TROSO, MAMHTROSO.com — Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H Tahun 2026, seluruh sivitas MTS–MA–Pondok Pesantren Matholi’ul Huda Troso mengikuti kegiatan pengajian dan pembacaan Maulid Nabi yang berlangsung di Gedung Serba Guna (GSG) Matholi’ul Huda Troso, Senin (23/8/2026) kemarin.
Lihat galeri kegiatannya – klik di sini
Kegiatan dimulai pada pukul 08.00 WIB dan diikuti oleh seluruh sivitas MTS–MA–Ponpes Matholi’ul Huda Troso. Acara dipandu oleh dua pembawa acara, yaitu Ahmad Fahmil Ilmi Ali (XII) dan Ikleil Kartika El ’Aish (IX).
Rangkaian kegiatan berlangsung khidmat dan penuh nuansa religius. Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut adalah Mauidzah Hasanah yang disampaikan oleh Ning Purwanti, S.Ag. Dalam tausiyahnya, Ning Purwanti mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun karakter dan akhlak yang mulia.
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Dalam penyampaiannya, Ning Purwanti menegaskan bahwa memperingati Maulid Nabi tidak cukup hanya dengan mengenang kelahiran Rasulullah SAW. Lebih dari itu, momentum Maulid harus menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus meneladani akhlak dan perilaku beliau.
Rasulullah SAW merupakan sosok yang menjadi teladan dalam berbagai aspek kehidupan. Kesabaran, kejujuran, kasih sayang, tanggung jawab, kepedulian terhadap sesama, serta keteguhan beliau dalam menyampaikan kebenaran merupakan nilai-nilai yang relevan untuk diterapkan oleh generasi muda.
Menurutnya, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW seharusnya tidak berhenti pada ucapan, tetapi diwujudkan melalui perubahan sikap. Seorang pelajar dapat meneladani Rasulullah dengan berkata jujur, menghormati guru dan orang tua, menjaga pergaulan, bertanggung jawab terhadap tugas, serta senantiasa berbuat baik kepada sesama.
Misi Kenabian: Menyempurnakan Akhlak
Salah satu pesan utama yang disampaikan adalah pentingnya akhlak dalam kehidupan seorang Muslim. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”
Hadis tersebut diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dan tercantum antara lain dalam Musnad Ahmad No. 8952, serta dalam Al-Adab Al-Mufrad karya Imam Al-Bukhari dan As-Sunan Al-Kubra karya Al-Baihaqi.
Pesan tersebut menunjukkan bahwa akhlak bukan sekadar pelengkap dalam kehidupan beragama, melainkan bagian penting dari misi Rasulullah SAW. Karena itu, generasi muda perlu menjadikan pembentukan karakter sebagai bagian dari perjalanan pendidikan.
Jahiliyah Bukan Sekadar Berarti Bodoh
Ning Purwanti juga mengajak peserta memahami kembali makna jahiliyah. Jahiliyah tidak semata-mata berarti kondisi ketika seseorang tidak memiliki pengetahuan atau kecerdasan. Dalam konteks sejarah Islam, jahiliyah lebih berkaitan dengan sikap mengingkari kebenaran, menolak petunjuk, serta mempertahankan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebenaran dan kemanusiaan.
Dengan demikian, seseorang yang memiliki ilmu dan kecerdasan sekalipun masih dapat terjebak dalam sikap jahiliyah apabila pengetahuan tersebut tidak membawanya kepada kebenaran dan akhlak yang baik.
Pesan ini menjadi sangat relevan bagi pelajar di era digital. Kemajuan teknologi dan banyaknya informasi tidak otomatis menjadikan seseorang bijaksana. Ilmu harus diiringi dengan iman, akhlak, kemampuan membedakan kebenaran dan kebatilan, serta tanggung jawab dalam menggunakan pengetahuan.
Empat Sifat Utama Rasulullah SAW
Dalam tausiyahnya, Ning Purwanti juga menguraikan empat sifat utama Rasulullah SAW yang penting untuk diteladani oleh para pelajar, yaitu Shidiq, Tabligh, Amanah, dan Fathanah.
Empat sifat Rasulullah SAW, yaitu Shidiq, Tabligh, Amanah, dan Fathanah, dapat diterapkan dalam kehidupan pelajar sehari-hari. Shidiq diwujudkan dengan tidak menyontek dan berani mengakui kesalahan; Tabligh dengan menyampaikan informasi yang benar serta tidak menyebarkan hoaks; Amanah dengan melaksanakan tugas sebagai siswa, pengurus kelas, maupun panitia dengan penuh tanggung jawab; sedangkan Fathanah diterapkan dengan menggunakan kecerdasan dan teknologi, termasuk AI, untuk membantu belajar serta menyelesaikan masalah secara bijaksana. Dengan menerapkan keempat sifat tersebut, siswa diharapkan tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak dan karakter yang baik.
Keempat sifat tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara moral dan spiritual.
Dilanjutkan Istighasah, Tahlil, dan Maulid Al-Barzanji
Setelah Mauidzah Hasanah, kegiatan dilanjutkan dengan Istighasah yang dipimpin oleh Nurul Auliya Hasanah (XII). Suasana semakin khidmat ketika rangkaian acara dilanjutkan dengan Tahlil yang dipimpin oleh Nihlatul Aulia (XII).
Selanjutnya, para peserta bersama-sama mengikuti pembacaan Maulid Al-Barzanji yang dipimpin oleh Ainul Yaqin dan rekan-rekan. Pembacaan Maulid berlangsung semakin semarak dengan iringan tim rebana/hadrah MTS–MA Matholi’ul Huda Troso.
Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Hj. Asri Jatmiko, S.Ag.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi mampu menjadi momentum bagi seluruh sivitas Matholi’ul Huda Troso untuk semakin mencintai Rasulullah SAW dan mengimplementasikan akhlak beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Meneladani Rasulullah berarti menghadirkan akhlak mulia dalam tindakan nyata: jujur dalam perkataan, amanah dalam tanggung jawab, cerdas dalam berpikir, serta senantiasa menyampaikan dan memperjuangkan kebaikan.
(Syah)