalui kegiatan semacam ini, diharapkan para santri Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso semakin memiliki wawasan sejarah, kecintaan terhadap warisan budaya, semangat meneladani perjuangan ulama, serta ukhuwah yang semakin kuat di antara sesama santri.
Tujuan pertama adalah Makam Sultan Hadlirin di Mantingan, Jepara. Sultan Hadlirin merupakan tokoh penting dalam sejarah Jepara dan dikenal sebagai suami Ratu Kalinyamat. Kompleks makamnya berada di kawasan Masjid Mantingan, salah satu peninggalan penting perkembangan Islam di Jepara pada abad ke-16.
Perjalanan dilanjutkan menuju Makam Syekh Hasan Munadi di Nyatnyono, Ambarawa. Syekh Hasan Munadi dikenal dalam tradisi masyarakat sebagai salah satu ulama yang berperan dalam penyebaran Islam di wilayah tersebut. Kawasan Nyatnyono hingga kini menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kabupaten Semarang. Para santri mengikuti ziarah sekaligus mengenal sejarah dakwah Islam di wilayah Jawa Tengah.
Setelah ziarah, rombongan beristirahat dan menikmati makan bersama di Rumah Makan Bintangan. Suasana makan bersama menjadi momentum untuk memulihkan tenaga sekaligus mempererat kebersamaan dan ukhuwah antarsantri.
Selanjutnya, rombongan menuju Makam Mbah Mahfudz Salam di Ambarawa. Makam tersebut dikenal sebagai salah satu tempat yang dikunjungi masyarakat untuk berziarah dan mengenang sosok ulama yang menjadi bagian dari sejarah kehidupan keagamaan masyarakat setempat. Bagi para santri, ziarah ini menjadi kesempatan untuk mengambil keteladanan dari perjuangan dan pengabdian para ulama.
Destinasi terakhir adalah Fort Willem I Ambarawa, atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem. Benteng peninggalan kolonial Belanda ini dibangun pada abad ke-19 dan menjadi salah satu bangunan bersejarah di Ambarawa.
Kunjungan ke Fort Willem I menjadi bagian rekreasi sekaligus pembelajaran sejarah. Para santri dapat melihat secara langsung salah satu peninggalan masa kolonial yang menjadi saksi perjalanan sejarah kawasan Ambarawa.
Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, rombongan bertolak kembali menuju Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso dan tiba sekitar pukul 21.00 WIB.
Zarkasi 2026 tidak sekadar menjadi perjalanan wisata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran di luar kelas. Melalui ziarah, para santri diajak mengenang jasa para ulama; melalui kunjungan sejarah, mereka memperoleh wawasan tentang perjalanan masa lalu; sementara perjalanan bersama menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah, kebersamaan, dan kekompakan antarsantri.